Gelembung

Sekali waktu saya ingin mengulangi kebiasaan lampau, melakukan perjalanan jarak jauh dengan bus malam. Belakangan, nyaris tiap menjelang dinihari merapat pagi, saya kangen dengan suasana gelap dan senyap bersela dengus mesin kendaraan itu. Saya selalu membayangkan sebuah bus malam adalah kotak berjalan yang dijejali oleh gelembung-gelembung pikiran manusia yang beraneka ragam. Riuh dan rumit. Setiap orang yang menumpang kendaran itu memiliki loncatan-loncatan pikiran sendiri, potongan kisah sendiri, yang menyeruak saat mereka duduk terdiam, kemudian bercampur dengan milik orang lain. Jika dirangkai, hal-hal tersebut akan mirip sebuah buku kumpulan cerita pendek. Entah bagaimana awalnya, kenapa citra demikian yang selalu saya tangkap. Mungkin, inilah yang membuat saya rindu melakoni kegiatan itu: menerka-nerka beragam kehidupan, dari ekspresi orang-orang yang sedang melakukan perjalanan. Meraba keramaian pikiran dari kesunyian ruangan.

Di atas kepala orang-orang di dalam bus, baik yang terjaga atau sedang terlelap, melayang-layang sejumlah buih bening yang berisi kilas adegan pikiran-pikiran juga mimpi-mimpi mereka. Masing-masingnya bergerak saling salip dan sundul, berkejaran mencari celah untuk menyusup ke dalam benak empunya, agar bisa menampilkan deret-deret ingatan. Terus berputar, bingkai demi bingkai, persis kelebatan potret hidup, silih berganti dengan transisi yang kasar.

Orang yang duduk di seberang saya, mungkin sedang memikirkan anak dan istrinya di suatu tempat. Gelembung yang mengambang di atas ubun-ubunnya membungkus gambar, seorang wanita dan anak kecil yang duduk diam di beranda saat petang datang. Perempuan yang tertidur di kursi kedua dari depan, deret sebelah kiri, digoda buih-buih sebesar bola tenis yang menembus belahan rambut lurusnya, berisi gambar kedua orangtuanya yang berdiri di halte sebuah kota, bersiap menyambut kedatangannya dari rantau. Si kernet yang menahan kantuk setengah mati dengan menenggak kopi berwadah botol plastik, didekati oleh bayangan dalam gelembung transparan, tentang kasur empuk di sebuah hotel mewah dilengkapi sayup-sayup musik latar berirama pop cengeng 80-an. Bayangan ideal kenyamanan untuk tidur, seperti yang pernah ia lihat dalam sinetron televisi di warung pojok luar terminal. Kurang dari satu sentimeter di atas dahi sopir bus menempel gelembung serupa, berisi tentang khalayalan, seandainya ia mampu menyibak barisan mobil-mobil didepannya, ke kanan dan ke kiri – layaknya tokoh Magneto dalam serial komik X-Men yang dikoleksi anaknya- agar ia bisa leluasa melarikan kendaraan sehingga cepat sampai tujuan. Di bagian tengah dan belakang kabin bus, gelembung-gelembung berisi kegelisahan, cita-cita, kelelahan, putus asa, sedikit kebahagiaan dan ketidaksabaran perjalanan, mengambang saling desak diatas kepala para penumpang lainnya. Apabila gelembung-gelembung itu bisa bersuara, saya kira, keributannya akan serupa dengan kawanan kambing yang berhimpitan berebut tempat dalam kandang sempit.

Barangkali, karena saya kerap tidak bisa tidur apabila sedang melakukan perjalanan darat di malam hari, maka keliaran-keliaran imajinasi seperti itu sulit ditolak. Apalagi jika menggunakan angkutan umum. Di dalam kepekatan ruang dan di antara sambaran lampu-lampu mobil dari arah berlawanan, yang bisa dilakukan hanyalah bermain khayalan. Saat tubuh sedikit bergerak, maka pikiranlah yang berjumpalitan menggoda perhatian. Kemudian, pikiran-pikiran itu berenang diudara, memenuhi kabin bus yang dingin, membawa berbagai macam kisah hidup. Saat seperti itu, saya sering membatin, ada berapa potong cerita anak manusia dalam kendaraan ini? Berapa jenis kegelisahan? Berapa lonjor keberanian dan ketakutan? Berapa gelintir harapan baik yang ditimang? Berapa macam kenangan buruk yang dilempar ke luar jendela gelap? Pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan pernah bisa dijawab.

Betapa kehidupan itu begitu luas dan beragam, pun ketika dibayangkan dari secuil dan sesempit kabin bus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s