Menjahit Perca Kisah Raja Jawa Tanpa Mahkota (Bagian 2)

Catatan dari balik layar Film Tjokroaminoto (2015)

_

Menggambar Kontras Zaman

_

Selembar kertas terselip di celah bawah pintu kamar. Malam baru saja beranjak. Di luar, desis angin menggoyang dahan-dahan kering pada pepohonan rindang di area hotel. Suaranya gemerisik. Sesekali terdengar gelak tawa dari pendopo, yang letaknya tak jauh dari kamar saya. Sejumlah orang sedang berkumpul. Mereka adalah para pemain pendukung film yang hari ini pulang lebih awal dari lokasi pengambilan gambar.

Barisan huruf berjajar rapi di permukaan kertas. Rangkaian jadwal syuting berikut rancangan bagian cerita yang hendak diambil esok hari tertera disitu. Seorang awak produksi telah mengantarkan carik pemberitahuan tersebut. Tapi karena kamar masih terkunci, sebab saya masih belum tiba, ia lantas menyusupkannya pada kisi-kisi pintu yang berdekatan dengan lantai.

Saya tertegun membaca ulasan calon adegan yang tercantum di helai daluang putih itu. Secara bertahap, cerita Tjokroaminoto sudah dikonversi menjadi gambar-gambar hidup. Simulasi kehidupannya berhasil diperagakan melalui seni peran. Teknologi sinema mutakhir begitu membantu terwujudnya hal itu dalam waktu relatif cepat. Kemampuan para pemainnya yang juga mumpuni, turut membuat proses perekaman tidak menuai halangan berarti.

Industri pertunjukkan dan hiburan mengalami perkembangan signifikan, setidaknya dalam limapuluh tahun terakhir. Demikian juga dunia perfilman. Meskipun di Indonesia, geliat pada industri ini baru terasa lagi menjelang awal milenium kedua, setelah matisuri sekian lama. Aktor dan aktris baru bermunculan. Sineas-sineas muda lahir. Peralatan dan metode pembuatannyapun semakin ringkas dan sangkil. Pertukaran pengetahuan serta distribusi informasi yang melintasi batas-batas geopolitik negara, membuat laju sebaran teknologi terasa begitu gesit. Barangkali, inilah yang disebut dengan revolusi. Perubahan cepat, kerapkali tak terduga, dalam kendali waktu yang misterius.

Sama halnya dengan yang terjadi di Surabaya pada permulaan tahun 1900. Transformasi drastis merambah kota itu jelang memasuki abad baru. Pendirian infrastruktur dipacu. Restoran, gedung pertunjukan, trem dengan relnya yang menjulur panjang, balai-balai pesta serta bangunan penanda modernitas, tumbuh dengan gaya arsitektur kolonial yang khas. Jalur-jalur penghubung antar tempat di dalam kota dilebarkan. Pada kanan kirinya, pohon-pohon besar berbaris rapi. Dibukanya jalur pelayaran melalui terusan suez, yang memperpendek waktu perjalanan laut antar benua, membuat Surabaya berubah wajah. Orang-orang Eropa berduyun-duyun merantau ke kota itu. Sebagai wilayah yang terbilang serasi untuk bertumbuhnya iklim perniagaan, Surabaya menjadi daerah perlawatan potensial bagi para pelancong tersebut.

Kapal-kapal uap merapat di pelabuhan Tanjung Perak membawa aroma zaman baru. Pemerintah kolonial sedang gencar-gencarnya membuka gerbang liberalisasi ekonomi, disamping memberlakukan program politik etis di tanah jajahan. Para pengusaha dan pekerja dari negeri-negeri seberang berlomba mengadu nasib di kepulauan Mooi Indie. Surabaya sendiri, telah terbiasa dihuni oleh manusia dari beragam etnis dan bangsa. Sejak masa Majapahit masih jaya, kota itu sudah masyhur sebagai kawasan yang akrab dengan kehidupan multikultur.

