Menjahit Perca Kisah Raja Jawa Tanpa Mahkota (Bagian 1)

Catatan dari balik layar Film Tjokroaminoto (2015)

_

Pada Mulanya adalah Puzzle

_

Hawa pagi itu begitu menggigit. Suasana di kawasan Benteng Pendem Ambarawa terkesan mencekam. Beberapa sudut terlihat gelap. Lampu penerang hanya tersedia pada sedikit titik. Suara-suara binatang malam masih nyaring berpadu dengan sayup irama tilawah ayat suci Al Qur’an yang tersiar dari surau di kejauhan. Arloji yang melingkar di pergelangan tangan saya menunjuk pukul 4 subuh hari. Sejumlah orang terlihat hilir mudik, tak jauh dari tempat saya duduk. Dua buah mobil truk telah terpakir. Mereka adalah para kru film yang tiba beberapa menit sebelum saya hadir. Ini adalah hari pertama pengambilan gambar untuk film Tjokroaminoto yang disutradai oleh Garin Nugroho. Saat yang ditunggu-tunggu telah datang, sesudah dua tahun dipersiapkan.

Alasan satu-satunya saya hadir lebih cepat di tempat ini adalah sebab semalam suntuk saya sulit tidur. Beruntung ada Agus Bejo dan Kardi yang memang berencana datang lebih dini ketimbang yang lain. Agus adalah manajer lokasi untuk proyek film Tjokroaminoto ini. Sedang Kardi adalah kru yang kerap membantunya. Dengan menumpang mobil mereka, saya berangkat dari hotel menuju Benteng Pendem.

Tak jenuh-jenuh, saya mengelilingkan pandangan mata pada kawasan yang sebenarnya bernama benteng Willem II ini. Atmosfir angker terasa dari segenap sisi. Usianya yang tua, sebab dibangun pada tahun 1786, mengalirkan nuansa asing dan purba. Benak saya mengembara ke masa silam. Membayangkan bagaimana kahanan tempat ini ketika masih aktif dipakai. Layaknya berdiri di tengah pusaran waktu. Begitu banyak imajinasi lalu-lalang. Mengetuk-ketuk daya khayal, berusaha merekonstruksi kemungkinan kejadian-kejadian yang pernah terjadi di kawasan ini, lewat angan-angan.

Bukan pilihan yang keliru, bila tim produksi film Tjokroaminoto memilih benteng tersebut sebagai salah satu lokasi perekaman. Sebuah penjara kuno yang terdapat didalamnya, sangat cocok dijadikan latar untuk sejumlah adegan yang digambarkan pada naskah skenario. Saya memang tidak terlibat dalam pemilihannya. Saat penilikan tempat, beberapa bulan yang lalu, saya juga tidak turut serta. Tapi, begitu datang pagi ini, saya merasakan kemiripan terkaan, antara kondisi penjara dalam benteng dengan bayangan saya saat meriset dan membantu menulis film ini.

Saya jadi ingat masa-masa awal, sewaktu cerita film Tjokroaminoto ini masih berupa gagasan-gagasan di kepala. Tergabung dalam tim kreatif yang dibentuk Picklock production, saya terlibat dalam penggodokan ide-ide yang bisa dijulur menjadi alur apik dan layak dituturkan dalam bahasa audio visual. Bersanding satu meja dengan Sabrang Mowo Damar Panuluh, mbak Dewi Umaya dan almarhum Ary Syarif, merupakan kehormatan buat saya. Lewat diskusi yang rekat di tim ini, mulailah konsep cerita Tjokroaminoto ini dirembug. Sabrang seorang pemikir handal. Salah satu manusia ajaib yang pernah saya kenal. Sedang mbak Dewi adalah produser ulung yang juga pemilik picklock bersama dengan Sabrang. Kemudian Ary merupakan penulis skenario profesional sekaligus dosen film di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Dalam proyek film tersebut, ketiganya adalah produser. Ary merangkap peran sebagai penulis skenario. Sedang saya berposisi sebagai periset yang juga diperbantukan sebagai penulis pula. Beberapa bulan sebelum proses syuting film dimulai, Ary meninggal dunia. Kejadian itu membuat seluruh tim yang terhimpun dalam proyek ini berduka. Terutama saya, yang sangat intens bekerja dengan dia dalam penyusunan skenario.

