Dimana Karto, Alimin dan Moeis?

Tak sedikit orang yang bertanya kepada saya, kenapa banyak nama penting tidak ditampilkan di layar film Guru Bangsa Tjokroaminoto. Walaupun jauh-jauh hari saya sudah membuat catatan berisi argumentasi mengenai soal tersebut yang bisa dibaca disini (Memilih Wayang dari Kotaknya), lebih singkatnya saya tuliskan lagi sebagai berikut.

Periode praktis yang diangkat dalam film Guru Bangsa Tjokroaminoto adalah antara tahun 1911-1921. Meskipun masa kecil hingga Tjokro pindah dari Ponorogo ke Surabaya pun dicuplik pada sebagian kecil adegan awal film. Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo lahir di tahun 1905, itu artinya pada rentang tahun tersebut, dia masih berusia sekolah dasar dan menengah di Bojonegoro. Kartosoewirjo baru bergabung di rumah paneleh sekitar tahun 1923, saat dimana film ini sudah menghabiskan durasinya.

Hal yang perlu diingat juga, bahwa orang-orang tenar yang hidup satu rumah pada periode awal interaksi paneleh adalah Moesso, Soekarno, Hermen Kartowisastro dan Semaoen. Semaoen sendiri tidak kost di Paneleh, karena dia tinggal di Surabaya dan bekerja di Staatsspoor. Semaoen hanya sering bergaul dan berdiskusi di Paneleh. Lain lagi dengan Alimin. Dia baru masuk Paneleh untuk mondok selama beberapa bulan pada tahun 1918. Sedang masa tersebut berdekatan dengan bagian akhir film. Untuk menghindari kerancuan penokohan dan kompleksitas cerita, Alimin pun tidak dimasukkan.

Begitu pula dengan tokoh penting Abdoel Moeis yang tidak nampak dalam film. Menghadirkan Moeis, artinya juga membawa figur sejawatnya yang lain seperti Tirto Adhie Soerjo, Soewardi Soerjaningrat, Ernest Douwes Dekker dan Tjiptomangoenkoesoemo. Karena tokoh-tokoh itu berkaitan dan saling merekomendasikan, hingga akhirnya membawa Moeis bergabung dengan Sarekat Islam dan berhubungan dekat dengan Tjokroaminoto. Apabila Abdoel Moeis ditampilkan, maka mau tidak mau sebagian besar dari orang-orang yang disebutkan berkaitan tadi, mesti juga dihadirkan. Langkah itu akan membuahkan konsekuensi, pada makin kompleksnya penokohan yang mempengaruhi kerumitan konflik dalam film. Lalu, resiko yang tidak bisa dihindari adalah bertambahnya durasi tayang. Untuk itu, demi membungkus film ini agar lebih ramah tonton dengan konten yang mudah diikuti, maka nama Abdoel Moeis hanya disitir lewat dialog.

Jadi, dasar periodesasi dan teknis penceritaan serta manajemen penokohan inilah yang menjadi alasan hingga tidak memungkinkan tokoh-tokoh tadi ditampilkan semua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s