Berita-berita

Tokoh utama dari hiruk-pikuk perayaan informasi di dunia kini adalah Guttenberg. Bisa dibilang begitu. Lelaki yang akrab dengan seluk-beluk logam dan berkebangsaan jerman itu, merintisnya dengan membuat mesin cetak generasi baru yang cepat dan berkemampuan produksi massal. Induk dari alat pengganda berbasis tinta dengan blok-blok replika aksara. Jika bukan karena penemuan itu, barangkali hari-hari ini, bisa dibayangkan, kita masih belum akrab dengan kertas-kertas berhuruf rapi maupun yang tersusun akrobatik, seperti surat kabar dan psoter-poster. Pada fase berikutnya, banjaran aksara yang memuat beragam muatan itu, menjelajah dunia sebagai berita-berita. Menyebarkan ide dan pertukaran warta, hingga berkembang biak menjadi industri informasi yang merajai tatanan peristiwa dunia.

Nyaris tiap saat, informasi hilir-mudik, bahkan cenderung hadir membombardir. Dengan perantara teknologi yang variatif dan kemudahan akses perolehan, menjadikan cara pandang hingga pola pikir orang, mengalami transformasi besar-besaran. Berita-berita di media massa, menjadi acuan pokok untuk mengenali sebuah kebenaran kejadian. Khalayak di kerubung oleh fakta-fakta produk media massa, yang dihasilkan dari pengamatan para awaknya. Keabsahannya tidak lagi ditentukan dengan kejelasan data dan prespektif yang plural. Namun lebih bersifat subyektif, sesuai versi misi perusahaan media massa itu. Karakter konten dan kiblat tilikan didalamnya, mesti menyesuaikan dengan selera mereka. Bahkan, pengertian kebenaran informasipun kian bergeser. Ukurannnya berdasar klaim kebesaran pangsa pasar media itu, jumlah iklannya, kuantitas oplahnya dan kemegahan korporasinya. Jika yang menyampaikan fakta-fakta adalah media massa yang memiliki kekuatan modal besar, maka warta apapun akan diasumsikan benar. Sebaliknya, bila yang menyalurkan kabar adalah media kecil, maka keabsahannya patut dipertanyakan.

Beginilah bentuk peradaban informasi yang sekarang sedang terselenggara itu. Pertarungan modal penggerak industri media, tengah berkecamuk. Tentu saja, pemenangnya adalah kubu yang memiliki kekuatan modal besar. Mereka yang seakan-akan memiliki otoritas untuk membingkai sebuah peristiwa, mengajukan cara pandangnya, lalu menjaring perhatian khalayak. Manusia-manusia adalah pasar yang diasup oleh sodoran informasi yang sudah diproses sedemikian rupa.

Media massa yang mendominasi pasar, mempunyai wewenang untuk memotret apapun. Juga untuk mengangkat sosok-sosok atau kelompok tertentu yang telah mereka pilih, demi dijadikan pahlawan atau bahkan musuh bersama. Langkah ini diperlukan, untuk mengarahkan kecenderungan. Seperti pengendali angin, media massa adalah penentu gerak hembus, akan kemana sepoi-sepoi itu. Mengolah isu bersama pelaku-pelakunya, kemudian dikemas dalam kardus yang apik, sesuai karakter dan tujuan politik-ekonomi media tersebut.

Jika diamati, strategi media itu bukanlah sesuatu yang baru. Rangkai siasat tersebut, hanyalah memanfaatkan sifat-sifat dasar manusia, yang memungkinkan untuk dikendalikan pihak lain, yaitu hasrat ingin berpihak dan keinginan untuk disetujui. Sebagai pembaca juga penonton tayangan berita, seseorang dibebaskan untuk memilih topik-topik. Saat pilihan itu diproses, kemudian ditentukan, kedua hasrat tadi langsung bekerja. Mereka akan merapat kepada informasi yang punya kesesuaian kepentingan, nilai dan arti dengan dirinya. Tidak bersebrangan serius dengan rimbun pengalaman yang sudah tersimpan di benak. Sebab bacaan atau tontonan, menjadi semacam penyumbat, bagi lubang-lubang kebutuhan pengetahuan, kebutuhan inspirasional dari manusia. Maka pembaca atau penonton ingin di afirmasi kehendak serta keyakinannya lewat teks-teks yang dibacanya, atau visual, baik bergerak ataupun mandeg, yang ditontonnya.

Oleh industri media, keinginan tersebut dijawab. Segera dibingkaikan wacana-wacana yang searus dengan kehendak dasar itu. Bongkah informasi dibelah penyifatannya. Yang satu adalah jenis yang sesuai dengan minat ideal positif, menawarkan implikasi dan deskripsi tentang kenyamanan, keberhasilan, keberanian, tanggung jawab dan semacamnya. Sedang bongkah yang lain, diukir sebaliknya. Pola semacam ini berjalan terus-menerus, sehingga terpatri pemahaman juga gambaran yang ajeg, tentang nilai-nilai ideal. Sesuatu disebut benar jika mengandung unsur begini, seseorang dianggap baik, jika memiliki unsur begitu. Pabrik informasi dan industri penyokongnya, terus memberondong definisi-definisi buatan mereka itu, hingga merasuk dalam sistem kesadaran orang banyak.

