Menjahit Perca Kisah Raja Jawa Tanpa Mahkota (Bagian 3)

Catatan dari balik layar Film Tjokroaminoto (2015)

_

Memilih Wayang dari Kotaknya

_

Pertanyaan yang acap terlontar berkait dengan ragam penokohan dalam Film Tjokroaminoto adalah : Apa yang membuat segelintir orang di masa itu sedemikian cendekia?

Pada beberapa kesempatan, teka-teki itu masuk dalam obrolan-obrolan ringan. Sembari menunggu persiapan pengadeganan dilokasi syuting atau sewaktu jeda istirahat tiba. Entah iseng atau serius. Cukup sering saya disasar oleh pertanyaan-pertanyaan sejenis. Saya sendiri tidak mengerti pasti, ungkapan apa yang cocok untuk menanggapinya. Mengukur kualitas intelektual sekelompok orang pada sebuah zaman bukanlah hal yang gampang. Apalagi bila parameter yang digunakan untuk menganalisanya datang dari zaman yang berbeda. Perlu lembaran khusus untuk menjawabnya secara panjang lebar. Sebab penjelasan atas itu tak cukup dengan membuka kembali referensi sejarah lokal dan dunia. Namun juga harus membabar ulang pemahaman tentang psikologi sosial, antropologi budaya, jejaring interaksi antar bangsa juga pemetaan sebaran informasi global yang mewarnai era itu.

Lemparan tanya sebagaimana tercukil diawal tulisan ini, merupakan kelumrahan. Tokoh-tokoh fenomenal yang dihadirkan dalam film Tjokroaminoto memang mengundang percik keingintahuan. Selain Tjokroaminoto, tampil Semaoen : lelaki belia yang memiliki cara berpikir melampaui umurnya. Saat berkenalan dengan Tjokroaminoto, usia Semaoen belum genap limabelas tahun. Kemudian Agoes Salim, intelektual Minang yang menguasai kemampuan retorika mumpuni. Usia Salim terpaut satu tahun lebih muda dibanding Tjokroaminoto. Ada pula Darsono, karib Semaoen yang kritis lagi jeli menganalisa persoalan. Seiring dengan mereka, nampak orang-orang dengan kualitas nalar dan semangat juang linuwih seperti Sneevliet, Sosrokardono, Hadji Samanhudi, Moeso serta Koesno. Figur yang dicantum terakhir, adalah orang yang disebut-sebut sebagai anak ideologis dari Tjokroaminoto. Di kemudian hari, ia akrab disapa Bung Karno

Terdapat tokoh-tokoh yang kurang populer di wawasan umum, tapi begitu penting dalam kehidupan Tjokroaminoto. Misalnya, Hasan Ali Soerati dan Dr. Douwe Adolf Rinkes. Keduanya menempati porsi yang banyak pada pengisahan film ini.  Hasan Ali adalah seorang saudagar sekaligus intelektual keturunan india – tepatnya kawasan Surat, Gujarat – yang mendukung langkah-langkah Tjokroaminoto. Ia aktif menyokong ide-ide Tjokroaminoto terutama dalam urusan permodalan dan finansial gerakan. Di Surabaya, ia menjalankan bisnisnya sembari mengelola lembaga diskusi bernama Panti Manikem. Dari sosok Hasan Ali inilah, jaringan Islam internasional Tjokroaminoto terjalin. Hasan adalah salah satu otak dibalik penerbitan koran Oetoesan Hindia yang menjadi corong pemikiran Tjokroaminoto dimasa awal ia membesarkan Sarekat Islam.

Lain halnya dengan Rinkes. Dia merupakan pembesar teras di lingkungan pemerintahan Hindia Belanda. Murid dari Snouck Hurgronje itu menjabat sebagai Penasihat Urusan Bumiputra. Seorang ilmuwan yang terjun ke dunia politik. Giat mempelajari peradaban Jawa dan fasih berbahasa Melayu. Kerekatan hubungan Rinkes dan Tjokroaminoto terjalin saat Sarekat Islam tengah menjelangi masa-masa sulitnya. Peran Rinkes terbilang unik. Ia seorang yang diperintahkan Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk mengendalikan gerak langkah Tjokroaminoto, tapi lambat laun malah jatuh cinta dengan pikiran-pikiran pemimpin Sarekat Islam itu.

