Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan (Bagian 1)

Topik sejarah mengenai masa-masa akhir majapahit, tak habis-habis untuk dibicarakan. Kejatuhannya yang tragis, menyimpan pelajaran besar. Imperium raksasa yang tumbuh dengan percaya diri tersebut, pada akhirnya mesti bertekuk lutut dengan perubahan zaman. Banyak faktor yang menyebabkan runtuhnya kerajaan itu. Semuanya jalin-menjalin, membentuk pola yang saling mempengaruhi dan berhubungan sebab akibat.

Dari berbagai penelitian yang mengupas perihal Sendyakalaning Majapahit, rata-rata menyebut, bahwa pemicu pokok dari kehancurannya, bersumber pada nilai-nilai keluhuran yang tak lagi dipegang teguh. Seperangkat tata hidup yang pernah membawa Majapahit pada puncak kejayaannya telah ditinggalkan. Sistem hukum serta etika sosial-politik, hasil dialektika berabad-abad dalam masyarakat kosmopolitan dan multikultur tersebut, terlanggar secara fatal. Periode pamungkas dari Majapahit ini, selayaknya menjadi cermin bagi Indonesia, agar tak terjerumus dalam kesalahan yang sama.

Seorang sastrawan spiritual yang mahir bahasa Sansekerta serta bahasa Jawa Kuna, bernama Mpu Tanakung hidup pada periode akhir Majapahit itu. Gelar empu yang disandangnya, memperlihatkan bahwa Tanakung adalah orang suci yang dihormati.  Ia aktif sebagai kawi pada kisaran tahun 1466-1478. Salah satu karya besar Mpu Tanakung yang digubah pada periode tersebut adalah Kakawin Banawa Sekar.

Sekilas, tak ada yang istimewa dari karya sastra tersebut. Selain kata-kata indah sebagai penceritaan atas upacara yang disebut Sraddha. Persembahan agung yang diselenggarakan untuk menghormati leluhur, khususnya arwah raja ke-8 majapahit yang bergelar Rajasawardhana Dyah Wijayakumara Sang Sinagara. Menyertakan perahu yang dibangun dari bunga-bunga aneka ragam, untuk menghantarkan puja bagi arwah sang prabhu. Sraddha yang dikisahkan dalam kakawin Banawa Sekar tersebut, diselenggarakan oleh anak keturunan Sang Sinagara, 12 tahun setelah raja itu meninggal.

Namun, bila ditelaah lebih dalam, rupanya Mpu Tanakung hendak mengungkapkan solusi tersirat atas permasalahan yang membelit negaranya. Lewat perlambang-perlambang dalam Sraddha yang dikisahkan melalui kakawinnya itu, ia mengingatkan kepada rakyat majapahit, untuk kembali kepada nilai-nilai luhur warisan nenek moyang. Tentang bangsa yang sanggup membangun kemakmuran dalam kultur maritim serta agraris sekaligus. Mengenai bangsa yang memiliki daya adaptasi tinggi, kemampuan akulturasi yang mumpuni, hingga tetap mampu mempertahankan identitas diri tanpa harus menolak perkembangan dunia. Bangsa yang lebih mengunggulkan konsep-konsep cinta dalam membangun peradabannya dengan damai.

Secara tidak langsung, kisah Banawa Sekar juga hendak mengungkapkan, bahwa hanya golongan-golongan yang masih menerapkan nilai-nilai keluhuran tersebutlah yang bisa bertahan dari terjangan zaman. Tidak ikut terkikis, seperti Majapahit yang telah keropos digerogoti pertikaian demi pertikaian. Pesan implisit Banawa Sekar ini, ternyata relevan dengan kondisi obyektif Indonesia terkini. Saat identitas kebangsaan sudah  tak dikenali lagi, ketika ranah politik kenegaraan banyak diisi oleh kecurangan-kecurangan terhadap amanat rakyat.

Seruan-seruan untuk terus-menerus menggali pemahaman tentang identitas kebangsaan, juga kerap dilontar Cak Nun dalam forum-forum Maiyahan. Sebagai sebuah wahana, maiyah layaknya laboratorium yang tak henti berdialektika dengan perubahan untuk menemukan kreatifitas-kreatifitas baru dalam mencari formula untuk Indonesia. Sebagai sebuah ideologi, Maiyah menjadi pisau bedah untuk mencari jalan bagi persoalan bangsa, dengan tetap memegang teguh asas-asas tauhid, untuk senantiasa memprioritaskan akhlak mulia. Banawa sekar adalah salah satu wacana yang dikupas, untuk mencari model solusi di tengah sengkarut politik Indonesia yang tak tentu arah.