Namun, kolonialisme tetap memiliki dua raut muka berbeda, yang saling tempel bertolak belakang. Satu sisi tampak baik dengan menyelenggarakan pembangunan disana-sini, sisi lainnya, penindasan kepada bumiputera belum pula berhenti. Di tengah deru modernisasi a la eropa, tumbal-tumbal masih terus bergelimpangan. Bangsa bumiputera tetap menempati derajat terbawah dari kelas sosial yang dibangun pemerintah Hindia Belanda. Hanya beberapa kilometer, apabila keluar dari area perkotaan, pemandangan yang kontras segera terlihat. Rumah-rumah reot milik kaum kromo berdesak-desakan kumuh. Orang-orang kurus, dekil, berkaki nyeker mendiami kampung-kampung miskin mengenaskan. Puing-puing kehancuran pasca perang Jawa yang di pimpin Pangeran Diponegoro, masih terlihat pada wajah-wajah pedesaan. Bahkan, kelelahan akibat pertempuan gigih yang meluas itu, masih tergurat di ekspresi para tetua.

Lansekap paradoks juga mudah didapati di jalanan kota. Kalangan eropa yang berbusana serba putih klimis, beralas kaki mengkilap, mendominasi lalu lintas kesibukan. Kaum perempuannya berdandan cantik dengan gaun berkibar-kibar. Cara berpakaian yang tak cocok dengan iklim tropis. Di sela-selanya, pedagang sayur, tukang jahit, babu dan buruh-buruh yang kebanyakan berasal dari bangsa bumiputera, hilir mudik diremehkan. Tuan rumah dari tanah yang di eropa begitu dipuji keindahan alamnya itu, tampil miris di kampung sendiri.

Tentu saja, tidak semua bumiputera mengalami situasi yang memprihatinkan. Sebagian kecilnya mendapatkan kelayakan hidup diatas rata-rata jelata Jawa. Mereka adalah golongan priyayi lama, keturunan bangsawan dari masa lalu, yang memperoleh kemudahan-kemudahan akses ekonomi. Ada pula kaum pedagang bumiputera yang kaya, sehingga menempati posisi terpandang di mata orang banyak. Darah biru dan kepemilikan harta berlebih menjadi patokan bagi makna kemakmuran. Meski demikian, taraf status sosial mereka tidak bisa lebih tinggi dari orang Belanda maupun Eropa Tulen lainnya.

Dari ras lain, kaum Tionghoa yang sebelumnya juga mengalami ketidakadilan dari pemerintah kolonial, berhasil melakukan perubahan sebagai imbas terjadinya revolusi politik di tanah Tiongkok. Posisi sosialnya kontan naik, meski masih dibawah kalangan Belanda dan Eropa totok. Mereka memotong kuncir Manchu secara massal sebagai simbol perayaan atas keterlepasan dari sistem lama. Secara beramai-ramai, kalangan Tionghoa itu juga mengganti busana tradisionalnya dengan pakaian-pakaian model Eropa. Terdapat kekhawatiran dari pemerintah Hindia Belanda, apabila kelas kemasyarakatan kalangan Tionghoa itu tidak diunggahkan. Perlawanan politik sebagaimana terjadi di Tiongkok sana, bakal menular ke Hindia. Sementara itu, nasib baik masih berpihak kepada keturunan ras Arab. Kepenguasaan lahan perdagangan selama berabad-abad menempatkan mereka pada level yang lebih nyaman. Pemerintah kolonial dan penguasa eropa tak serta merta mudah merebut area perniagaan yang sudah mapan di kelola oleh kalangan tersebut. Selain itu, sebagian dari keturunan arab memiliki kedudukan terhormat di masyarakat karena berperan sebagai ulama dan tinggal di kawasan terpadu dengan menyelenggarakan pendidikan agama Islam.

