Dongeng

Pendongeng itu membenahi letak duduknya. Anak-anak hingga orang tua, kian banyak yang mengerumuni. Masih dengan mata terpejam, tukang cerita tersebut lantas melanjutkan penuturan.

“Mirip ternak yang kehilangan gembala dan terusir dari lahan rambanan, mereka berubah liar serta buas. Kerakusan sudah jadi kelumrahan. Sadar atau tidak. Dari hari ke hari, orang-orang di negeri itu serakah memamah apa saja. Mengudap segala-gala. Dari berita, tips-tips, teori-teori necis hingga tafsir-tafsir ayat suci yang dirasa sesuai dengan selera juga kepentingan mereka. Percaya membabi-buta pada sejumlah informasi, yang mereka sendiri tak tahu-menahu duduk perkaranya. Tak paham-paham benar asal-muasalnya. Tak mengerti amat bentang konteks dan pendar substansinya. Bahkan, mereka rela saling ngotot hanya untuk mendebatkan hal-hal yang sejatinya masih desas-desus. Sungguh malang penduduk negeri itu! Menyaksikan itu, para pengatur lakon dibalik layar tema-tema yang ramai digunjingkan tersebut, makin tergelak hingga terkencing-kencing!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s