Prihatin

Terdapat petuah yang memiliki kesamaan maksud, di kalangan orang-orang tua, untuk anaknya-anaknya saat berada pada masa-masa sekolah. Pesan tersebut berkisar pada keinginan agar anak-anak itu menjalani hidup prihatin, ketika sedang mengais pengetahuan. Nasehat yang terus berdengung hingga kini.  Sayapun mendapatkan yang demikian. Meski sewaktu mendengar istilah prihatin, saya tidak mudeng artinya. Yang terbayang dalam anggapan saya, arti dari terma bahasa jawa itu adalah hidup berhemat dan efisien. Baik untuk soal penggunaan waktu maupun uang. Di kemudian hari, sedikit demi sedikit, saya mulai mengerti, bahwa makna prihatin, lebih dari apa yang saya sangka.

Tradisi tulis dan tutur Jawa, lekat dengan permainan-permainan kata. Diantaranya adalah kérata basa atau sering disebut pula sebagai jarwa dhosok. Sebuah kata bisa dilukar pada bentuk yang lebih panjang. Dipecah menjadi pola tertentu, dengan mengulur suku-suku kata pembentuk menjadi kata baru. Layaknya memanjangkan akronim. Susunan hasil olahan itu, lantas dijadikan pedoman untuk menjelaskan arti dari kata bersangkutan. Cara unik untuk mendapatkan makna dari suatu kata. Istilah Prihatin, juga bisa dimengerti lewat metode itu. Tidak sedikit orang yang memanjangkan kata prihatin, demi mendapatkan artinya, menjadi perih ing batin. Terjemahan Bahasa Indonesianya adalah Perih dalam Batin.

Bila ditelusur lebih lanjut, maksud dari perih ing batin itu tak jauh dari sikap-sikap untuk mengkondisikan hasrat dalam diri pada ukuran yang minimal. Membatasi kehendak-kehendak dengan pagar-pagar kepantasan. Tidak berlebih-lebihan atau bertindak melampiaskan keinginan. Meskipun, parameternya terkesan abstrak, subyektif dan susah ditentukan dalam tanda-tanda material. Karena setiap orang punya level kebutuhan yang berbeda-beda. Ini adalah karakteristik dari budaya spiritual dimanapun. Kegamangan takaran, terjadi pada tingkat konsep. Namun, jika ditelisik lagi, ternyata kultur-kultur yang memiliki sifat demikian, akan menyediakan ukuran jelas, ketika konsep-konsep itu diejawantahkan pada tingkatan teknis. Maka, untuk memahami sepenuhnya apa makna prihatin itu, orang diminta untuk mengerjakan laku-laku yang menjurus kepada intisari maksud dari ide tersebut. Misalnya, puasa dengan berbagai ragam bentuknya. Bukan Cuma urusan menahan lapar, tapi juga mengendalikan kehendak-kehendak yang tidak menempati prioritas utama kebutuhan.

Pada perkembangannya, laku-laku prihatin tadi, akan membiasakan seseorang untuk berada dalam situasi yang minimal. Bukan berarti, saat menjalani keadaan minimal itu seseorang diminta menyakiti diri sendiri atau menyengsarakan diri. Sementara orang, keliru memahami laku prihatin, lalu mendekatkannya dengan konsep masokisme. Dalam ranah psikologi, masokisme diartikan sebagai kesenangan yang berasal dari rasa sakit fisik atau psikologis yang ditimbulkan pada diri sendiri baik oleh diri sendiri atau orang lain. Terdapat perbedaan substansial antara prihatin dan masokisme. Seorang yang prihatin, diminta untuk tidak menumpahkan hasratnya secara berlebihan. Menjalani konsep prihatin, layaknya memasuki wahana latihan untuk memahami takaran dirinya. Memanfaatkan fasilitas dengan efisien dan situasional. Layaknya seorang yang berpuasa. Dia berlatih untuk mengetahui batas lapar, dahaga, kenyang, sedih maupun marah, yang sesuai dengan kondisi fisik serta psikologisnya. Setelah memahami ukuran-ukuran diri itu, sistem kesadaran akan mencetaknya menjadi pedoman-pedoman, yang otomatis mengingatkan apabila terlanggar. Bekerja layaknya alarm asap, yang melengking saat mengendus potensi kebakaran.

Pada keadaan minimal, orang cenderung sensitif. Kepekaannya berlipat dalam mencium potensi. Rangsangan-rangsangan yang dipasok indera dari keadaan-keadaan yang sedang berlangsung, berjalan cepat direspon otak. Ini juga berlaku pada proses mengingat. Memori, akan lebih mudah mengukuhkan sesuatu yang dirasa menyakitkan ketimbang yang menyenangkan. Apalagi bila penderitaan yang dijalani sudah akut dan memantik putus asa. Ingatan akan merekamnya kuat. Kondisi minimal yang dituju oleh laku prihatin, berupaya menjangkau kepekaan itu. Agar sensitifitas bekerja optimal, melatih kepekaan ingatan, pengendusan potensi, agar pengetahuan atau kesadaran apapun mengenai diri dan lingkungan bisa terserap dengan mudah. Laku prihatin, menjadi semacam penyiapan wahana, bagi seseorang untuk hadirnya pengetahuan baru. Idealnya, seorang yang pelajar, akan menyediakan itu, layaknya ruang yang sudah dibersihkan, agar perabot-perabot anyar bisa menempati tiap jengkal sudutnya, tertata hingga tampil indah.

Bisa jadi, tujuan seperti itulah yang diinginkan orang-orang tua bagi anak-anaknya yang sedang menjalani usia sekolah. Tak putus-putus, mereka menabur pengarahan, agar anak-anaknya prihatin saat menuntut ilmu. Barangkali, kearifan yang dialirkan turun-menurun itu sudah memahami, bahwa dalam masa belajar, satu unsur yang penting dikelola adalah sensitifitas. Sebab dengan kepekaan, orang akan mudah mengenali paradoks, mengetahui ketimpangan-ketimpangan serta masalah. Baik dalam dirinya maupun lingkungan sekitar.  Untuk selanjutnya diproses menjadi ilmu setelah melewati observasi dan eksperimen dalam pengalaman-pengalaman pribadi maupun sosialnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s