Setelah Penayangan Perdana

Salah satu hal yang diharapkan muncul setelah adanya Film Guru Bangsa Tjokroaminoto adalah makin lenturnya anggapan penonton Indonesia tentang bagaimana memposisikan sebuah Film Cerita Sejarah. Perlu disadari sepenuhnya, bahwa Film Cerita Sejarah bukanlah sekadar hasil kerja memindahkan teks-teks sejarah ke layar lebar semata. Tapi lebih dari itu, sebuah Film Cerita Sejarah adalah upaya menganyam informasi sejarah dengan kisah fiksi sebagai penyerta, untuk menjadi serangkai drama dengan cara bertutur yang bisa dipahami khalayak. Fakta-fakta sejarah diandaikan serupa tulang-tulang pada tubuh makhluk hidup, kemudian dililit dan dihubungkan dengan jalinan fragmen fiksi yang berlaku layaknya daging. Sebab sifat dari kebanyakan fakta selalu nampak kaku, tajam dan keras, maka perlu sentuhan fiksi – dengan kadar wajar – untuk melembutkannya, agar lebih indah saat diceritakan.

Detil-detil dalam Film Cerita Sejarah, hanya bisa mungkin dihadirkan secara visual, lewat jalur penuturan fiksi. Sebab diktat-diktat sejarah pada umumnya, hanya mencatat hal-hal yang besar saja, sedang informasi rinci mengenai sebuah peristiwa atau gerak-gerik keseharian seseorang, kerapkali terlewat. Bumbu fiksi yang terdapat dalam Film Cerita Sejarah itupun tidak diambil dengan tafsir yang serampangan. Mesti ada landasan referensi yang diangkat sebagai acuan, supaya tidak liar. Biasanya, karya-karya sastra yang terbit pada zaman yang dimaksud, dijadikan rujukan pendamping, sebagai pembangun interpretasi dalam meraba gambaran, bagaimana kelumrahan hidup pada masa itu. Dengan syarat, jabaran fiksi dalam film tersebut, tidak boleh melanggar fakta sejarah dan logika umum yang berlaku di zaman terkait. Dari proses serupa itu pula, cerita film Guru Bangsa Tjokroaminoto dibangun.

Alangkah lebih patut apabila Film Cerita Sejarah diletakkan sebagai ikhtiar simulatif dari para kreatornya, untuk menafsir bagian-bagian dari sejarah yang memungkinkan untuk divisualkan dan dirangkai dalam satu bongkah kisah. Sebab tidak semua peristiwa sebagaimana yang tercantum dalam teks sejarah bisa di tampilkan di layar. Ada banyak pertimbangan. Antara lain, film cerita memiliki kaidah-kaidah struktural penuturan dan manajemen penokohan yang tidak memungkinkan untuk mengangkut semua peristiwa sejarah yang populer di pengetahuan publik itu. Paling tidak, anggapan-anggapan bahwa Film Cerita Sejarah merupakan wahana “copy-paste” seutuhnya dari buku-buku sejarah, perlu diistirahatkan dulu. Cara pandang seperti inilah yang diharapkan datang dari penonton, dalam merespon film Guru Bangsa Tjokroaminoto. Lebih bijak dan kontekstual.

Selamat menikmati film Guru Bangsa Tjokroaminoto. Terima kasih sudah menjadi bagian yang bersemangat, untuk menonton film-film Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s