Kami mulai mengolah ide sejak pertengahan tahun 2012. Pertemuan demi pertemuan dijelang. Namun, mengangkat tema sejarah untuk sebuah film, memang bukan hal yang gampang. Hingga menjelang pungkasan tahun tersebut, kami belum menemukan sudut pandang yang nyaman untuk berkisah mengenai tokoh besar Tjokroaminoto. Namun syukurlah, berkat semangat yang tak putus-putus, di awal tahun 2013, kami akhirnya bisa menemukan bentuk cerita yang kami rasa bakal menarik.

Beberapa bulan sebelum rangkaian diskusi itu terjadi, tepatnya pada awal 2012, saya telah bekerja lebih dulu. Sebagai orang yang bertugas menyiapkan informasi sejarah untuk keperluan pembangunan cerita, saya mesti melengkapi data historis yang akan diperlukan dalam film ini. Tidak hanya kelengkapan data mengenai riwayat hidup sang tokoh – Tjokroaminoto – namun juga segala informasi yang berkait dengan zaman saat Tjokroaminoto hidup. Buku-buku yang menumpuk di perpustakaan pribadi saya, segera dibaca ulang. Perpustakaan Nasional dan Lembaga Arsip Nasional, saya sasar untuk mengumpulkan referensi sejarah terkait. Ditambah dengan sejumlah berkas koran kuno dan buku-buku tentang sarekat Islam yang dipasok oleh pihak keluarga besar Tjokroaminoto, yang harus saya tekuni satu per satu. Boleh dibilang, nyaris empat bulan sejak awal tahun itu, kepala saya dipenuhi beragam informasi tentang jatidiri Tjokroaminoto berikut situasi Hindia Belanda serta dunia di awal abad ke-20.

Menjalani riset untuk film bukan hal yang sederhana. Lebih-lebih, bila bentuk cerita belum disepakati dengan pasti. Saya seperti menggambar bentangan peta, dengan informasi yang kompleks. Menyediakan segala kemungkinan alur kisah, menyusun informasi tersebut dalam konstruksi logika cerita yang solid dan sesuai dengan data sejarah. Sebab film memiliki karakter yang khusus dalam bertutur, maka informasinya harus tidak boleh lemah. Setiap peristiwa yang tercantum dalam film, harus memiliki jalur sebab akibat yang jelas. Kesinambungan tiap-tiap adeganpun mesti dibangun dengan argumentasi yang logis.

Film Tjokroaminoto termasuk dalam genre biografi. Bahan-bahan yang diperlukan untuk membangun cerita ini, tak hanya sebatas data riwayat sang tokoh semata. Informasi lingkungan yang berkaitan dengan gaya hidup dan pernik keseharian pada zaman yang bersangkutan dengan kehidupan sang tokoh, harus pula disediakan. Misalnya, ragam bahasa, varian pakaian, karakter arsitektur, seni tata kota ataupun desa, moda transportasi, kelumrahan teknologi terapan serta jenis profesi yang berlaku pada berbagai kalangan dari beragam kelas sosial saat itu. Khusus untuk film ini, jenis-jenis informasi diatas masih ditambah dengan informasi mengenai konstelasi politik regional hingga global pada periode tersebut.

Tjokroaminoto adalah tokoh besar, khususnya dibidang politik. Kemunculannya tak bisa lepas dari pusaran perubahan dunia awal abad ke-20. Maka latar internasional menjadi perlu untuk disertakan. Apalagi, bila menyangkut Sarekat Islam, organisasi yang dibesarkannya dengan mengagumkan. Perkembangan perhimpunan tersebut, erat berhubungan dengan bangkitnya politik Islam di Asia dan sebagian Afrika melawan kolonialisme, yang kesinambungannya terasa hingga masa sekarang. Dua dekade awal tahun 1900, adalah penggal waktu yang penting. Masa ketika berbagai ideologi tumbuh mencari bentuk. Menariknya, pulau jawa – terutama kota Surabaya – menjadi tempat bertemunya beragam gagasan tersebut. Dan Tjokroaminoto berada di tengah periode yang riuh itu.