Berkaca Kepada Masa Lalu

Menjelang keruntuhannya, Majapahit layaknya berada dalam rerimbunan kabut yang menggiriskan. Kegelisahan rakyat menjalar, saat menyaksikan pertikaian para petinggi Istana. Intrik politik berseliweran, kasak kusuk antara para pejabat meluncur saling menjatuhkan. Sepeninggal Hayam Wuruk yang mangkat pada tahun 1389, percik-percik kehancuran mulai terlihat di tubuh imperium itu. Patih amangkubhumi Gajah Mada sendiri telah wafat 25 tahun sebelum sang prabhu.

Tidak adanya sosok kuat yang sanggup mengontrol jalannya kekuasaan membuat suasana pemerintahan menjadi limbung. Perang paregreg yang meletus tahun 1404, telah menjadi pemicu mematikan dengan buntut pahit yang panjang. Konspirasi para bangsawan silih berganti menggeroti kebesaran majapahit. Nilai-nilai luhur kepemimpinan pada  ajaran astabrata, astadasa, kotamaning prabhu, panca titi darmaning prabu dan catur praja wicaksana, yang selama ini mengiringi kerajaan itu mencapai kejayaan berangsur-angsur ditinggalkan. Sistem perundang-undangan Kutaramanawa tidak lagi dijalankan sebagaimana mestinya.

Konstelasi politik kian ruwet, saat krisis ekonomi melanda. Korupsi merajalela. Elit Majapahit terjebak pada tujuan-tujuan egois. Sembari mengejar ambisi politik golongan, mereka berlomba menumpuk kekayaan pribadi. Hasrat konsumtif kaum aristokrat meninggi. Beras, lada, garam, kain dan satwa-satwa indah yang selama ini menjadi komoditas ekspor ke mancanegara, mesti dipertukarkan dengan Mutiara, emas, perak, sutra dan perkakas keramik, yang hanya akan dimiliki oleh para bangsawan itu. Kerja keras rakyat menjadi tak sebanding lagi, ketika para pengendali kekuasaan tidak melakukan kewajiban utama mereka untuk menyejahterakan rakyat. Kejahatan-kejahatan mengisi jalanan kotaraja tiap hari. Para prajurit dan jajaran penegak hukum yang selama ini menjaga suburnya keadilan, sudah tak peduli lagi dengan situasi. Mereka yang tengah dililit kemiskinan, sebab gaji yang tak diterima, lebih fokus untuk mencari sumber penghasilan lain daripada melakukan kewajibannya sebagai abdi negara.

Keadaan yang sedemikian kacau itu masih harus ditambah dengan merebaknya ketidakpercayaan politik dari negara-negara bawahan. Disintegrasi akhirnya menjadi pilihan. Negera-negara kecil yang selama ini bernaung di bawah payung persemakmuran majapahit mulai melepaskan diri, berniat membangun pemerintahan mandiri. Majapahit memasuki usia senja dengan persoalan yang berlipat-lipat.

Menilik peristiwa-peristiwa yang tengah berlangsung di Indonesia pada hari-hari belakangan,  layaknya memutar kembali rekaman masa silam tentang kejatuhan majapahit itu. Terdapat topik-topik yang mirip. Kegaduhan para elit politik di Jakarta pasca pemilu 2014, menghadirkan kegelisahan lama tentang pertanyaan : mampukah Indonesia bangkit dari keterpurukan yang kompleks? Ditengah kabar-kabar korupsi serta kejahatan regulasi yang tak habis-habis, rakyat masih harus disuguhi adegan para politisi yang saling tawar dan tawan, berebut remah-remah kekuasaan.

