Irama

Anak-anak itu tercenung rapi. Duduk bersila, khidmat mendengar ibu gurunya, yang mulai membacakan cerita untuk mereka. Ruang kelas yang tadinya gaduh, berangsur hening. Dengan nada halus dan irama mengayun, perempuan yang memegang sebuah buku tebal berisi kumpulan kisah itu, menghantarkan nalar siswa taman kanak-kanak asuhannya, kepada alam dongeng yang serba elok. Nyala semangat anak-anak itu meletup-letup, saat diperdengarkan tutur dongeng. Rupanya sajian itu mengalahkan keinginan mereka untuk bermain dengan hal-hal lain.

Rentet adegan tadi, menarik perhatian saya. Untuk sebuah urusan, hari itu saya sedang mengunjungi seorang kawan lama yang menjabat kepala sekolah di Taman Kanak-kanak tersebut. Tanpa sengaja, usai pertemuan, saya melintas di depan kelas mereka. Lalu melihat betapa menggebunya anak-anak itu, hingga rela mendekatkan duduknya ke arah ibu guru. Sekadar meringkas jarak, agar suara lirih dari dongeng yang dituturkan, bisa ditangkap telinga. Saya kemudian berhenti beberapa jenak, untuk memperhatikan gerak-gerik para bocah itu.

Barangkali, minat anak-anak kecil tadi, tumbuh karena mereka telah mengakrabi, bahwa ibu gurunya adalah seorang yang pandai bercerita. Motivasi itu lantas membuat antusiasme mereka beranjak naik. Mungkin, akan lain ceritanya bila mereka diminta untuk membaca sendiri buku dongeng itu. Tapi anak-anak itu, saya kira belum lancar mengeja tulisan. Sehingga besar kemungkinan mereka belum betah menghadapkan mata pada jajaran aksara yang berbaris dipermukaan kertas.

Suara guru itu melantun. Memperdengarkan adegan-adegan cerita sebagaimana yang tercantum dalam buku yang dipegangnya. Anak-anak hanyut bersama khayalan yang mereka bangun di benak masing-masing. Irama tutur yang mengalir dari mulut guru, layaknya deraian angin yang menerbangkan pikiran kanak-kanak itu ke dunia fantasi mereka inginkan. Kekuatan irama tutur yang menjelmakan teks ke dalam bentuk yang lentur dan cair.

Nada-nada pelisanan terhadap teks, kuat mempengaruhi pengendalian imajinasi. Setiap kepala, seakan diberi kebebasan angan, untuk menggambarkan apa yang didengar. Benak anak-anak itu akan segera memungut bayangan tertentu, berupa simbol-simbol, begitu kalimat-kalimat dalam dongeng tadi dipahaminya. Jika di dalam tutur guru terdapat istilah-istilah yang sudah akrab didengar – misalnya : Istana, kuda, putri, pedang, bunga dan sebagainya – pikiran mereka akan segera memunculkan gambar-gambar yang selaras dengan kata-kata yang dimaksud. Namun, bila tertangkap istilah yang belum dikenal, pikiran akan cenderung mencetak gambaran yang disinyalir dekat dengan maksud istilah itu. Referensi visual dalam benak tersebut, tentu akan bergantung pada pengalaman masing-masing. Tapi, hal yang penting adalah, irama merupakan pemantik yang manjur serta cepat, untuk mengemudikan imajinasi.

Lazimnya, manusia adalah makhluk yang lekat dengan irama-irama. Bila diamati rinci, semua jenis gerak serta tindakannya, tak bisa lepas dari unsur tersebut. Mulai bicara hingga berlari. Bahkan tidurpun –situasi dimana keinsafan pokok manusia diistirahatkan- merupakan aktifitas yang diatur irama. Cara berfungsinya komponen-komponen tubuh itu tidak bisa lepas dari tempo yang sudah menyatu dalam sistem kesadaran. Kondisi yang alamiah ini menyebabkan orang mudah terpikat dengan apapun yang memiliki kesamaan persepsi tentang irama dengannya. Misalnya, dengan gampang dan nyaman, orang akan memetik kenangan dalam ruang pikirannya, ketika mendengar alunan musik atau lagu tertentu dimana orang tersebut pernah terlibat dengan karakter nadanya.

