Tidak Ada “Hero”!

Siapa jagoan, siapa pecundang: Bandung Bondowoso yang memaksakan kehendak atau Roro Jonggrang yang menuntut sesuatu di luar batas kewajaran? Siapa jahat, siapa baik: Kancil yang didakwa mencuri timun – padahal hewan tidak dibekali naluri yang bisa membedakan antara mencuri dan meminta – atau Pak Tani yang berkebun di kawasan hutan tempat Kancil semestinya bisa hidup tanpa gangguan manusia? Siapa hina, siapa mulia : Malin Kundang yang durhaka kepada bundanya atau sang ibu yang tega mengutuk anaknya menjadi batu?

Itu adalah secuil contoh yang menunjukkan bahwa pada sebagian besar mitologi, hikayat maupun cerita rakyat yang berkembang di nusantara, sama sekali tidak berorientasi untuk menghasilkan “hero”. Kisah-kisah itu, lebih menitikberatkan tentang “bagaimana masalah terselesaikan”. Seorang jagoan bisa melakukan kekejaman, yang kerapkali lebih sadis daripada lawannya. Begitupun sebaiknya. Pecundang berkesempatan untuk mengerjakan kebaikan yang kadangkala lebih tulus dibandingkan si jagoan. Protagonis maupun Antagonis hadir dalam tampilan semu, tanpa kecenderungan untuk menggunggulkan salah satunya, diberi porsi berimbang untuk merespon masalah, semata demi tujuan agar konflik dapat terlerai.

Bisa jadi, pola cerita yang demikian, turut andil dalam membentuk cara berpikir kebanyakaan orang Indonesia, yang mengenyam kisah-kisah tersebut selama puluhan atau bahkan ratusan tahun sejak negeri ini belum ada. Tidak peduli, apakah seseorang itu baik atau jahat, asal dia dipercaya bisa menyelesaikan masalah, maka khalayak akan memujanya. Segala catatan-catatan buruk tentang seorang bromocorah bisa kontan dilupakan, saat orang tersebut berhasil mengurai perkara pelik yang membelit orang banyak. Pada sisi berlawanan,kebaikan-kebaikan seorang pahlawan dapat dengan enteng dihapus dari ingatan, apabila dia tergelincir dalam perbuatan yang dianggap khalayak sebagai suatu kesalahan.

Bahkan mungkin, bila seorang perampok sekalipun, mampu membuktikan kepada rakyat bahwa dirinya bisa menyelesaikan problem sosial, maka dukungan serta puja-puji bakal segera membanjir padanya. Tidak usah heran jika itu terjadi lalu menjelma kelumrahan. Sebab, jangan-jangan, khalayak di sini memang tidak memerlukan “hero” sejati, melainkan lebih membutuhkan tuntasnya persoalan. Oleh siapapun, entah dari mana asalnya dan bagaimana sejarahnya. Karena disini, lahirnya seorang “hero” tidak berhubungan sebab akibat dengan potensi selesainya sekian masalah.

Ini hanya dugaan iseng saja. Sama sekali bukan kesimpulan yang teruji pasti. Sekadar pikiran ngawur yang melintas tiba-tiba.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s