Sanders

Perempuan sepuh itu menggulung sajadahnya. Pagi beranjak terang, suasana stasiun kereta antar kota kian ramai. Seraya membuka katup bibir, ia membalas tatapan lelaki berkalungkan kamera, dengan melayangkan senyum tipis. Selama beberapa menit berlalu, pria bule yang berdiri tak jauh tersebut, lekat memandang padanya. Entah apa yang bergejolak dalam pikiran orang bertubuh tegap itu. Seksama mengamati gerak-geriknya, dengan sorot yang menyiratkan keheranan. Barangkali apa yang barusan dilakukannya, tampak sebagai hal baru atau bahkan aneh, bagi lelaki itu. Tapi, ini kota yang padat, India adalah negara besar dengan penghuni berjubel. Berbagai macam karakter manusia bertemu di negara itu. Tempat singgah beragam ras dengan bermacam kepentingan. Tatapan-tatapan aneh, dari orang tak dikenal, bisa saja didapatkan oleh siapapun. Tanpa berpikir lebih lama, segera setelah lelaki kulit putih tersebut melontar senyum balasan, perempuan itu segera berlalu. Sembari menenteng tas berisi sajadah yang tadi ia gunakan, bergabung dalam lalu-lalang puluhan pejalan kaki yang melintasi peron.

Peter Sanders, demikian nama lelaki itu. Seorang pengembara yang gelisah. Ia masuk ke India di awal periode 1970. Berkelindan disela sumpek ibukota, hingga akhirnya menghuni sebuah kampung kecil di sudut negara itu. Sebuah misi pencarian tengah digenggamnya. Riuhnya London, telah ia tinggalkan. Jalanannya yang sibuk, dengan suasana malam dipenuhi hingar bingar perayaan modernitas, industrialisasi dan gempita kaum hippies, rupanya tak membuat hatinya tenteram. Sanders bukan orang yang populer disana. Tapi bagi yang jeli mengikuti surat kabar atau majalah hiburan pada dekade 1960-an, namanya kerap tersembul di bawah pajangan foto artis dan grup musik terkenal.

Sebut saja Bob Dylan, Jimi Hendrix, the doors, The Who hingga Rolling Stones. Lewat bidikan kamera, ekspresi para selebritas itu abadi direkam Sanders. Sebagai fotografer yang dekat dengan orang-orang masyhur, gampang saja bagi Sanders untuk membuntut jejak ketenaran. Namun, ditengah rambatan profesinya yang sedang naik, dia memilih jalan sebaliknya. Menyepi, berkunjung ke tempat-tempat sakral di India, untuk mencicil jawab keresahan batin. Sisi-sisi gelap dunia selebritas membuatnya merenung. Perilaku-perilaku para pesohor yang dalam pandangannya menyimpang, ibarat cambuk hingga membuatnya tergeragap. Apa yang membuat manusia-manusia populer itu merasa kesepian? Hingga jalan keluar yang mereka lalui adalah penggunaan narkoba serta minuman keras yang bisa merusak tubuh dan kariernya? Sanders terhenyak dikerubung pertanyaan-pertanyaan fundamental, mengenai tujuan serta hakekat kehidupan.

Peristiwa pagi di stasiun kereta itu, menggelitik batin Sanders. Begitukah wujud kedamaian? Ia menyaksikan perempuan renta tengah sholat, tanpa kecanggungan, diantara gaduhnya aktifitas . Tidak ada tanda kekhawatiran yang diperlihatkannya. Tentang kemungkinan adanya tanggapan miring atau cibiran yang bisa terlontar dari jejalan orang tak dikenal, untuk mengomentari tindakannya. Sanders melihat begitu polosnya perempuan itu. Dengan percaya diri, perempuan tersebut memilih tempat yang relatif aman dari hilir mudik pengunjung stasiun, lantas melaksanakan sholat beralaskan sajadah kusam. Dari air mukanya, terlihat kenyamanan yang menggenang. Bukankah kedamaian hanya bisa direngkuh lewat jalur-jalur kerelaan dan kesetiaan terhadap nilai-nilai kebenaran yang diyakini? Batin Sanders menyeruakkan beragam pertimbangan.

Sejak tinggal di negara yang dulunya disebut Hindustan itu, Sanders telah menjajal berbagai ragam metode pencerahan. Sejumlah agama dipelajari sungguh-sungguh. Diskusi dengan orang-orang yang dianggap mampu menjelaskan perihal pencariannyapun dilakukan. Tak ketinggalan, buku-buku yang berkaitan dengan soal-soal spiritualitas tuntas pula dibacanya. Sanders sangat serius untuk menguliti substansi kehidupan dan memahami secara praktis, konsep-konsep teologi.

