Lelayu

Bendera kuning terikat pada sebatang pohon akasia di ujung gang. Bau wangi dari bunga-bunga campur-baur, semerbak mengalir lewat udara. Sayup-sayup terdengar suara orang mengaji. Menyusup diantara hening dan bisik-bisik orang-orang yang memasuki jalan sempit itu. Pagi dibuka dengan kabar duka. Seorang warga meninggal dunia. Beberapa menit sebelum adzan subuh di hari itu, empat larik pesan singkat, mampir ke ponsel saya. Mengabarkan berita kematian yang menimpa salah satu tetangga. Sungguh berita yang tak pernah nyaman diterima, apabila menyangkut perihal itu.

Di bumi ini, satu peristiwa besar yang mengusik setiap kebahagiaan, menganggu perasaan ceria, adalah kematian. Keterputusan yang sesungguhnya dengan segala konsep tentang kenikmatan, pun penderitaan dunia. Topik-topik pembicaraan mengenai itu, kebanyakan dihindari. Kalaupun ada, motif muatannya akan cenderung kontemplatif. Barangkali karena orang enggan mengulas sesuatu yang memiliki misteri pekat. Mungkin juga karena capek. Sebab membahas perkara yang absurditasnya berlapis-lapis itu melelahkan. Atau, bisa juga pasal takut. Karena tidak ada yang pernah tahu pasti, apa yang terjadi setelah maut menjemput. Begitupun dengan rasa yang menjalar tubuh ketika kematian itu terjadi. Informasi tentang kisah setelah mati, atau apa yang berlangsung besertanya, tidak bisa diverifikasi. Siapa yang hendak dikonfirmasi? Sebab yang meninggal tak bisa pulang lagi, lantas bercerita dalam kesadaran yang lazim, tentang apa yang terjadi padanya dan bagaimana pemandangan disana. Landasannya adalah keyakinan per individu, berdasar jangkauan pengalaman spiritualitas dari ranah dan wacana keghaiban yang bersifat personal. Baik pengetahuan yang didapatkan melalui sumber-sumber agama, maupun penyaksian atas peristiwa tersebut yang menimpa pihak lain. Maka, yakin saja sudah cukup. Sambil tetap melancarkan kebaikan-kebaikan, sebagaimana yang kerap dituturkan dalam nasehat-nasehat luhur, tentang bagaimana membekali diri sebelum mati.

Saya memilih duduk menjauh dari kerumunan. Membawa kursi pada salah satu sudut halaman. Termenung menyaksikan aneka rupa kesedihan dari sana. Beberapa anggota keluarga nampak tersedu. Wajah-wajah mereka kusam, dengan bekas tangisan menempel di kelopak mata. Kehilangan memang menyakitkan. Rasa apapun yang berkaitan dengan perpisahan tak ada yang enak. Barangkali, karena sejatinya manusia itu memiliki hasrat yang kuat untuk menyatu, nyawiji. Maka terhadap apa saja yang kemudian disebut sebagai kepemilikan, orang cenderung menjaga kuat-kuat agar tidak terenggut. Jika ada semboyan yang berbunyi “Berani memiliki, berani kehilangan”, saya pikir itu hanyalah himbauan ideal. Cara tradisi untuk membangun motivasi optimistis, meskipun aromanya naif. Karena lumrahnya, ketika orang sudah merasa memiliki sesuatu, ia cenderung tak rela untuk terputus darinya. Sesuatu yang sudah menyatu, serupa benda-benda yang ditempel dengan perekat. Perpisahan terhadap itu, akan menimbulkan dampak kerusakan yang relatif menggurat. Bagi manusia, imbas keterpisahan akan hal-hal yang dicintainya adalah rasa sakit, getir, gundah, nelangsa, dan semacamnya.

