Menjahit Perca Kisah Raja Jawa Tanpa Mahkota (Bagian 4)

Catatan dari balik layar Film Tjokroaminoto (2015)

_

Di Antara Wajah-Wajah Masa Silam

_

Semarang masih menjadi tempat yang asing untuk saya. Meski lahir di salah satu kabupaten yang seprovinsi, tidak serta merta membuat saya akrab dengannya. Barangkali, karena ingatan yang terekam di kepala tentang daerah itu juga sedikit. Saya tidak pernah tinggal lama di sana. Hanya melintas atau sekadar singgah sejenak. Setelah sembilan hari beraktifitas di kisaran Ungaran dan Ambarawa, Tim Film Tjokroaminoto berpindah ke Semarang. Terdapat tiga tempat yang akan dijadikan lokasi pengambilan gambar. Bagi saya, ini sekaligus jadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat kota tersebut. Bersama Gundul dan Ipey, saya berangkat lebih awal. Sekitar pukul delapan malam, beberapa puluh menit sehabis perekaman gambar terakhir di wilayah Tuntang, kami melajukan kendaraan menuju ibukota Jawa Tengah itu. Sementara kru yang lain, bertolak keesokan harinya.

Keramaian belum pudar ketika kami memasuki kawasan Simpang lima. Hilir-mudik kesibukan, mewarnai suasana. Lalu lintas padat, sedangkan saat itu bukan malam minggu. Mulai dari gerbang kota, kerap terlihat lapak-lapak santapan penggugah selera. Aneka rupa hidangan dijajakan. Warung-warung tenda yang berbaris di bahu jalan itu, rata-rata disesaki pengunjung. Tak terkecuali dengan yang terdapat di seputaran Tugu Muda. Nampaknya, Semarang tengah meneguhkan diri sebagai daerah tujuan wisata kuliner.

Di dalam mobil, Gundul dan Ipey menunjuk sebuah tempat untuk kami mampir makan dan bersantai. Keinginan melepas kepenatan sambil menikmati hawa beda, memang jadi tujuan pokok kami kenapa pergi lebih dahulu. Sekian waktu berkutat dengan rutinitas syuting yang kadang memancing rasa jenuh, membuat kangen dengan suasana baru. Saya yang duduk dibelakang kemudi manut saja dengan pilihan mereka. Kendaraan segera saya belokkan pada arah yang dimaksud.

Obrolan kami mengalir sejak dalam perjalanan. Begitupun sesudah duduk pada salah satu warung. Sembari memesan lalu menunggu datangnya makanan dan minuman, pembicaraan tentang beragam topik itu terus berlanjut dengan hangat. Gundul dan Ipey sama-sama sebagai asisten sutradara dalam proyek film Tjokroaminoto. Hanya saja berbeda di kekhususan tugas. Ipey berposisi sebagai orang yang mengurus serta mengatur jadwal rekam para pemeran inti. Untuk itu, ia banyak berhubungan dengan talent coordinator demi penyelarasan ritme dan wewenang kerja. Sementara Gundul lebih bertanggung jawab untuk menyediakan dan mengelola para figuran atau galib disebut ekstras. Nama sebenarnya Ibnu Widodo, namun entah kenapa lazim disapa Gundul. Padahal kepalanya tidak plontos. Ia pegiat seni yang telaten. Salah seorang pendiri Komunitas Sego Gurih Jogja dan yang merawatnya hingga kini. Sebuah kelompok teater khas, yang senantiasa memanggungkan sandiwara berbahasa Jawa, dengan mengusung tema kehidupan sehari-hari masyarakat perkampungan. Lewat keluasan jaringan yang dimiliki disertai kemampuannya untuk lentur berkomunikasi dengan berbagai kalangan, beban mengumpulkan figuran menjadi hal yang tidak sulit untuk dilakukan.

Film ini memang menuntut pemain pembantu yang banyak. Terutama pada adegan-adegan yang menggambarkan latar ruang publik. Seperti pasar, jalan raya, kafe, stasiun maupun pentas pertunjukkan. Lebih-lebih, apabila berkenaan dengan fragmen rapat terbuka yang diselenggarakan oleh Sarekat Islam. Hadirnya para figuran yang berlimpah di peristiwa itu menjadi kemestian.

Dalam bahasa Belanda, rapat terbuka itu disebut Vergadering. Lidah jawa sering melafalnya dengan Begandring, yang memiliki arti sama dengan kata aslinya. Pada masa pertumbuhannya, Vergadering menjadi ujung tombak kegiatan Sarekat Islam dalam menyebarkan gagasan-gagasan ideologisnya. Kaum bumiputera dikumpulkan di tanah lapang, untuk mendengarkan orasi-orasi dari para petinggi organisasi tersebut. Apalagi jika yang berbicara di hadapan khalayak itu adalah Tjokroaminoto. Orang-orang yang berhimpun akan tampak layaknya tersihir dengan wibawa yang menyatu dalam kata-kata sang pemimpin. Dalam banyak catatan yang memuat bahasan tentang Tjokroaminoto, suasana tatkala dia berpidato itulah yang sering digambarkan dengan dramatis.