Di kemudian hari, seiring berjalannya politik etis yang membuka kesempatan bersekolah kepada kalangan bumiputera, akan melahirkan priyayi jenis baru. Anak-anak bumiputera yang mampu mengenyam pendidikan itu, tengah merintis lembaran kehidupan baru di Hindia Timur. Adat Eropa yang menyusup lewat ajaran-ajaran di Sekolah, mempengerahui cara hidup dan pola berpikir generasi ini. Tata cara berpakaian mereka berubah. Cita rasa Jawa dipadu dengan gaya busana Belanda. Tutur kata keseharian juga bergeser. Pencampuran bahasa Jawa, Melayu Pasar dan Belanda menjadi hal yang lumrah dalam ujaran sehari-hari. Meski tampak kikuk, tapi bujukan perubahan zaman memang sulit dihindari. Kelas anyar yang lahir di dekade awal abad ke-20 ini memiliki corak baru, yaitu intelektualitas dan gaya hidup akulturatif. Mereka tidak semata mendasarkan pencapaian posisi sosialnya hanya pada kebangsawanan dan kekayaan harta. Namun lebih pada pengunggulan kemampuan mengolah gagasan-gagasan kesadaran akan persamaan hak hidup di tengah keterjajahan. Tren seperti ini tidak hanya terjadi di Hindia Belanda. Kecenderungan yang sama, sedang menyebar di wilayah-wilayah lain di Asia dan Afrika yang mengalami kolonialisme Eropa

Potret-potret inilah yang ingin digambarkan sebagai latar lingkungan dalam film Tjokroaminoto. Deskripsi tentang masa kolonial yang tidak melulu suram. Kesan yang ingin ditayangkan dari ilustrasi fisik tentang periode tersebut adalah kenecisan yang paradoks. Sebagaimana yang tertangkap dari tata wilayah maupun dari ekspresi gaya hidup manusianya, yang lazim pada kota-kota besar di pulau Jawa awal abad 20. Saat memutuskan untuk mengangkat interpretasi ini, mas Garin Nugroho sangat bersemangat. Dia seorang sutradara yang juga intensif membaca referensi sejarah. Bukan hal baru bagi Mas Garin untuk menempuh tafsir-tafsir sejarah yang berbeda dari pengetahuan mainstream. Terdapat semangat yang sama dalam diri masing-masing anggota tim kreatif : tidak ingin stereotip dalam penggambaran tentang keadaan masa lalu. Jangan sampai terjebak pada nostalgia cengeng, dengan hanya menyajikan visual-visual yang ngenes dengan informasi ruang dan budaya yang klise pula. Film ini ingin membeberkan realitas, bahwa kebusukan kolonialisme adalah membuat pesta pora kapitalisme diatas penderitaan jutaan penduduk bumiputera. Terdapat misi untuk mengemukakan keadaan, bahwa pernah ada sebuah masa di tanah nusantara ini, bahwa kemewahan dan kemelaratan tampil bersebelahan. Layaknya menggambar sketsa kehidupan Surabaya tahun 1900-an, informasi tentang kontras zaman mesti dititipkan pada tiap sudutnya.

Masa ketika Tjokroaminoto tumbuh menuju sosok yang diperhitungkan, merupakan era yang tampaknya adem, tapi ternyata menyimpan bara. Seperti yang sudah banyak diketahui, awal tahun 1900 ini terbit tokoh-tokoh besar yang dikemudian hari melahirkan gagasan tentang Indonesia. Mereka yang terdidik secara belanda – sebagai akibat dari politik etis – namun kemudian justru menggalang pikiran untuk melawan pihak yang menyediakan sekolah itu. Senjata yang makan tuannya. Tapi, hal-hal yang demikian adalah keniscayaan. Saat manusia terus-menerus ditindas dan dirampok, cepat atau lambat, akan mekar hasrat pemberontakan untuk melepaskan diri dari kesewenang-wenangan itu. Situasi psikologis yang seperti inilah yang ingin dipaparkan lewat laku visual pemeran-pemeran utama film Tjokroaminoto. Merepresentasikan kegelisahan sebuah generasi yang protes terhadap ketimpangan-ketimpangan akibat kolonialisme yang dipersenjatai penghisapan kapitalisme.