Secara sederhana, irama diartikan sebagai simpul-simpul masa diam yang terdapat dalam rangkaian gerak. Atau sebaliknya. Rangkaian gerakan yang diselingi oleh jeda-jeda atau masa diam. Keindahan dibangun dari penyelarasan atas keduanya. Gerak dan jeda adalah seperangkat unsur yang membentuk pola, sehingga sebuah aksi diapresiasi positif atau negatif. Irama berlaku sebagai pelecut respon. Penilaian bahwa sesuatu itu indah atau buruk, didasarkan atas reaksi terhadap irama. Anggapan bahwa seseorang dikatakan marah, ketus atau hangat dalam bersapa, juga dilandaskan oleh itu. Peristiwa animo anak-anak yang besar terhadap dongeng yang dibacakan gurunya, adalah bentuk dari respon positif mereka terhadap irama wicara guru itu. Terbit kenyamanan dalam diri mereka, saat mendengar pembacaan dengan irama yang karakternya sudah dikenal. Mereka merasa tenteram ketika mengikuti kisah, bila dibungkus dengan irama tutur seperti yang guru itu alirkan.

Tak ubahnya sebuah kemasan. Irama adalah lembaran cara komunikasi, yang membalut nuansa tekstual menjadi lebih ramah. Membungkus informasi-informasi agar mudah diterima pada kalangan-kalangan tertentu, sesuai arah targetnya. Bagaimanapun, teks pada dasarnya bersifat memaksa. Saat membaca, orang ditantang untuk patuh atau berontak. Demikian juga kala menulis. Pikiran didesak agar taat gagasan. Tapi, teks adalah alat transformasi yang susah tergantikan. Bagaimana menyalurkan padatan-padatan informasi dari zaman ke zaman, secara rapi. Cara yang kemudian banyak dipilih untuk melenturkan perangai teks yang kaku dan galak itu, adalah dengan menyusupkan irama besertanya. Mendendangkan teks atau mengkonversinya pada bentuk tutur yang ramah dengar. Disinyalir, cara ini lebih menyiratkan keluwesan dalam penerimaan informasi. Disinilah awal kelahiran puisi, tembang juga dongeng.

Suasana batin yang dialami anak-anak itu, barangkali adalah keteduhan. Sama seperti bayi yang menangis, kemudian dihibur ibunya dengan senandung yang spontan. Bisa jadi, tanpa konten yang jelaspun, irama sudah sanggup menghanyutkan pikiran. Layaknya laki-laki yang bengong, ketika ngobrol dengan seorang gadis cantik yang dipujanya. Keterpukauan dan kenyamanan, menyebabkan orang cenderung mengabaikan konten. Fenomena ini juga bisa ditemui di tembang-tembang dolanan anak. Permainan rima dan suasana keceriaan yang disertakannya, lebih membawa anak-anak pada pengenalan nuansa daripada bujukan untuk mengerti maksud konten. Mungkin, inilah uniknya irama. Pada fase tertentu, saat sudah berhasil menyelimuti teks, dia akan menawarkan hal-hal yang lebih abstrak dengan tafsir yang lebih individualistik, yaitu nuansa. Sebab teks, menyuguhkan ajakan untuk menafsir sesuatu secara kolektif. Huruf-huruf yang berjajar dan membentuk kalimat itu, akan mengikat siapapun yang membaca, ke dalam imaji yang diinginkan oleh teks itu. Namun bila teks terebut dibacakan, didendangkan atau dituturkan, ada perubahan signifikan yang terjadi. Ikatan-ikatan menjadi longgar. Daya interpretasi pendengar bisa terbang lebih leluasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s