Tjokroaminoto tenar sebagai orator ulung. Kemampuan menyusun kalimat serta mengatur irama wicara yang memukau adalah salah satu senjata kelebihan yang dimilikinya. Metafora-metafora yang berasal dari mitologi lokal maupun dunia wayang, sering diangkatnya sebagai perlambang keadaan. Sejak pertama kali naik podium pada konggres perdana Sarekat Islam di Taman Kota Surabaya, 26 Januari 1913, pamornya sudah terpancar. Riuh rendah Vergadering yang dihadiri puluhan ribu manusia itu, bisa dikendalikan lewat kekuatan suaranya. Hal demikian itu terjadi terus-menerus pada rapat-rapat terbuka lain yang dihadirinya. Seorang penulis peranakan belanda, PF Dahler, pernah menggambarkan bagaimana cara Tjokroaminoto berbicara di depan para pengikutnya.

“Perawakannya mengagumkan. Pekerja yang keras hati dan tidak kenal lelah. Mempunyai suara yang indah juga berat. Mudah didengarkan oleh beribu-ribu pendengar. Yang seolah-olah terpaku pada bibirnya, apabila ia berpidato dengan lancar serta keyakinan yang sungguh-sungguh”

Jika dihadapkan pada keadaan masyarakat Jawa di pangkal abad 20, sosok berkharisma seperti Tjokroaminoto memang dinanti-nanti. Saat rakyat bumiputera tidak memiliki gantungan harapan untuk melepas diri dari belenggu diskriminasi, Tjokroaminoto hadir mengulurkan tangannya. Ia menjadi figur penyambung asa para jelata yang telah patah akibat ketidakberdayaan. Harapan kaum kromo yang melambung tinggi itu, lantas membawa pemujaan berlebihan kepada kepada Tjokroaminoto. Sampai-sampai dia digelari “Ratu Adil”. Bahkan, suatu kali ketika Tjokroaminoto berkunjung ke Madura, orang-orang yang menyambut, memannggilnya dengan julukan “Wisnu Kami”.

Apabila disambungkan dengan konteks alam dan sosial dibalik kelahiran Tjokroaminoto, sebutan-sebutan itu seakan memperoleh pembenaran. Dia lahir berselang 10 hari sebelum gunung Krakatau di selat Sunda meletus, yaitu tanggal 16 Agustus 1883. Masyarakat Jawa yang kala itu masih lekat dengan kultur milenaristik, percaya bahwa ciri kemunculan seorang mesiah atau ratu adil, salah satunya ditandai gejolak bumi, jatuhnya raja besar yang ditakuti atau suasana masyarakat yang berada dalam kemelut pelik. Tjokroaminoto sendiri bukanlah satu-satunya orang yang mendapat gelar demikian. Sebelum era itu, Diponegoro juga disemati panggilan yang sama. Pangeran yang bernama kecil Raden Mas Antawirya itu pun dielu-elukan sebagai pelukar keruwetan zaman dan sosok yang akan membawa rakyat ke arah kegemilangan.

Pada sebuah perjalanan keliling Jawa untuk mengunjungi cabang-cabang Sarekat Islam di periode November hingga Desember 1913, Tjokroaminoto yang ditemani oleh dr. D.A. Rinkes, sempat menggelisahkan penyanjungan atas dirinya itu.

“Mereka menghormati saya sebagai malaikat. Apa yang saya minta, semuanya akan mereka lakukan. Ini memberikan tanggung jawab yang besar kepada saya. Sering saya berpikir untuk mundur kembali, tetapi saya tidak berani, karena tidak tahu apa yang mereka lakukan nanti”

Rinkes mendengar tuturan tersebut dengan menyimpan kagum. Diam-diam Rinkes menilai baik, Pemimpin Sarekat Islam itu, yang tidak lantas pongah dengan banyaknya tepuk kuduk yang menghambur padanya.

Gelora semangat rakyat yang menyala-nyala, terutama saat memuja Tjokroaminoto, juga disaksikan oleh Agus Salim. Sekitar pertengahan tahun 1915, keduanya diundang ke rapat umum yang diadakan oleh Sarekat Islam cabang Situbondo. Diperkirakan ada 20.000 orang yang menghadiri acara tersebut. Sebagiannya adalah pengurus dan anggota tetap dari cabang-cabang Sarekat Islam daerah lain. Sejumlah yang lain adalah simpatisan dari rakyat kebanyakan. Suasana meriah waktu itu, dilukiskan oleh Agus Salim dengan rinci. Pukul 8 pagi, jalanan kota Situbodo ditumpahi oleh barisan manusia yang tidak hanya ingin menghadiri rapat, namun juga hendak melihat wajah Tjokroaminoto dari dekat. Sayangnya, tidak semua orang dapat tertampung dalam lokasi rapat yang berada di salah satu gedung milik Cabang Sarekat Islam setempat. Hanya pengurus dan pemilik kartu anggota saja yang boleh memasuki ruangan. Akibatnya, puluhan ribu hadirin lainnya harus rela berada di halaman.