Sanders tidak sendirian. Agaknya, cara-cara seperti yang dirintisnya, sedang jadi fenomena. Pada dekade 1970-an itu, gelombang kerinduan akan kehakikian tengah melanda. Sebagian kaum muda di eropa dan Amerika, rupanya telah sampai pada titik jenuh dari pesta pora generasi bunga. Era yang ditandai perayaan kebebasan dengan seks bebas dan konsumsi zat adiktif. Tak sedikit korban overdosis yang tepar mengenaskan akibat meluapnya perilaku begitu. Masa dimana gaya hidup diejawantahkan lewat busana warna-warni dan liarnya sikap. Teriakan simbol perlawanan terhadap kemapanan pandangan orang-orang tua, yang melihat hidup sebagai keteraturan konservatif. Anak-anak muda di Eropa dan Amerika merasa dikungkung oleh belenggu nilai yang membosankan. Hidup tak hanya dilangsungkan dengan rutinitas bangku sekolah, kepatuhan basa-basi, dan kerapihan naif.

Riak kegelisahan spiritual yang membesar itu akrab disebut dengan istilah “Hippie Trail”. Generasi bebas dan pemberontak yang menamakan dirinya kaum Hippies, tengah berada pada fase anti klimaks. Mereka menyebar mencari kesejatian, merambah khasanah-khasanah rohani di belahan timur bumi. Menjelajah India, Tibet hingga wilayah-wilayah asia tenggara yang sudah kondang sebagai gudangnya filosofi kebatinan. Sanders turut serta dalam kerumunan pencarian jatidiri itu. Bersenjatakan seperangkat kamera, dilengkapi persediaan gulungan-gulungan film negatif, dia memilih india sebagai tempat pengolahan jiwa yang dahaga, sembari tetap menekuni pekerjaannya sebagai fotografer.

Pada subuh berikutnya, telinga Sanders menangkap sayup suara adzan dari masjid yang berjarak beberapa blok dari pemondokannya. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, lengkingan kali ini begitu menyentuh perasaannya. Sanders diam dan merenungkan. Menghayati getar-getar yang merayapi tubuh. Layaknya prinsip fotografi yang dianutnya, jika sebuah momen penting tengah berlangsung, berhentilah. Rasakan situasi, bersamaan dengan itu, pikirkan cara melihatnya dari sudut-sudut khusus. Lantas, bidik keindahannya.

Sebenarnya, Islam bukan wacana yang sama sekali baru bagi Sanders. Sudah lama ia mendengar dan beberapa kali membaca buku tentang agama itu. Namun Sanders tak punya  gairah khusus untuk menekuninya. Hingga hadir dua peristiwa yang sedemikian menarik serta menggugah dirinya : perempuan tua yang sholat di stasiun dan suara adzan di mulut subuh. Momentum titik balik, tidak bisa dibuat. Kemuncullannya lebih banyak diletup oleh hal-hal yang tiba-tiba. Sesuatu yang menyeruak dari luar perhitungan. Orang-orang –seperti juga Sanders – hanya bisa dipertemukan dengan pemantik-pemantik spiritual itu, asalkan didalam batinnya, termaktub niat untuk mencari.

Sejak saat itu, ada desakan hebat dari hatinya, untuk membaca dan bertanya lebih banyak mengenai Islam. Ketekunan Sanders dinyalakan oleh semangat menggebu. Kepada golongan cerdik pandai yang ditemuinya di India, Sanders mengais informasi sebanyak-banyaknya mengenai ruang lingkup Islam. Suatu kali, seorang sufi yang ditemui Sanders, menceritakan kepadanya tentang tasawuf.  Sistem pendekatan dan pemahaman ketuhanan lewat pengolahan pengalaman metafisik secara pribadi. “Tatanan Islam itu ibarat rumah” Kata sufi tadi. “Butuh naluri spiritual untuk mencapai titik sentral rumah. Tasawuf adalah naluri spritual itu. Jika titik sentral itu dikeluarkan dari rumahnya, dia akan kehilangan perlindungan. Sebaliknya, bila hanya mengambil dinding-dindingnya saja, kamu akan kehilangan spirit sejati” Lanjutnya halus.

Lompatan ekstrem dilakukan Sanders. Analogi tentang Islam sebagai rumah tadi, begitu membekas di memori. Ucapan itu masuk akal baginya. Sebuah ajaran yang menyeluruh mengenai hidup yang jangkep. Berimbang antara telaah unsur material dan pendalaman anasir spiritual. Kegunaan utama dari setiap rumah adalah meraih kedamaian, mengupayakan keterlindungan. Manusia mesti memiliki dan merawat seutuhnya rumah itu, dengan hati yang bersih, agar fungsi utamanya dapat dirasakan. Begitulah Islam dalam kacamata tasawuf yang dikenal awal oleh Sanders. Kutipan sufistik yang menarik dirinya untuk menggali lebih jauh. Setelah 7 bulan menetap di India, Sanders memutuskan pindah ke Afrika Utara. Atas informasi seorang kenalan, ia direkomendasikan untuk berguru kepada Syeh Muhammad Ibnu Al-Habib di Maroko. Seorang mursyid yang banyak dijadikan rujukan, bagi pembelajar tasawuf.

