Serapah

Jika saja sumpah serapah bisa dibendakan, barangkali kota ini telah lenyap tertimbun cacian. Di jalanan, orang lalu-lalang dikitari gerutu, keluh dan maki. Suara-suara kekesalan yang keluar dari mulut mereka tercecer di sekujur aspal, meluber hingga trotoar lantas diterbangkan angin menuju awan abu-abu yang juga sedang dongkol sebab selalu gagal mengencingkan hujan. Bila diumpamakan, perasaan mega-mega itu, persis manusia yang urung bersin, padahal sudah nyaris meletup di ujung hidung.

Andai saja kegelisahan itu kasat mata, bisa jadi kota ini sudah pengap dengan hamburan warna kelabu. Tidak kentara lagi perbedaan sore dan senja. Bayangan tentang matahari yang terbenam dan waktu peralihan yang wingit, dari siang menuju malam, hanya didapat dari ingatan pada masa lalu yang jauh.

Bila saja kekhawatiran dapat dilihat, seperti halnya serpih-serpih sampah di ketiak gang-gang sempit itu, barangkali kota ini akan menghilang dari peta. Sebab rasa itu akan menyelebungi rata, layaknya kelambu di ranjang ambruk. Pasalnya, ditempat ini, kekhawatiran adalah bahan bakar yang membuat warga kota terus bekerja, dengan tergesa, meski harus saling jegal. Tiap saat, tiap waktu. Bahkan kekhawatiran itu tetap merambat mencari mangsa, dengan menyamar jadi debu di sela-sela udara, ketika sebagian penghuni kota tidur sekalipun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s