Lambat laun, pembaca atau penonton tak perlu repot-repot memilih lagi. Dengan baik hati, media massa akan memilihkan berita apa yang kira-kira dibutuhkan. Para pengudap informasi sendiri, sudah terlanjur terpuaskan dan tergantung pada pasokan berita dari media massa. Rasa keingintahuan dan hasrat keberpihakannya telah memperoleh ruang jawab. Kondisi ini menjadikan media massa bagaikan penguasa, yang setia mengumpan keinginan khalayak. Produsen berita itu tampil layaknya penata musim dan pencipta kecenderungan pikiran. Dengan mudah, mereka bisa menyetir jalan pikiran orang, dalam merespon kejadian. Dari soal sepakbola, korupsi, arisan pemilukada, baju untuk kondangan sampai bagaimana mengalami orgasme berulang-ulang saat hubungan intim suami-istri. Apa saja disajikan, dengan kemasan-kemasan yang apik. Tapi jangan pernah mempertanyakan keabsahan konten. Sebab, pada fase ini, kesahihan isi sudah nyaris diabaikan. Apalagi jika yang mengusung rombongan informasi itu adalah lembaga media massa dengan kekuatan modal berlimpah.

Berita-berita berseliweran tiap hari, menyerobot situasi batin orang-orang yang membaca atau menonton tayangannya. Sepertinya, segala yang terlintas dalam batok pemikiran banyak orang di Indonesia belakangan ini, tentang isu-isu politik-ekonomi-gaya hidup lokal hingga nasional, tak jauh-jauh dari wacana yang sedang di gelontorkan media. Duduklah di warung kopi, lemparkan satu saja informasi umum bertopik apapun, entah mengenai korupsi atau jenis diet makanan, kisarannya akan dekat dengan apa yang pernah media tuturkan. Hampir bisa disimpulkan, hal-hal yang bergejolak di pikiran orang-orang Indonesia hari-hari ini, pemantiknya adalah informasi-informasi yang didapatnya dari media massa.

Pemotretan sosok-sosok tertentu, sebagai bandul untuk mengarahkan kecenderungan keberpihakan juga dilakukan. Ini merupakan ikhtiar yang cocok, untuk membalas kerinduan orang tentang figur yang unggul dan sempurna. Saat negeri ini sedang goncang kepercayaan terhadap karakter pemimpin, persona acuan yang kamil adalah hal yang didambakan. Media massa memilih figur-figur itu dari kriteria-kriteria yang mereka tetapkan sendiri. Mengangkat citranya dalam frekuensi yang padat, hingga tenar ke segala penjuru. Demikian pula dengan pembingkaian perilaku seseorang atau kelompok yang dijuluki “musuh bersama”. Layaknya sandiwara, mesti ada kubu yang diangkat mengenakan peran antagonis. Supaya kisah yang tergelar mengandung aspek yang lengkap. Musuh bersama diperlukan untuk menajamkan opini dan memantik penyatuan pendapat. Jika ada yang dibenarkan, mesti ada yang patut disalahkan.

Pada dasarnya, mengudap teks atau visual berita dari beragam jenis media massa, adalah mengikatkan diri kepada arah angin media itu. Bahkan, ketika seseorang menolak haluan konten media tertentupun, dia akan bergegas mencari referensi lain untuk menyokong keyakinannya. Memindahkan perhatiannya pada media lain yang sepakat dengan pendapatnya atau mengusung isi yang mengafirmasi opininya.

Pembaca yang sungguh-sungguh obyektif adalah ilusi, kata Terence Francis Eagleton, seorang pemerhati sastra, yang menulis buku Literary theory. Pembaca atau penonton berita, menjadi semacam pengudap makanan, di sebuah meja saji yang panjang. Aneka jenis hidangan ada di sana. Meskipun tidak ada paksaan untuk memilih, mana yang hendak disantap, tetapi para koki di dapur, telah membatasi selera, hanya yang sesuai dengan cita rasa mereka. Begitu juga dengan konten media massa. Obyektifitas isi hanyalah solekan manis yang tidak benar-benar pernah tercapai. Setiap kelompok penerbitan punya misi dan kepentingan dagang. Tinggal khalayak yang harus cerdas memilah dan meneliti, sebab ada berita sebelum berita, terdapat latar belakang sebelum pertunjukkan dipentaskan. Kebenaran yang dihadirkan media massa itu berlapis dan berliku. Serupa labirin yang kerap membuat orang tersesat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s