Anonimitas

Taraf pendambaan para pendukung masing-masing calon presiden, sudah sampai pada tingkat yang memilukan. Pada mulanya, semangat yang digelorakan adalah hasrat ingin menang. Begitu mendekati hari pemilihan, kecenderungannya berbalik : mereka terjangkit sindrom takut kalah. Akibatnya, perang makin sengit, upaya saling serang kian membabibuta. Para pembela masing-masing calon berusaha sekuat mungkin, mencecerkan berbagai ragam informasi yang belum tentu jelas benar salahnya. Sedemikian rupa mereka ngotot, agar tak menyandang gelar “rombongan pecundang” di kemudian waktu.

Setidaknya, itulah yang tengah berlangsung di wahana-wahana persapaan internet kondang, baik facebook maupun twitter. Jagat baru yang dijadikan kancah perang argumentasi politik Indonesia .Keramaian tersebut menjadi niscaya, sebab dunia maya mengijinkan orang berperilaku apapun, bicara apa saja, tanpa ada kewajiban yang membebani untuk mempertanggungjawabkan pernyataannya secara moral dan intelektual. Disamping pula, tidak ada sanksi sosial yang perih di internet, sebagaimana yang berlaku di dunia nyata. Nama-nama akun, baik asli atau gadungan, berseliweran saling teriak lewat huruf-huruf. Tampil layaknya serdadu ulung dan pemegang otoritas kebenaran informasi dari calon yang dibelanya. Mereka berlindung di sebalik potensi anonimitas yang berlaku di Internet. Faktor itulah yang membuat kesan pemberani tersemat pada akun-akun yang berdebat di Internet.

Untuk aktif berpendapat di alam siber, terutama pada media persapaan internet, seseorang tak dituntut untuk menampilkan dirinya secara utuh. Representasi atas diri, bisa tampakkan secara singkat berupa nama atau foto saja. Bahkan jika mengenakan personalitas palsupun dimungkinkan. Keluwesan ini memberi peluang bagi setiap orang untuk menghadirkan diri sebebas-bebasnya. Inilah yang disebut sebagai potensi anonimitas pengguna internet.

Bahasa Inggris mengeja kata anonomitas sebagai “anonymity”, berakar dari bahasayunani “anonymos” yang berarti : tanpa nama. Kata tersebut masuk secara resmi sebagai kosakata yang termaktub dalam kamus bahasa Inggris sejak tahun 1802. Dimasa-masa sebelum media pengemuka informasi sebebas sekarang,anonimitas menjadi sebuah cara untuk melindungi para pemikir, penulis hingga seniman, saat mengungkapkan gagasannya yang melawan arus, agar tidak terancam secara fisik dan mental dari pihak-pihak yang diserangnya. Keberlindungan itupun masih tak sepenuhnya menjamin, bahwa para anonim akan benar-benar tak terungkap. Kemungkinan identitas mereka tetap terbuka secara lengkap,menyebabkan para anonim tersebut mesti bersiap untuk “perang darat. Mereka siap diskusi, adu gagasan atau bahkan menjadi pesakitan di depan sidang pengadilan.

Perkawinan antara Internet dan mode kebebasan berpendapat telah turut melahirkan fungsi baru dari semangat anonimitas yang berbeda sama sekali dengan masa lalunya. Anonimitas kian marak dipakai untuk persembunyian bagi mereka yang hanya ingin melempar pernyataan semau-maunya. Tanpa memikirkan dampak sosial juga tanggung jawab moral dan intelektual. Asal sebar berita, asal tebar kabar tanpa verifikasi dan penelitaan akan fakta yang lebih utuh. Dengan memakai identitas terbatas atau bahkan gadungan, tiap orangpun bisa ngumpet dari konfirmasi pihak lain, atas informasi yang pernah di lontarnya diInternet.  Sebisa mungkin, menghindari temu darat untuk diskusi, mengelak bila diminta menjelaskan perihal isu yang pernah disiarkannya.

Zaman memang telah berubah. Jika Awalnya, anonimitas diibaratkan seperti perisai bagi seseorang untuk perlindungan diri ketika tengah mengungkap gagasan yang melawan arus, kini anonimitas cenderung berlaku sebagai tameng atas kepengecutan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s