Dari Balik Kelir

Irama gamelan mulai mengalun. Perangkat-perangkat yang di tata pada pelataran lantai putih itu  mengeluarkan bunyi-bunyi menggugah. Kelir putih membentang, diterobos lampu sorot yang menggantung diatas tempat dalang duduk bersila. Banjaran wayang, gagah menancap pada gedebog pisang yang membujur. Merdu nyayi sinden membangun nuansa-nuansa mistik, berselang-seling dengan suara berat dalang, melantun nada-nada pembuka pagelaran. Liukan kidungnya berpadu dengan tetabuhan para nayaga yang menandai dimulainya pertunjukkan wayang kulit lampahan seno suci di pendopo Rumah Budaya EAN, Kadipiro, yogyakarta.

Sudah lama sekali, saya tidak menyaksikan pementasan wayang secara langsung, dalam jarak dekat. Ketika masih bocah, yang tinggal di kampung pesisir utara laut Jawa Tengah, memang beberapa kali saya menghadiri acara serupa. Tapi Itupun tak pernah sampai tuntas. Pergelaran yang lazim dimainkan semalam suntuk itu, selalu gagal saya ikuti dalam durasi penuh. Tubuh kecil saya, selalu kalah bertarung dengan kantuk, yang menyerang menjelang tengah malam.

Saat lakon dimulai, saya sengaja menyelinap ke belakang panggung. Memilih kursi yang nyaman, untuk merasakan denyut-denyut suasana perhelatan dari balik kelir. Beruntung, saya mendapatkan tempat duduk yang lurus dengan titik tengah layar. Pada jarak kurang dari lima meter, pandangan mata saya bisa lempeng menyaksikan drama-drama boneka kulit berukir dua dimensi yang dimainkan oleh dalang itu. Hanya ada tak lebih dari lima orang, yang duduk di sekitar saya. Diam pada posisinya masing-masing, sembari melekatkan tatapan pada bingkai kelir. Suasana temaram, dengan pencahayaan tipis, sisa pantulan dari lampu sorot panggung. Semerbak dupa menyengat, dibawa asap pipih yang melapis udara, menjadikan perasaan hanyut dalam aroma wingit.

Sudah lebih dari sepuluh menit pergelaran berjalan. Namun perhatian saya, malah terpecah untuk memikirkan hal lain. Adegan-adegan yang dimainkan dalang dalam bahasa jawa kuno itu, terlewat begitu saja. Benak saya terlempar pada kesibukan mengulas, transisi nuansa yang terbangun di ruang sebalik layar. Bila dirasakan dengan telaten, peralihan suasana itu merambat layaknya gradasi warna, menuju keadaan syahdu. Berbeda dengan hawa yang dirasakan, apabila melihat pertunjukkan dari arah depan sana. Cara menyaksikan seperti yang sudah lazim dilakukan, menghadap kelir dan dipunggungi dalang. Dari letak pandang itu, bisa dikatakan, seseorang akan menangkap kesan, bahwa  pagelaran tersebut hanya sebagai sebuah pertunjukkan hiburan atau kesenian belaka.

Impresi yang lain, bisa didapatkan bila menyaksikan pergelaran dari balik kelir. Dengan pemandangan yang terbatas, suara-suara gamelan yang terdengar lebih jernih dan tusukan wewangian dari dupa maupun kembang-kembang sesaji, memerangkap siapapun yang menonton dari arah tersebut, kedalam suasana mistis dan perenungan. Barangkali, pada bagian inilah pertunjukan wayang mempunyai dampak berbeda. Kesan yang didapatkan tidak lagi sebagai tontonan, namun telah bergeser menjadi tuntunan.

Keterbatasan jangkau visual, sebab mata hanya menangkap bayang-bayang yang mengambang di layar menjadikan faktor suara lebih dominan. Penonton di belakang layar, mau tak mau mesti menafsir sendiri lewat imajinasinya, tentang tokoh-tokoh yang dimainkan dalang. Sama seperti kesan yang didapatkan, apabila seseorang mendengarkan pagelaran wayang kulit melalui radio atau membaca teks-teks kisah mahabharata atau ramayana, sebagaimana yang kerap di mainkan dalam pertunjukan wayang tersebut. Ditambah dengan alunan irama gamelan yang diolah nayaga dan aroma harum sekitar membuat imajinasi kian terlecut, untuk lebih dalam menginterpretasi cerita, makna dan suasana yang tengah berjalan. Orang tenggelam dalam permenungan-permenungan terhadap dirinya sendiri, mengenai apa yang sedang dialaminya.

Bisa jadi, tarikan perasaan saya ini tak berlaku umum. Namun kecenderungan untuk berlaku instrospektif, apabila menyaksikan pagelaran wayang kulit dari balik layar, barangkali akan dirasakan merata, pada siapapun yang punya latar belakang hidup tradisi Jawa. Aroma, irama dan unsur-unsur pembentuk suasana yang lain, akan mengantarkan kepada tindakan introspektif itu.

Seperti malam itu, misi pertunjukkan yang dikhususkan untuk ritual ruwat, menjadikan suasana khidmat semakin tebal. Upacara spiritual yang lazim disebut dalam khasanah kebudayaan jawa untuk membersihkan diri. Menghancurkan segala keburukan dalam diri, agar kembali jernih batin dan pikirnya, demi meneruskan pengabdian kepada Tuhan, lewat kehidupan dunia. Pada acara ruwatan, kesan mistis terasa lebih kuat.  Unsur-unsur pembangun suasana, seperti  aroma wangi tercium yang lebih tajam dan kekhidmatan hadirin, akan menyeret pada situasi yang berbeda dengan pertunjukkan wayang biasa. Setidaknya, saya merasakan itu. Semangat-semangat perenungan dan penggalian diri, dorongan korektif, tiba-tiba membesar. Motivasi itu berdatangan, meletakkan saya seperti seorang terdakwa, yang sedang melakukan penilaian perilaku diri.

Mungkin ini hanya pengalaman personal yang bersifat subyektif dan tidak bisa digeneralisasi untuk pihak lain. Tapi, cobalah, kepada sampeyan yang punya kesempatan untuk menyaksikan pertunjukan wayang, terutama pada acara ruwatan. Silahkan dirasakan, suasana saat menyaksikannya dari balik layar, pada tempat temaram yang dipenuhi aroma harum. Seperti yang saya alami beberapa saat lalu, di Kadipiro. Siapa tahu kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s