Ndilalah

Karena kangen dengan seorang teman, saya mengiriminya pesan singkat basa-basi mempertanyakan kabar. Sudah ada rencana dalam benak, untuk mengunjunginya. Lama tidak ngobrol kosong ngalor-ngidul, seperti yang pernah kami lakukan bertahun-tahun lalu. Tapi kesempatan itu belum juga datang. Selalu saja ada aral pengganjal, yang membuat agenda itu gagal.

Pertemuan, pada konteks apapun, adalah peristiwa misterius. Ketika dua atau lebih pihak berjumpa, prosesnya berjalan seperti titik berkedip yang meniti kurva imajiner, pada bentangan peta yang rumit. Gerak-geriknya didorong oleh motif beragam. Lantas berpapasan pada poin persilangan yang sama. Alur dinamika yang benar-benar dikendalikan oleh akurasi waktu. Tak ada dari mereka yang bisa berkuasa mengatur kepastiaan perjumpaan. Bila salah satu pihak saja terlambat, datang lebih cepat dari lainnya, atau terhalang sekian detik, maka situasi dan bentuk pertemuan juga serta-merta berubah.

Sebelum terjadinya pertemuan, orang hanya mampu merekayasa rencana. Seperangkat bacaan atas kecenderungan-kecenderungan untuk pelancaran hasrat. Menghimpun kemungkinan terdekat, demi terwujudnya harapan. Kemampuan manusia dalam berencana, ditentukan oleh seberapa luas kejeliannya mengeja keadaan diri dan sekitarnya. Melihat celah-celah kesempatan, lalu dipergunakan dalam membangun bagan asumsi tentang kepastian. Meskipun, bila dilihat lebih teliti, rencana hanya berlaku sebagai alat kontrol langkah. Berfungsi sebatas meraba hasil. Sedetil apapun sistem rancangan, akan tetap takluk kepada makhluk ajaib yang bernama kecocokan momentum. Suatu keadaan dimana pihak-pihak yang merencanakan pertemuan, memiliki kecepatan gerak  dan bobot motif setara. Sedang mengusahakan keselaran atas itu, nyaris tidak mungkin. Apalagi, jika subjeknya adalah manusia, yang sistem kesadaran alamiah dalam dirinya, tidak bisa selamanya konstan.

Pelaksanaan rancangan, kerapkali mesti bergelut dengan hal-hal diluar dugaan. Kemungkinan-kemungkinan kondisi yang terlepas dari hitungan. Orang jawa lazim mengekspresikan munculnya situasi itu dengan ungkapan “Mak Bedunduk” atau “Ndilalah”. Luapan kata, untuk merespon perkara yang tiba-tiba datang. Kementakan yang lolos dari perhatian. Kepatuhan menjalani rencana, juga harapan-harapan atas ketepatannya, toh harus goncang akibat menyeruaknya soal-soal yang mendadak tiba itu.

Bisa jadi, istilah “Mak Bedunduk” atau “Ndilalah” adalah pesan pemahaman. Bahwa pada dasarnya orang tak bisa terus-menerus dalam posisi ingat. Tak mampu lurus utuh dengan apa yang direncanakannya. Perlu disisihkan porsi khusus dalam ruang keyakinannya, sewaktu menerawang probabilitas keberhasilan rencana, agar tidak jatuh pada kekecewaan. Ibaratnya, orang diweling, “Rencana boleh matang. Tapi soal kegagalan, itu niscaya”. Tidak pernah jelas, kapan Istilah “Mak Bedunduk” atau “Ndilalah” masuk dalam kosakata Bahasa Jawa. Sedangkan kelahiran bahasa Jawa, seperti yang ghalib diujar-tuliskan hingga kini itu, juga susah diendus. Namun, tercantumnya istilah-istilah tadi dalam sistem bahasa Jawa, sudah menandakan bahwa perhitungan tradisional terhadap “kemungkinan yang tiba-tiba” pada tiap alur rencana, telah masuk dalam perangkat kesadaran hidupnya.

Sama seperti yang saya alami hari itu. Saat banyak sekali rintangan untuk merealisasikan rencana pertemuan dengan teman yang saya kangeni tadi, sekonyong-konyong berlangsung kejadian tak disangka. Pada sebuah perjalanan, jaringan listrik mobil saya bermasalah. Kepulan asap muncul dari rangkaian kabel dibawah kemudi. Apes menyerbu. Mau tidak mau, saya harus menghentikan lajunya, lantas mematikan mesin. Sementara hari sudah larut malam dan bengkel-bengkel telah tutup. Ini kota kecil, hampir tidak ada usaha jasa servis otomotif, yang buka 24 Jam. Beruntung, seorang tukang ojek menawarkan diri untuk memanggilkan seorang montir yang dikenalnya. Sambil menunggu teknisi itu datang, baru tersadar, bahwa lokasi berhenti kendaraan saya itu, tak jauh dari rumah teman yang saya rencanakan ingin temui. Akhirnya, saya meneleponnya untuk datang dan menemani perbaikan mobil. Sewaktu kendaraan sudah normal kembali, sembari mengemudi saya bilang padanya “Begitulah pak, sehebat-hebatnya rencana, tetap kalah sakti dengan jurus Ndilalah. Kalau mobil ini tidak bermasalah malam ini, kita akan larut dalam rancangan-rancangan pertemuan saja, yang tak tahu kapan terwujudnya”.

Manusia hanya seakan-akan merencanakan, seolah-olah merancang, sebagai bentuk akhlak terhadap Tuhan atas anugerah akal. Jangan GR, dengan kerap berujar “manusia merencanakan, Tuhan menentukan”. Sebab dengan membersit demikian, disadari atau tidak, orang telah mereduksi peran Tuhan sebagai Pihak utama yang menyebabkan sekaligus mengakibatkan. Sebenar-benarnya, Tuhanlah yang merencanakan, Dia pula yang menentukan. Meski dengan tanda-tanda yang misterius, seperti “Mak Bedunduk” dan “Ndilalah” itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s