Ketangguhan

“Rombongan kami berjumlah 70 orang, saat pertama kali datang kesini” Laki-laki setengah baya itu menerawang dengan ingatan terbata-bata. “Setengah tahun kemudian, kurang lebih, tinggal 4 kepala keluarga yang bertahan” Lanjutnya, sembari menyeka keringat yang merembes di dahi. Otot-otot punggung tangannya menjalar pada sebalik kulit legamnya. Usia pak Minto belum menapak separuh abad, tapi hidupnya yang keras, membuat penampilannya terkesan lebih tua. “Merintis itu berat. Mereka yang pulang, tidak melihat adanya  harapan bagus, untuk mengolah hamparan tanah kering bekas hutan yang terpampang di depan mata” lengkapnya mengisahkan. “Keputusasaan melanda kami, nyaris tiap hari. Hingga sebagian orang menyerah, lalu memilih pulang ke Surabaya. Jatah kepemilikan atas tanah dan kayu-kayu bahan pembuat rumah, dijual. Menukarnya dengan tiket pulang beserta uang saku secukupnya”

Obrolan kami, tengah hari itu, berlangsung diteras rumah. Dua gelas teh tersuguh, bersanding dengan beberapa gelintir kue lapis buatan istri pak Minto. Sebuah tempat tinggal yang sederhana, dengan halaman luas beralas rumput gajah yang subur di permukaan tak rata. Didepannya, jalan tanah membujur dihampari sedikit batu-batu koral yang tersebar acak. Jalur kecil yang menghubungkan pedalaman dengan jalan utama kampung. Rumah-rumah masih jarang. Masing-masingnya terpisah dalam jeda puluhan meter. ladang sayur-mayur, serta luasan semak belukar, menjadi penghuni lahan yang rumpang. Jajaran kebun karet yang teduh dipagari tiang listrik jaringan baru, dengan tiga kabel melintang pada pucuk-pucuknya, terbeber di seberang. Dusun itu bernama Ngestiboga Satu. Daerah yang relatif baru, dibuka pada awal dekade 1980-an. Para transmigran yang rata-rata berasal dari Gresik, adalah penduduk generasi pertama. Terletak di pedalaman Musi Rawas, berjarak kurang lebih 100 km dari kota Lubuklinggau, Sumatera selatan.

Kegemaran untuk merambah kawasan-kawasan yang terpencil, membuat saya singgah di kampung itu. Bertemu dengan orang-orang baru, lantas bercakap tentang hal-hal remeh. Namun, seenteng apapun topik pembicaraan, tetap akan tersembul penggalan-penggalan mengejutkan yang sarat renungan. Pertukaran pengetahuan lewat interaksi wicara adalah cara terdekat memahami bahwa hidup memiliki dimensi-dimensi yang pelik. Masing-masing manusia merupakan pelaku yang unik, menjalankan skenario kehidupan dengan ragam versi yang berbeda satu dengan lainnya. Seorang teman pernah bilang “kehidupan adalah novel yang ditulis bersama”. Tiap pribadi berperan sebagai pembentuk kalimat, penyusun paragraf tentang pengalamannya sendiri, kemudian dipadu dengan orang lain. Saling menyerap, mengkoreksi, merombak dan melengkapi.

Pak Minto adalah salah seorang yang turut serta dalam rombongan pertama penghuni Ngestiboga Satu. Bersama keluarganya, ia menumpang kapal dari Tanjung Perak membelah laut jawa. Tak terpikir sebelumnya, bahwa lahan yang hendak digarap adalah tanah bergelombang dengan lapisan humus ringkih dipermukaannya. Hingga kapal itu merapat di Lampung, kemudian perjalanan para perantau dilanjutkan dengan bus, dia masih menganggap, daerah yang hendak disambangi itu serupa dengan persil gempur lazimnya pertanian di Jawa. Dalam benak tergambar harapan, tentang petak-petak calon sawah yang beraroma lumpur dengan saluran irigasi membentengi tepiannya.