Kini, setelah 40 tahun lebih, sejak masa titik balik kehidupannya, Sanders telah merekam perjalanannya membidik Islam lewat fotografi. Karya monumentalnya adalah pemandangan di ka’bah pada tahun 1971. Dia adalah fotografer pertama dari dunia barat yang berhasil diizinkan memotret suasana ibadah haji di dekade itu. Mendapatkan hak khusus dari otoritas setempat, dan mempublikasikan hasil hasilnya di media terkemuka dunia seperti Majalah Sunday Times, The Observer, Paris Match dan Stern. Membingkai gambar Ka’bah, yang kala itu, masih terlihat lebih besar daripada sekitarnya. Berbeda dengan sekarang, dimana Ka’bah, secara visual, kian terkucil dipagari gedung-gedung raksasa yang dibangun dengan mengatasnamakan penambahan kapasitas jamaah haji. Sebelum periode Sanders, terdapat dua fotografer yang diperkenankan oleh pemerintah Arab Saudi, untuk mengabadikan momen haji. Mereka adalah Burton dan Thomas Abercrombie dari National Geographic. Kesempatan yang langka lagi istimewa di masa itu. Saat penguasa Saudi masih ketat mengawasi orang-orang Amerika atau Eropa yang memasuki dua kota suci Umat Islam, Mekkah dan Madinah.

Hasil Jepretan Sanders, dikemas dalam sembilan proyek kreatif fotografi. Selama kariernya, tema tentang Islam begitu mendominasi. Tiga diantaranya terbit dalam bentuk buku essay foto. Buku pertamanya bertajuk In the Shade of the Tree, yang merupakan petualangan fotografis Sanders saat berkeliling ke negara-negara berpenduduk muslim mayoritas. Disusul dengan The Art of Integration. Rentang visual tentang kehidupan umat Islam di Britania raya. Berisi wajah-wajah sejuk dari pemeluk Islam, yang merupakan penyangkal atas pemberitaan tentang Islam yang bernuansa buruk dalam isu sosial-politik-budaya, yang kerap diangkat media barat. Meetings with Mountains, menjadi buku ketiganya. Sebuah album pertemuan dengan sosok “orang-orang suci” yang menyingkir dari keramaian dunia dan tinggal bersama masyarakat terpencil di jazirah arab hingga afrika. Para sarjana yang memutuskan untuk hidup menepi, mengolah kesunyian bersama khalayak yang termarjinalkan oleh modernitas. Sufi-sufi yang tidak mabuk popularitas serta arif dengan nilai-nilai kebenaran yang diyakininya.

Meetings with Mountains, merupakan keistimewaan tersendiri. Kompilasi foto yang menyuguhkan pemandangan paradoks. Secara mengagetkan, Sanders diperbolehkan untuk membingkai wajah-wajah langka dari mereka yang kerap disepadankan dengan gelar kewalian. Orang-orang ditepi zaman yang mengungkap, bahwa Islam adalah kesejukan. Empat puluh tahun, dengan telaten Sanders mencari orang-orang itu. Meskipun anehnya, Sanders sering bertanya-tanya sendiri mengenai keadaan ini, “Lantas kenapa mereka bersedia untuk difoto?” Tindakan yang tidak lazim di kalangan orang-orang itu. “Orang-orang suci” itu, kebanyakan menghindari publikasi. Menjauh dari kilau kilat kamera. Tapi Sanders diperbolehkan memotret, bahkan mendekat lebih akrab. Seakan-akan mereka hendak menitipkan pesan kepada Sanders “Katakan kepada dunia, bahwa Islam yang disangka itu, tidak seperti yang mereka pikirkan. Jangan sempit, hingga ketika bicara tentang Islam, apapun jadi jelek dan gerah. Padahal, di sebalik dugaan-dugaan yang tergesa itu, ada kedamaian yang bersemayam. Singkaplah punggung gunung itu, maka bentangan oase yang adem bisa ditemukan. Kesejukan yang tak pernah mereka jangkau dan baca, karena hidup dalam pikiran yang terkurung tempurung”

Hidup layaknya fotografi. Memetik hikmah dari apa yang terjadi, tidak bisa dilakukan dengan kekerdilan pola pikir dan perenungan terburu-buru. Pada setiap bingkai peristiwa, berlangsung banyak sekali adegan, yang bila di ulur akan menjadi cerita beragam versi. Cara melihat kejadian, ukuran jarak dengan fenomena itu serta instensitas cahaya –perlambang keluasan referensi dan penguasaan informasi – akan menentukan, apakah keindahan itu bisa direngkuh atau tidak. Sanders adalah orang yang berusaha melihat pengalamannya, dari sudut pandang yang komprehensif. Tak hanyut pada apa yang tampak saja, tapi menelisik jauh hingga meraih nilai paling substansial. Menggapai inti, menjemput kehakikian, bukan hanya berhenti di permukaan. Seperti yang dibisikkannya dalam Meetings with Mountains. Kepermaian gunung yang menjulang itu, dengan berbagai macam pernik penyertanya, akan memerangkap, bila orang terbuai dan tidak waspada. Sebab selalu ada keelokan yang lebih menawan, tapi lolos dari tangkapan mata. Sembunyi di balik bayang-bayang, yang kerap menutup ketelitian. Keindahan sejati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s