Kurusetra

Sisa-sisa kepedihan akibat perang besar itu, masih melekat di hamparan debu Kurusetra yang purba. Meski alang-alang liar telah bertumbuhan menyelimuti permukaan tanahnya, tapi hawa ngeri tidak benar-benar bisa terlukar dari sana.

Desing angin kering yang menghembus ke arah selatan, seakan-akan masih membawa aroma anyir darah para ksatria penyabung nyawa dan mengiangkan erangan miris ribuan prajurit sekarat dari masa lalu. Begitu pula dengan suara gemerisik rerumputan, serasa menggaungkan raungan duka barisan perempuan yang kehilangan orang-orang tercinta, akibat pertempuran dahsyat yang pernah pecah di tempat itu.

Bahkan hingga beberapa abad kemudian, nuansa seram itu masih kental terasa, saat dua orang pengembara melintas di padang tersebut. Langit senja yang bergelimang warna jingga, menaungi gegas langkah mereka.

“Dahulu, di tempat ini, ribuan orang saling bunuh untuk memperebutkan keadilan” Kata salah satunya.
“Ya, aku pernah dengar kisah itu dari dongeng-dongeng semasa kecil. Jancuk, manusia menghancurkan sesamanya demi sesuatu yang mustahil terwujud!”
“Bukankah hidup memang demikian? Orang akan berebut keadilan walaupun sadar bahwa hal itu cuma ilusi dan tak mungkin benar-benar dijelangi”
“Mengenaskan…!”
“Dan menyakitkan!”

Keduanya lantas terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing, sembari terus mengayun kaki. Sementara itu, matahari yang melepuh kemerahan di ufuk barat kian anjlok tertelan batas pandang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s