Sebenarnya masih meruah nama-nama lain yang ingin diturutsertakan. Tapi film punya keterbatasan. Terlalu banyak tokoh yang diangkat, bisa mengakibatkan kerumitan serius dalam struktur cerita. Para penampil pada rangkai adegan film mesti dibatasi, supaya pengenalan dan pembangunan jejaring koneksinya dengan tokoh utama, mudah merasuk dalam ingatan penonton. Untuk kepentingan tersebut, tim kreatif film melakukan penyortiran nama-nama. Langkah ini memang dilematis. Butuh kerelaan berlimpah. Mengingat pribadi-pribadi yang berada dilingkar kehidupan Tjokroaminoto, dalam pergaulannya di Sarekat Islam maupun dengan aktivis politik lain, rata-rata memiliki karakter menarik. Sebut misalnya, Mas Marco Kartodikromo, Raden Mas Tirto Adhiesoerjo, Kiai Hadji Ahmad Dahlan, Hadji Misbach, Abdoel Moeis, Ernest Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, Soewardi Soerjaningrat dan saudaranya – Si Raja Mogok – Soerjopranoto.

Mereka adalah ksatria-ksatria yang lahir ketika negara yang bernama Indonesia belum ada. Orang-orang yang tumbuh dalam pikiran berbeda dan dibalut kekhasan masing-masing. Orang-orang yang terbiasa bersilang pendapat, tapi tetap menjaga hubungan persahabatan satu sama lain. Di meja debat mereka lihai mengolah pendapat. Pada kolom-kolom surat kabar mereka tajam berpolemik. Namun sebagai manusia yang saling kenal, masing-masingnya bisa menjaga kemesraan. Sungguh mental-mental yang istimewa. Layaknya sungai-sungi kecil yang mengalir dari hulu berbeda, lantas bertemu di muara yang sama : cita-cita untuk lepas dari ketertindasan.

Tim kreatif lantas memikirkan cara untuk tetap bisa menerakan nama-nama itu dalam film meski tanpa pemeranan. Bagaimanapun, sepak terjang Tjokroaminoto sebagai figur sentral dalam gerakan emansipasi bumiputera awal abad 20, tidak bisa lepas sama sekali dengan tokoh-tokoh tersebut. Atas pertimbangan itu, ditempuhlah cara representatif untuk tetap menyinggung mereka. Metodenya, dengan menghadirkan sebagian besar dari tokoh-tokoh tadi lewat berita koran-koran yang dibaca oleh pemeran inti atau disitir melalui dialog-dialog. Dalam rembug intensif yang digelar oleh Tim penyusun skenario, keputusan itu diambil sebagai jalan paling menyamankan untuk menyederhanakan jejaring kompleks penokohan.

Harus disadari, bahwa prioritas utama dalam film ini adalah periwayatan personal Tjokroaminoto. Ia sebagai seorang pemikir, bapak dari anak-anaknya, guru bagi sekalian orang yang berhimpun membangun cita-cita di rumah Paneleh dan pelopor keberanian bersikap untuk masyarakatnya. Sedang perihal Sarekat Islam – tempat Tjokroaminoto berinteraksi dengan tokoh-tokoh besar yang namanya disebut diatas – hanya akan berlaku sebagai latar. Meskipun, citra Tjokroaminoto dan Sarekat Islam memang sulit untuk dipisahkan. Tapi film ini tidak ingin tersekap dalam sengkarut adegan mengenai organisasi. Akan menjenuhkan, jika fragmen-fragmen rapat atau konflik struktural Sarekat Islam tayang dominan di layar. Demi menghindari itu, maka informasi mengenai Sarekat Islam akan dituturkan dalam porsi yang tidak berlebihan, agar drama pergulatan pribadi Tjokroaminoto bisa menempati bagian yang lebih banyak.

Kerja Tim kreatif pada film ini mirip dengan gerak-gerik dalang saat hendak memulai pagelaran. Dari sekian banyak wayang yang tersedia dalam kotak penyimpanan, ia hanya akan memilih beberapa saja untuk dimainkan dalam lakon tertentu. Bukan berarti wayang-wayang yang tidak terpungut adalah jenis yang tidak penting. Tapi sebuah kisah membutuhkan batas-batas supaya efektif saat dituturkan. Penyederhanaan jumlah tokoh dan lapisan konflik dari tokoh-tokoh tersebut merupakan salah satu batas yang mesti dibangun, agar tema dan pesan cerita bisa lancar disalurkan.

(Bersambung)

Advertisements

One thought on “Menjahit Perca Kisah Raja Jawa Tanpa Mahkota (Bagian 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s