Penaklukkan

Zaman bekembang begitu pula dengan siasat penaklukkan. Peperangan fisik yang dahulu lazim dipakai untuk peraihan tujuan tersebut, kini menjadi jurus usang yang tidak lagi dijadikan tumpuan utama. Perebutan kekuasaan politik dan ekonomi, serta penyebaran pengaruh pada masyarakat, lebih efektif dilakukan melalui penguasaan cara berpikir dan gaya hidup. Informasi, menjadi senjata yang ampuh untuk melancarkan itu semua. Mengontrol hidup sejumlah orang dengan cara yang terhalus.

Gelontorkan saja aneka informasi secara terus-menerus, hingga masyarakat susah membedakan mana yang tulen dan mana yang palsu. Banjiri isi kepala mereka dengan keacakan informasi. Bangun media sebanyak mungkin untuk meluaskan sebaran desas-desus. Matikan nalar khalayak dengan menutup kesempatan untuk melakukan verifikasi. Bikin semua orang abai terhadap validitas data, sehingga batas antara informasi faktual dan disinformasi, semakin remang-remang. Kendalikan suasana kejiwaan orang banyak, agar selalu tergantung dan merasa perlu untuk membagikan segala jenis informasi yang tak diketahui bobot kebenarannya itu kepada orang lain, tanpa harus mempertimbangkan dampaknya. Lantas, beri fasilitas yang berlimpah, agar tiap-tiap pribadi mudah menyebarkan, hingga informasi tersebut dipercaya sebagai kebenaran kolektif. Susun sejarah baru, giatkan reproduksi memori, supaya orang-orang melupakan masa lalunya. Rangkai dalil-dalil mutakhir dengan tafsir yang disesuaikan kepentingan penaklukkan.

Tinggal menunggu waktu, masyarakat tersebut akan hancur dengan sendirinya. Bukan disebabkan serangan peluru kendali atau uncalan bom pemusnah massal dari pihak lain, melainkan karena perselisihan berkesinambungan. Perbedaan versi opini dan kefanatikan terhadap sumber kebenaran tertentu menjadi biang perpecahan. Bak kelaparan, tak henti-hentinya mereka serakah mengudap informasi sebagai bekal untuk berdebat satu sama lain. Tujuan dari setiap diskusi bukan lagi sebagai cara mencari kesepahaman, tapi justru menjadi ajang untuk saling mempermalukan.

Ibarat sekujur tubuh yang diguyur gerojokan air, mereka sibuk dan gaduh dengan diri sendiri. Bahkan cenderung kalap. Pernapasan terganggu, rasionalitas ambyar, pandangan buram. Megap-megap. Hati dan pikiran sama sekali tidak diberi jeda untuk menelaah persoalan. Pada situasi serupa inilah, kewaspadaan menjadi ringkih. Hingga tak menghiraukan, para penakluk telah berhasil menjarah harta dan hasrat mereka. Begitu sadar, segalanya terasa terlambat. Sebab tubuh lunglai, pikiran terlanjur lelah dan perasaan telah luntur kepekaannya. Maka apapun yang diinginkan para penakluk itu akan disanggupi. Bahkan untuk menggadaikan martabat sekalipun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s