Profesi periset film, secara khusus, memang belum populer di Indonesia. Biasanya, tugas meriset seperti yang saya lakukan, dibebankan kepada penulis naskah atau asisten sutradara. Tentu saja, disebabkan oleh kompleksitas hal yang disentuh, kerja tersebut dilakukan bersama tim pendukung. Barangkali, saya mendapat situasi yang berbeda, sehingga saat melaksanakan tugas itu, saya menjalaninya seorang diri. Ini tantangan sekaligus pengalaman istimewa. Berada ditengah keacakan informasi dan tertuntut untuk merangkainya dalam sebuah wadah cerita yang logis, membuat saya tenggelam dalam keasyikan yang menghayutkan. Seperti menghadapi bongkaran kepingan puzzle, lantas terdorong untuk menatanya menjadi sebuah wujud yang bisa dinikmati. Demi menata informasi yang sedemikian berjejal itu, saya menempuh metode sendiri. Saya sebut cara ini dengan nama Metode penyelarasan peristiwa antar garis waktu.

Kali pertama, saya mengurut dengan detil riwayat kehidupan pribadi Tjokroaminoto, dari lahir hingga meninggal. Sebuah kolom kronologi personal, saya gambar memanjang. Di pangkal, saya terakan angka tahun kelahiran sang tokoh, lalu di ujungnya saya taruh tahun meninggalnya. Pada bagian tengah bagan tersebut, dituliskan jejak langkah yang penting dari tokoh utama. Informasi mengenai pernikahan, pekerjaan, keluarga, kerabat, musuh dan teman, benda-benda pribadi hingga momentum pribadi yang berakibat pada perubahan sikap yang mempengaruhi hidupnya, diletakkan pada ruang tersebut. Rangkai informasi itu, dijajar berdasar asas angka tahun terjadinya peristiwa yang dialami oleh tokoh utama.

Langkah berikutnya, saya menggambar lagi sebuah kolom baru diatas yang sebelumnya. Sebutlah kolom itu dengan nama kronologi lingkungan regional. Kejadian-kejadian pada skala regional yang satu era dengan kehidupan tokoh utama, dituliskan pada bagian ini. Basis penulisannya tetap bersandar pada angka tahun kisaran kehidupan tokoh utama. Peristiwa-peristiwa yang dicatat ke dalam kolom, mesti punya sangkut paut pengaruh dengan dinamika tokoh utama. Hal-hal mengenai perkembangan konflik sosial, gejolak alam, regulasi politik pemerintah, keadaan ekonomi, geliat tradisi, hingga riwayat benda-benda yang akrab dipakai oleh orang banyak, menjadi topik pengisi pada kolom ini. Nama-nama tokoh baru akan muncul seiring pencantuman deret peristiwa tersebut. Mereka terkoneksi dengan tokoh utama pada interaksi langsung ataupun berjenjang dalam latar peristiwa yang sama.

Tahap selanjutnya adalah membuat kolom baru diatas kolom sebelumnya. Kontennya berupa peristiwa-peristiwa dunia, sebagai latar jauh, yang mempengaruhi segala aspek kehidupan masyarakat lokal maupun global. Sebut saja bagian ini dengan kolom kronologi peristiwa dunia. Informasi ini diperlukan untuk menggambarkan keadaan zaman dan referensi pikiran sosial. Bisa berupa penemuan teknologi, perang, gelaran internasional, berita populer di koran, yang kemunculannya menghentakkan perubahan mendunia hingga dampaknya – dimungkinkan – mempengaruhi kehidupan tokoh utama dan lingkungannya. Tata cara penulisan peristiwa dunia itu masih sama dengan catatan di kolom lain, yaitu menggunakan patokan angka rentang tahun saat tokoh utama hidup.

Dari ketiga kolom yang saling jajar, gambaran tentang dinamika tokoh utama dan ruang lingkup hidupnya sudah terbayang. Nama-nama baru telah hadir, mewarnai pergerakan sang tokoh. Begitu pula dengan sketsa suasana zaman, tradisi yang tengah berlangsung serta benda-benda yang menyertainya. Tinggal menentukan, dari masa mana cerita ini akan dimulai dan pada waktu kapan kisah tersebut hendak dipungkasi?