Tjokroaminoto lahir dalam lingkungan akulturatif yang kuat. Ia keturunan bangsawan yang bertradisi santri sekaligus. Tipikal pribadi Jawa yang memiliki kemampuan adaptasi handal. Menerima aliran nilai-nilai dari luar lingkaran budayanya, tapi tetap teguh memegang prinsip hidup sebagaimana diterima turun menurun dari leluhur. Mental yang serupa ini menuntun Tjokroaminoto dalam memahami setiap gejala-gejala dan dinamika sosial yang berkelebatan di sekelilingnya. Saat situasi kejiwaan masyarakat secara umum terbelit kegamangan, akibat ketidakjelasan identitas kultural kolektif, Tjokroaminoto bergerak memikirkan siasat pelukar.

Nilai-nilai kearifan lokal nyaris terikikis habis, demikian pula dengan nilai-nilai Islam. Dua hal tersebut pernah begitu berarti saat Jawa berada pada masa pra kolonial setelah imperium besar nusantara terakhir – Majapahit – runtuh. Nilai-nilai itu tiba-tiba surut setelah penjajahan Eropa mencengkeram. Ia melihat khalayak sekelilingnya tengah berada pada titik nadir kemunduran peradaban dan ketakutan, hingga tidak kuasa menghardik segala ketidakadilan yang menimpa. Tidak ada lagi ikatan bersama yang sanggup memicu gerakan emansipasi yang menyertakan segala lapisan kelas sosial. Tjokroaminoto membaca, mendengar dan memasak gagasan yang lalu lalang di pergaulannya, untuk menemukan formula pengikat, demi menyatukan keterceraiberaian masyarakatnya itu. Tjokroaminoto berkembang dalam pribadi yang kosmopolit, lantas menggunakan Islam sebagai dasar untuk mengaktifkan lagi kesadaran masyarakatnya tentang perlunya memperjuangan martabat kemanusiaan.

Suasana batin Tjokroaminoto yang demikian, diharapkan bisa tersaji lewat pemeranan yang dilakukan dalam Film ini. Kekuatan karakter menjadi syarat utama bagi siapapun yang akan menjadi aktornya. Pilihan terbaik telah dicapai, ketika Tim Produser dan Penyutradaraan memutuskan nama Reza Rahadian sebagai pemain yang memerankan Tjokroaminoto. Saya tidak mengenal Reza sebelumnya, tapi melihat aktingnya di beberapa film, sayapun sependapat, bahwa dia mampu membawakan citra Tjokroaminoto ini dengan baik.

Terdengar suara lelaki bersenandung dengan iringan dentingan gitar dari kamar sebelah. Saya tergeragap. Segera saya letakkan di meja, kertas jadwal yang sedari tadi terpegang tangan. Rupanya Mas Sofyan tengah melepas kepenatannya dengan bernyanyi. Sofyan adalah Asisten sutradara yang khusus menangani pemantapan dialek Jawa Timuran pada beberapa pemain. Ia orang yang kerap membawa suasana ceria dengan guyonan-guyonan renyahnya. Rasa capek dan jenuh yang seringkali hinggap di lingkungan syuting, bisa terhalau saat ia melepaskan lontaran-lontaran lucunya. Sehari penuh berada di lokasi perekaman memang melelahkan. Pilihan yang paling sesuai untuk meredakan letih adalah mandi air hangat, lantas setelahnya merebah leyeh-leyeh. Meskipun suara Mas Sofyan diluar sana tidak begitu merdu, tapi setidaknya, alunan itu sudah cukup untuk dijadikan musik pengantar tidur.

(Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s