Seperti menonton pementasan drama dengan lakon yang mengecewakan. Yang tampak pada babak demi babak hanyalah fragmen-fragmen konspirasi antar partai politik agar bisa mencapai dominasi kelompok. Transaksi-transaksi digelar, suara rakyat pada pemilihan umum tempo hari dijadikan mata uang. Panggung politik Indonesia menjelma balai lelang dengan pialang-pialang cupet sebagai penyelenggaranya. Mereka mengejar laba sesaat tanpa menghitung resiko besarnya : masa depan rakyat dan sumber kekayaan negara yang tergadai serta dijarah segelintir orang. Rakyat menyaksikan dengan mengelus dada. Menyimpan kembali harapan-harapan yang nyaris membumbung sebelum pemilu legistlatif berlangsung. Meski begitu, rakyat kebanyakan tetap setia bergelut dengan keseharian yang tak kalah dinamis. Gelombang sejarah Indonesia yang turun naik, bahkan sebelum negara ini didirikan tahun 1945, telah mewariskan mental tangguh dalam menghadapi kehidupan yang sulit. Mereka telah terbiasa mandiri dan tidak tergantung kepada institusi negara. Sembari menahan cemas, tentang siapa yang nantinya terpilih sebagai presiden. Lalu bertanya-tanya, apakah ke depan, keadaan negeri ini akan lebih baik atau justru makin buruk.

Suasana batin yang tidak jauh beda, juga dirasakan oleh kalangan jelata ketika Majapahit berada diambang kejatuhan. Naiknya Wijayaparakramawardhana Dyah Kertawijaya menduduki singgasana keraton sebagai raja yang ke-7 pada tahun 1447 hingga , sempat memberikan optimisme bagi sebagian besar orang. Sosok yang di dalam prasasti waringin pitu dijuluki “Sri Bhattara Prabhu” itu, disebut-sebut sebagai pemimpin yang bisa menyelesaikan huru-hara di jantung kekuasaan Majapahit. Ia dijadikan model, bagi generasi baru raja Majapahit yang bisa menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Selain itu, Dyah Kertawijaya juga dianggap bisa menyelesaikan krisis kepercayaan dari rakyat terhadap elit politik yang terus berselisih, sebagai kelanjutan dari dendam masa lalu. Namun, malang tak dapat ditolak, Kertawijaya mengalami kebuntuan. Ia keliru memilih jalan, dengan mengangkat orang-orang yang khianat untuk menjadi pendampingnya dalam memerintah. Para pejabat yang mengelilinginya, tak lebih hanyalah bangsawan-bangsawan penjilat yang haus kuasa. Kertawijaya terbunuh dalam serangkaian upaya kudeta pada tahun 1451.

Penggantinya, Rajasawardhana Dyah Wijayakumara Sang Sinagara juga bernasib miris. Pemerintahannya hanya berjalan 3 tahun. Kematiannya mencengangkan, karena tenggelam di laut saat sedang bertamasya dengan putra-putrinya. Desas-desus yang berkembang di istana, mengatakan bahwa Dyah Wijayakumara terjangkit hilang ingatan. Batinnya tertekan ketika harus menyelesaikan persoalan Majapahit yang kompleks dalam waktu sesegera mungkin. Kondisi ini membuatnya jatuh dalam kubangan putus asa. Intrik-intrik politik dari aristokrat lain yang berkeliaran mengancam tahta, membuat kesehatannya menurun dan kewarasan pikirannya terganggu. Saat putra-putrinya berusaha menghibur dengan mengajaknya berwisata dengan perahu di laut, Sang Sinagara lepas kendali. Ia menceburkan diri lantas tenggelam. Setelah peristiwa itu, Majapahit mengalami kekosongan kekuasaan selama tiga tahun. Disintegrasi kian menjadi-jadi. Kriminalitas bertebaran tak tertanggulangi. Makin banyak daerah taklukkan yang memisahkan diri dari Majapahit.

Duabelas tahun setelah Sang Sinagara meninggal, anak-anaknya menggelar upacara persembahan atau disebut pula dengan Istilah Sraddha Banawa Sekar. Sebuah gelaran besar yang diselenggarakan oleh salah satu anak Sinagara yang menjadi pemimpin di Kahuripan, salah satu negara bawahan Majapahit. Oleh sebab tersebut, ia dikenal dengan gelar Bhre Kahuripan. Ketika itu, majapahit dipimpin oleh Girisawardhana Dyah Suryawikrama Hyang Purwawisesa yang memegang tampuk kekuasaan dari tahun 1456 hingga 1466. Upacara inilah yang kemudian direkam oleh Mpu Tanakung dalam kakawinnya yang berjudul sama dengan upacara itu, yaitu Banawa Sekar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s