Hal yang terhitung penting dari pembuatan film biografi adalah penentuan periode yang dipungut dari hidup sang tokoh, untuk disuguhkan dalam cerita. Sikap tegas harus diambil, sebab pemilihan periode, akan sangat berkait dengan kerimbunan informasi yang akan dihadirkan. Film dibatasi oleh durasi, segala informasi yang disampaikan lewat adegan maupun dialog mesti dibangun kokoh serta efisien, supaya tidak menimbulkan kebingungan penonton. Maka penentuan periodesasi menjadi langkah yang menentukan dalam manajemen kompleksitas tokoh dan peristiwa, juga pengukuhan sudut pandang cerita.

Demi kepentingan dramatisasi , sentuhan kisah fiksi pada film ini adalah keniscayaan. Meskipun film Tjokroaminoto ini masuk dalam kategori film sejarah, namun keindahan kisah tak bisa dibebankan hanya dari fakta dan data historis. Film cerita sejarah, bukanlah sekadar kerja memindahkan teks-teks sejarah ke dalam media layar lebar. Lebih dari itu. Film sejarah merupakan ikhtiar menafsir teks-teks tersebut, bermain dengan intepretasi baru, merangkai logika-logika peristiwa masa lalu, bersimulasi dengan tata cara hidup dan berpikir zaman terdahulu, lewat bahasa audio visual.

Serupa anatomi tubuh manusia, data dan fakta pada film cerita sejarah diumpamakan sebagai kontruksi tulang. Sedang daging-dagingnya adalah kisah fiksi. Jajaran fakta dan dan sejarah itu akan dililit dan dijalin oleh kisah fiksi, supaya tayangan yang akan disuguh mampu menghadirkan lekuk-lekuk hidup yang logis dan akrab dengan definis khalayak tentang kehidupan itu sendiri. Sebab bila itu tidak dilakukan, maka film cerita sejarah hanya akan tampil sebagai rentetan gambar-gambar faktual yang sesuai dengan teks-teks sejarah saja. Sementara ruh kehidupan pada film cerita itu justru bisa tercerabut, lalu kehambaran bakal merebak.

Matahari sudah mencorong dari ufuk timur. Lembar-lembar sinar kekuningan menembus lubang-lubang angin penjara tua benteng Willem II yang sudah tak terpakai lagi. Saya berdiri menghadap jendela yang berjeruji besi. Pada sebaliknya, terlihat hamparan sawah hijau yang dibelah oleh akses menuju jalan tol baru, yang menghubungkan Ambarawa dan Semarang.

Pukul enam, benteng ini sudah ramai. Seluruh kru film sudah datang. Alat-alat terpasang pada tempatnya. Tak jauh dari tempat saya berdiri, Reza Rahadian, pemeran tjokroaminoto tengah bersiap dengan busananya. Mas Garin Nugrohopun telah duduk di kursi kebesarannya, bersebelahan dengan Pak Ong Harry wahyu yang berposisi sebagai desainer Produksi. Dibelakang kamera, pak Ipung Rachmat Syaiful selaku Director of Photopraphy sudah siap membidik. Pada sudut yang lain, Mas Trisno dengan tenang, duduk menghadap alat-alat pengatur dan perekam suara. Sebelum berada di pinggir jendela ini, saya sempat berbincang dengan Ipey Azzahra, Sugeng Wahyudi dan Putu Kusuma Wijaya perihal pernik data yang diperlukan pada adegan-adegan yang hendak diambil hari ini. Mereka bertiga adalah asisten sutradara. Saat yang sama, terlihat juga dari kejauhan, ibu Christien Hakim dan Om Didi petet sedang berbincang di tempat terpisah. Hari pertama ini memang ramai. Orang-orang semangat bekerja, bersama-sama menjahit perca, kisah manusia besar : Tjokroaminoto.

Sepuluh menit lepas dari pukul enam pagi, orang-orang telah siaga pada tugasnya masing-masing. Dengan suara yang dilantangkan megaphone, sutradara memberi aba-aba, bahwa perekaman gambar telah dimulai, “Action!”. Suasana berubah hening. Puluhan sorot mata tertuju pada sebuah sudut, tempat adegan dilangsungkan.

(Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s