Apa hendak dikata, saat tiba, segala dugaan itu mesti dilempar jauh-jauh. Kenyataan yang tampak mata, benar-benar berbeda dengan apa yang diangankan. Di hadapannya, terhampar lahan kosong dengan relief tanah bergelombang. Beberapa petak rerimbunan bekas rimba, masih terlihat berpencar. Tak ada sungai ataupun saluran buatan. Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah permukaan bumi kering dipanggang sinar matahari. Bersama kelompoknya, Pak Minto menata tekad “rawe-rawe rantas, malang-malang putung”, sebab untuk mundur sudah tak mungkin lagi. Meskipun, beberapa orang tampak begitu kecewa. Mereka memuntahkan kekesalan, karena informasi tentang area baru yang diterima sebelum berangkat, sungguh berbeda dengan fakta lapangan. Hari pertama itu, semangat para transmigran yang sudah ditempa perjalanan ratusan kilometer, mulai retak. Jentik-jentik keputusasaan lahir lamat-lamat.

Beberapa bulan setelahnya, rencana-rencana untuk hengkang, sudah diumumkan oleh sejumlah kepala keluarga. Agaknya, tanah Sumatera lebih keras daripada jerih payah mereka. Tanaman-tanaman perintis yang dibudidayakan, tidak menuai hasil memuaskan. Harga palawija hasil keringat selama beberapa waktu, tak sebanding dengan besaran pengeluaran sehari-hari. Di samping itu, penjualannya pun mesti menempuh jarak yang amat panjang. Biaya-biaya tercecer di jalan hingga mengurangi angka penghasilan, yang sedianya akan digunakan untuk menaikkan taraf hidup. Menjelang musim hujan, atap-atap seng rumah mereka rusak tak kuat menahan terjangan angin. Lantai tanah menjadi becek dan papan-papan pembentuk dinding mulai bergeser anjlok. Tidak ada uang untuk bisa memperbaiki pondok agar lebih layak ditinggali.  Anak-anak putus sekolah, para orang tua seakan kehilangan siasat, bagaimana mengubah keadaan. Wabah keresahan menggoyahkan mental. Sebagian penduduk, ada yang masih bertahan. Tak sedikit pula yang memutuskan untuk merantau ke daerah lain. Menjadi buruh penyadap karet di desa-desa yang jauh atau sebagai kuli bangunan pada proyek-proyek konstruksi di kota. Keluarga-keluarga yang sudah meniatkan untuk balik ke Jawa, semakin mengukuhkan maksudnya. Kepada tetangga atau kenalan-kenalan diluar kampung, mereka menawarkan aset yang dimiliki untuk ditukar karcis bus dan uang perbekalan guna perjalanan pulang.

Situasi menjadi demikian sulit. Satu sisi, mereka adalah orang-orang yang berharap bahwa janji-janji tentang transmigrasi adalah mimpi yang bisa lekas jadi. Tapi sisi lainnya, kesulitan yang beruntun menggempur. Tanah-tanah yang susah ditaklukkan, telah merontokkan hasrat keberhasilan. Kepindahan tempat hidup, untuk meraih tingkat kesejahteraan yang lebih baik, ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Tapi pilihan yang tersedia juga tidak banyak. Teguh menetap, memilih bertolak kembali ke tempat asal, atau merantau dalam perantauan. Pilihan ketiga ini, adalah bagian yang mengenaskan. Sengsara ganda. Mereka pergi dari tanah kelahiran untuk memulai pekerjaan di lokasi transmigrasi, malah harus angkat kaki kembali mencari ladang nafkah baru, karena kegagalan kebun palawija.

Namun, keterdesakan juga bisa menjadi senjata untuk tangguh berkelahi dengan kerumitan. Hidup tak melulu soal bagaimana meloncat pada peluang lain yang dipandang lebih menggiurkan. Pak Minto percaya, bahwa suatu saat, dia akan berkawan dengan masalah-masalah yang mengerubunginya. Layaknya pepohonan yang tumbuh di pinggir sungai. Awalnya, perdu-perdu liar merangsek dan mengganggunya. Tapi karena ketabahan dan sekuat mungkin menyesuaikan diri, suluran-suluran berduri itu toh akan berubah menjadi pelengkap yang membantu perkembangan pohon itu. Lumut-lumut menjelma kawan, yang melindungi kulit batangnya. Maka Pak Minto dan sejumlah tetangganya, meyakinkan diri untuk tetap tinggal. Mengolah apa yang bisa dikelola, hingga tetes keringat penghabisan.