Menyaksikan lautan manusia yang berkumpul gaduh, konsentrasi pertemuan menjadi buyar. Di luar sana, rakyat mendesak untuk segera dipertemukan dengan Tjokroaminoto. Rapat yang sedianya akan diisi dengan pembahasan berbagai ihwal, berkait perkembangan organisasi lantas dipersingkat dengan hanya mendengar pidato Tjokroaminoto. Kekhawatiran terhadap peluang terjadinya keributanlah yang menjadi pertimbangan utama, kenapa agenda diringkaskan. Benar saja, kurang lebih pukul 10, begitu Tjokroaminoto mulai berkata sembari berdiri menaiki panggung kecil, keriuhan suara – baik dari dalam maupun luar ruangan – sontak berubah senyap. Semua yang hadir ibarat terhipnotis, jatuh khidmat mendengar paduan kalimat-kalimat Tjokroaminoto. Tak cukup dengan wejangan, rakyat yang berkumpul juga saling desak untuk bersalaman dengan Tjokroaminoto, saat pemimpin Sarekat itu keluar ruangan. Situasi menjadi ricuh. Tubuh Tjokroaminoto diperebutkan massa dari berbagai penjuru. Beruntung, terdapat pengurus Sarekat yang segera tanggap dengan keadaan itu. Mereka bergegas melindungi Tjokroaminoto dan membawanya lepas dari kerumunan.

Kecintaan sekaligus puja-puji kaum kromo yang demikian besar terhadap Tjokroaminoto ini dilukiskan dalam film lewat tindak laku para figuran. Kehadiran mereka sedapat mungkin mampu mewakili suasana batin masyarakat zaman tersebut. Mengarahkan mereka untuk bisa menyerap nuansa masa lalu, kemudian diaplikasikan lewat seni peran memang tidak mudah. Mengatur orang banyak, apalagi dalam situasi yang serba mendadak dan dikejar waktu, butuh berlapis-lapis kesabaran. Tapi, itulah kelumrahan yang sering dalam pembuatan film. Kekompakan dan koordinasi antar tim yang bertanggung jawab atas ekstras itu menjadi kunci keberhasilan. Tujuan pendek yang ingin diraih adalah penonton film ini bisa turut masuk mengalami situasi era itu melalui apiknya pemeranan yang dilakukan para figuran dan jauh dari kesan-kesan artifisial.

Demi mendukung tujuan itu pula, pertimbangan tentang karakter wajah dan postur ekstras menjadi penting. Begitupun dengan unsur tata rias dan pemilihan busana. Ekspresi mereka akan merepresentasikan sebuah kelompok sosial yang tengah berada pada masa yang sulit, namun masih menabung harapan lewat kepercayaan tradisional. Gayung bersambut, dalam pencarian pemain-pemain figuran ini, tim penanggung jawab ekstras pada film Tjokroaminoto sigap menangkap maksud. Mereka berkeliling dari kampung ke kampung untuk menemukan wajah-wajah masa silam ditengah belantara modernitas. Tidak hanya raut Jawa yang di cari, sebab untuk memenuhi gambaran suasana multikultural pada warga Hindia Belanda waktu itu, ekstras yang mewakili etnis lainpun diajak bergabung. Ada yang bermimik Arab, Tionghoa hingga Eropa. Orang-orang tersebut tidak cuma jadi pembuat ramai atau sekadar pengisi ruang kosong dalam adegan. Namun lebih jauh, mereka berlaku sebagai elemen penting, agar ruang publik yang terekam pada film menjadi lebih hidup.

Semangat para figuran itu sungguh luar biasa. Mereka turut berpeluh dibawah matahari dan masih setia di lokasi meski dingin malam menusuk. Bergabung dengan para kru teknis yang energinya seakan tak habis-habis. Mengagumkan! Para pengatur lampu, penata kamera, pengarah seni, pembantu umum, pengaman lokasi, koordinator pemain serta pribadi-pribadi handal di departemen lainnya, mereka adalah para pekerja keras. Berhari-hari bekerja bareng, dalam tarik ulur emosi satu sama lain, dengan jam tidur terpangkas, demi menghasilkan karya yang memuaskan.

Tidak terasa, waktu merambat cepat. Keasyikan ngobrol, membuat kami kaget ketika melihat jam sudah tergelincir merapat dini hari. Saatnya untuk beranjak dari kawasan Simpang Lima. Tim produksi telah menyiapkan hotel di bilangan Kranggan, Semarang. Beberapa gelintir gorengan yang masih tersisa, kami bungkus untuk cemilan. Barangkali, sesampai di penginapan nanti mata belum mengantuk dan pepesan kosong akan dilanjutkan. Siapa tahu? Sebab besok tidak ada kegiatan syuting, begadang bisa jadi pilihan. Bagi pekerja film, libur adalah kesempatan yang mesti dirayakan. Termasuk dengan tidur sepanjang siang, tanpa disela panggilan kerja.

(Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s