Majalah

Apa yang orang inginkan dari membeli seberkas majalah? Di jaman yang riuh dengan aneka jenis media informasi digital, majalah tak lagi menempati urutan pokok, tempat orang mengudap berita-berita. Ini juga terjadi pada koran.

Tak sekali dua, saya mendapati seseorang yang masih setia menekuni alinea-alinea pada kertas media massa cetak. Di halte-halte, saat matahari mulai bangun, dan jakarta dilecut kesibukan. Atau pada teras-teras rumah di kompleks hunian yang padat. Bisa jadi, jumlahnya tidak banyak. Namun, yang utama, masih ada yang melakukan itu. Makin mudahnya kepemilikan televisi serta perangkat komputasi mini, seperti telepon cerdas, tentu lebih menarik ketimbang membolak-balik halaman majalah.

Di sebuah toko buku, saya kembali terngiang pertanyaan itu. Di masa ini, buat apa orang membeli majalah? Barangkali, taraf kebutuhannya sudah bergeser. Tidak lagi bertujuan sengaja memiliki sumber acuan berita, untuk bahan referensi kabar terkini, tapi lebih kepada keinginan mengoleksi saja. Majalah seperti barang antik atau buku-buku novel. Yang bisa disimpan, lalu di baca pada waktu luang.

Jika memang itu yang sedang menggejala, maka mesti ada koreksi dalam siasat penyajian majalah. Desain visual media itu, harusnya lebih diperhatikan. Desain grafis, fotografi, tipografi dan tata letak menjadi salah satu prioritas yang jangan sampai lengah. Saat sesuatu dibutuhkan untuk menjadi barang koleksi, maka faktor perwajahan, desain visual, akan menjadi titik pandang utama.

Bukan mengecilkan peran teks. Justru wilayah naskah seyogyanya bisa dibentang lebih luas. Cara menulis, pembangunan sudut pandang dan ruang lingkup pembahasaanya, sebaiknya lebih komprehensif. Semakin membedakan diri dengan muatan koran. Layaknya buku-buku novel itu, menyuguhkan rangkai informasi yang bisa “bernuansa baru” dalam periode yang panjang.

Namun, barangkali juga saya salah sangka. Bahwa dugaaan-dugaan diatas, tentang motif orang membeli majalah, meleset sama sekali. Anggap saja, ini kegelisahan seorang desainer di media cetak. Sebab saya selalu tertantang untuk membuat ilustrasi sampul majalah yang khas pada majalah, tempat saya bekerja, setiap kali terbit. Dalam benak saya, yang tersembuh hanya satu tujuan : bagaimana majalah itu bisa nampang mandiri di rak-rak buku atau meja-meja, dengan tampilan tak menjenuhkan. Segar, di waktu kapanpun

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s