Enam tahun berlalu, sejak dusun dibuka. Ketika Ngestiboga sudah sepi, hanya menyisakan para penyintas yang bertahan, kabar baik mulai berhembus. Sekelompok penyuluh tani, bertandang menawarkan penduduk, untuk berkebun tanaman karet. Ajuan itu disambut baik. Paling tidak, ada alternatif baru untuk dimasak jadi harapan. Sebagai bahan bakar melanjutkan hidup yang tertatih-tatih. Walaupun, beralihnya jenis pertanian kepada budidaya karet, tidak serta merta menjadikan kesulitan kehidupan ekonomi mereka lekas tersingkir. Untuk layak sadap, karet membutuhkan waktu kembang lima hingga enam tahun. Sambil menunggu kesempatan itu, mereka tetap harus mempertebal tekad sebagai benteng dari terjangan kemiskinan.

Kini, kondisi kesejahteraan Pak Minto dan para penyintas seangkatannya, jauh lebih baik. Satu dari tiga anaknya, dikirim ke Jawa Timur untuk menuntaskan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi swasta. Dua yang lain masih berada di jenjang sekolah menengah dan memilih untuk belajar di palembang. Beberapa keponakannya ditarik dari Jawa untuk bekerja membantu menyadap kebun karet miliknya. Ngestiboga sudah tidak semerana dulu. Jalan utama kampung telah teraspal dan menara-menara operator seluler berdiri menjulang, memudahkan komunikasi telepon. Penduduk kampung itu sudah beragam. Mayoritas adalah para pendatang yang masuk ketika regulasi penanaman karet diberlakukan. Baik dari Jawa, ataupun pribumi yang dulunya tinggal di kampung-kampung sekitar.

Pada akhirnya, apa yang disebut sebagai pencapaian, bukanlah upaya yang ringkas, dan hanya terjebak bicara besaran-besaran pendapatan. Tapi, lebih kepada soal, seberapa tangguh seseorang menaklukkan keadaan. Berdiri diatas semua kesulitan, sambil tetap kokoh mencengkeram tekad untuk terus ulet berjalan, pada niat yang lurus. Sama seperti bunyi doa yang setiap hari dipanjatkan itu : “Tuhan, Tunjukilah kami jalan yang lurus”. Sukses adalah istilah yang bias. Kata itu bukan perlambang tujuan final yang kuantitatif. Melainkan, tentang ukuran kualitas pertahanan manusia dari serbuan tiap masalah. Sebab hidup, tak ubahnya seperti perjalanan dari satu masalah ke masalah lain. Kebahagiaan adalah situasi yang muncul di sela-selanya. Keadaan ketika manusia itu berhasil melampaui kesukaran sebelumnya, lalu bersiaga untuk melabrak datangnya kesulitan baru.  Masa jeda yang singkat dan memancing lena. Layaknya rasa manis pada gula. Puncak-puncak rasa manis itu, hanya berlaku sekejap. Sepersekian detik kemudian akan lenyap, berganti jenis rasa lawannya : pahit, getir atau hambar. Kesiapan yang ditata saat bahagia itu, menentukan ketangguhan seseorang untuk menyongsong rangsekan perkara berikutnya.

Petang sudah menjelang, ketika saya pamit pulang. Ini pertemuan pertama saya dengan Pak Minto. Tapi apa yang dia tuturkan begitu padat. Dari luar, seiring langkah saya menjauhi kediaman Pak Minto, sesekali saya menatap bangunan yang ia huni. Rumahnya masih kecil dan dia tak ingin membangunnya menjadi lebih besar. Perabot-perabot seperlunya, terletak di ruang tamu. Kesehariannya diisi dengan rutinitas yang sama. Pagi di kebun, siang kembali, lalu sorenya bercengkerama dengan keluarga dan para tetangga. Tidak mewah, tapi dia mengaku tenteram. Waktu-waktu yang bahagia menurutnya adalah saat anak-anak pulang, berkumpul kala liburan tiba. Di malam-malam yang hening dan bunyi jangkrik menerobos tembok rumah, dia akan gagah bercerita kepada mereka, tentang khasiat ilmu ketangguhan, yang jadi bekalnya menundukkan kepelika

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s