Kerapkali saya beranggapan, bahwa menghibur mereka yang sedang meratapi kehilangan, adalah usaha tidak gampang. Bahkan mungkin juga, cenderung sia-sia. Kalimat pelipur lara yang diucapkan, lebih didasari atas pertimbangan-pertimbangan etiket pergaulan. Sebab secara naluriah, orang semua sadar, bahwa obat paling manjur dari sebuah rasa kehilangan adalah dikembalikannya apa yang hilang itu. Pereda hati yang merana karena perpisahan, adalah bersatu ulang. Namun hidup bersama butuh perangkat tutur dan sapa penyampai rasa. Bahasa-bahasa untuk menyambangi situasi batin orang lain, mengulurkan simpati. Orang yang sedih, sangat peka. Kehendak dasar meraka adalah ditemani. Ingin orang lain turut menangis bersamanya. Boleh jadi, saat berada dalam situasi seperti itu, tertawa terkekeh-kekeh, bisa diartikan sebagai bentuk penghinaan. Memantik ketersingguan hati orang yang sedang dirundung sedih, saking sensitifnya. Sama seperti orang yang jatuh dari puncak kekuasaan atau popularitas, lalu teronggok didalam kesunyian. Menyangga rasa kehilangan, perpisahan ataupun perpecahan itu berat. Layaknya menahan pilar rumah yang hendak roboh. Seakan-akan, ketika sendirian, orang tak kuat. Butuh bantuan energi lain untuk menahannya, supaya beban itu tidak ambruk meluluhlantakkan.

Menjelang siang, para pelayat bersiap untuk mengiringi jenazah ke pemakaman umum di tepi luar kampung. Hawa haru mendesir-desir, seiring hembusan angin musim penghujan yang lembab. Kala kematian benar-benar kentara sebagai peristiwa yang tak terelakkan. Tubuh kaku dan dingin, kehilangan kebugaran-kebugaran. Sebab pertumbuhan telah berhenti, pergerakan sudah diakhiri. Pemahaman Jawa, menyebut keadaan ini sebagai layu.Perihal ruh yang tercabut dari tubuh lalu membuat kesegarannya raib. Ungkapan perlambang, berakhirnya segala hasrat yang memungkinkan manusia untuk dinamis dengan badannya. Layaknya pohon yang tumbang, tercerabut ataupun terputus dari sumber-sumber perkembangannya. Batang serta daunnya layu, begitupun dengan unsur-unsur fisik lainnya. Semua komponen tersebut, tidak bisa mengelak dijelang pelapukan. Terhenti sudah, ikhtiar-ikhtiar dalam mereguk cahaya, yang tiap harinya membantu pertumbuhan mereka. Peristiwanya sendiri dinamakan dengan lelayu. Upacara penghormatan, waktu dan ritual khusus untuk melepas mereka yang dijemput ajal.

Konon katanya, kehidupan adalah petualangan jiwa-jiwa yang dibungkus dalam jasad. Semacam kendaraan, dimana roh berlaku sebagai pengendalinya. Hidup layaknya software yang bisa bertransformasi dalam bentuk dan rupa yang sesuai dengan alam yang dimasukinya. Konten yang senantiasa mendapatkan kompatibilitas dengan wadahnya. Saat manusia di rahim ibunya, situasi-situasi hidupnya akan berbeda dengan ketika ia dilahirkan. Mungkin juga demikian, dengan keadaan paska kematian. Ada regulasi dan kondisi yang serba unik serta baru. Barangkali, hidup lebih mirip rangkaian panjang, dimana kelahiran dan kematian menjadi gerbang-gerbang ditengahnya. Ruang dan suasana yang mesti disinggahi, untuk patuh terhadap proyek penciptaan yang diselenggaraan Tuhan. Maka tak ada hubungan sebab akibat antara hidup dan mati. Keduanya bukan hal yang setara, lantas bisa disejajarkan. Sebab hidup berjalan terus, sedang penggal-penggal adegan seperti kematian dan kelahiran merupakan ranah peralihan. Namun, apa yang terlintas dalam pikiran saya inipun hanya kelebatan upaya menggali. Suatu saat berubah, seiring datangnya pengalaman dan pemahaman baru. Tidak pasti, bukan kebenaran absolut. Saya hanya menebak-nebak, merenungkan peristiwa lelayu, hari itu. Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s