Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan (Bagian 3)

Maiyah Sebagai Bahtera Kebangsaan
Secara simulatif, konstelasi politik di indonesia pasca pemilu legislatif dan menjelang pemilihan presiden 2014 sudah bisa dibayangkan keruwetannya. Siapapun presiden yang terpilih, akan mewarisi kompleksitas persoalan dari pendahulunya. Situasi parlemenpun akan menghadapi perkara yang sama. Baik itu mengenai perilaku anggota-anggotanya maupun mutu pada hasil-hasil kerjanya. Rakyat akan tetap berlaku sebagai obyek penderita yang terabaikan kesejahteraanya. Situasi adu kuat dan saling sandera kepentingan antar golongan masih terus berlangsung, seperti tampak di panggung politik indonesia dewasa ini. Kondisi demikian akan terjadi, dengan catatan : semua pemegang kekuasaan tidak mau merevolusi dirinya sendiri.

Idealnya, pemerintahan hasil pemilu 2014 ini bisa dijadikan sebagai batu loncatan strategis untuk mengobati penyakit bangsa yang terlanjur kronis. Rentang lima tahun kedepan, bisa dijadikan masa transisi untuk bersih-bersih dan memugar konstitusi untuk mengamendemen pasal-pasal yang mengancam kesejahteraan rakyat. Perbaikan sistem pada lembaga-lembaga negara yang selama ini menjadi sarang korupsi juga bisa dilaksanakan pada masa transisi tersebut. Demikian pula dengan pembenahan mekanisme pemilu berikut revisi undang-undang kepartaian, supaya pribadi-pribadi yang terpilih untuk memegang amanat kedaulatan rakyat, bisa berkualitas dan mengedepankan keadilan. Rekonsiliasi nasional terhadap generasi-generasi yang tersakiti di masa lampau, bisa digelar. Agar Indonesia lancar berkembang tanpa diselipi dendam dari rakyatnya.

Sayangnya, tidak gampang untuk mencapai hal ideal tersebut. Bahkan nyaris mustahil, jika melihat peta politik terkini. Tapi, Indonesia tentu tak ingin berakhir tragis layaknya majapahit. Luluh lantak dalam benturan berkepanjangan, tercerabut dari akarnya, lantas tersingkir dari pentas sejarah berjalan. Kajian-kajian mengenai keruntuhan majapahit sudah selayaknya dijadikan formula untuk menemukan karakter keindonesiaan yang kokoh dan melindungi semua pihak yang bernaung didalamnya.

Perlu pemicu yang dahsyat dengan daya tembak yang hebat untuk menjebol kebuntuan sistem bangsa ini. Pada peran inilah, Maiyah bisa secara aktif terjun membuka jalan keluar kratif bagi bangsa. Menginisiasi adanya evolusi atau bahkan revolusi. Menggalang kesadaran dari berbagai pihak untuk instrospeksi diri : bahwa harus ada perbaikan yang fundamental dalam sistem ketatanegaran dan cara berpikir kebangsaan di Indonesia.

Komunitas-komunitas yang tergabung dalam ikatan maiyah berperan seperti wanua-wanua yang menebarkan semangat kepada daerah-daerah untuk tetap optimis menjejak masa depan. Memberi jabaran strategi, sekaligus mengiringi implementasi teknis dengan daerah-daerah tersebut, agar tidak goyah ketika Jakarta mengalami krisis. Para intelektual maiyah berlaku layaknya kaum tapa yang menghuni mandala-mandala. Menghuni laboratorium-laboratorium maiyah, untuk merusmuskan sekaligus menguji gagasan-gasgasan segar demi kemaslahatan bangsa.

Langkahnya bisa dimulai dengan memanfaatkan momentum pasca pemilu, agar bisa dijelmakan sebagai masa transisi untuk melakukan nyadran bagi negeri. Menggelar upacara refleksi sekaligus konsolidasi nasionalisme. Nilai-nilai keluhuran dan konsep-konsep hidup bersama yang telah bertahun-tahun digodok dalam diskusi-diskusinya, sudah saatnya diujicobakan. Maiyah layaknya bahtera besar yang menampung aspirasi suci dan wangi bangsa ini menuju Indonesia yang memangku dunia. Menjadi banawa mengangkut sekar kebangsaan, untuk nyadran Indonesia.

Lubuklinggau, 10 Mei 2014

Pustaka

– P.J. Zoetmulder, Djaman Mpu Tanakung. Laporan KIPN-II, VI, 1965
– Bambang Pramudito. Kitab Negara Kertagama: sejarah tata pemerintahan dan peradilan Kraton Majapahit. Gelombang Pasang, 2006
– Manu, Kakawin Banawa sekar tanakung : studi mengenai upacara sraddha pada akhir majapahit. Universitas Gadjah Mada, 1987
– Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, M.A. Genealogi keruntuhan Majapahit, Pustaka Pelajar 2010
– Reid, A. Dari Ekspansi hingga krisis II jaringan perdagangan global Asia Tenggara 1450-1680. Yayasan Obor Indonesia, 1999
– Masroer Ch, J. Sejarah perjumpaan agama-agama di jawa. Ar-Ruzz yogyakarta 2004
– P. Carey. Orang Cina, bandar Tol, Candu dan perang hawa : perubahan persepsi tentang cina 1755-1825. Komunitas Bambu jakarta 2002
– Rahardjo, S. Kota-kota pra-kolonial Indonesia, Pertumbuhan dan keruntuhan, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2007
– Sunyoto, A. Sang pembaharu perjuangan dan Ajaran Syaikh Siti Jenar. LKIS Yogyakarta 2004
– Bayu Widyatmoko. Kronik Peralihan Nusantara : Liga Raja-raja hingga kolonial, Datamedia Yogyakarta, 2013
– M.C Ricklefs, A History of Modern Indonesia, Universitas Gadjah Mada, 2011
– Prof. Dr. Slamet Mulyana. Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. LKIS 2005
– Prof. Dr. Slamet Mulyana, Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit. LKIS 2007
– R. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Kanisius, Yogyakarta 1991
– Djoko Pramono. Budaya Bahari, Gramedia Pustaka Utama 2005

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s