Gerebek

Sepasang pelarian itu lantas menyusur sisi tebing untuk menghindari pengejaran musuh. Penglihatan mereka terbantu sinar rembulan yang menembus arakan mega-mega pekat. Sesekali, Jangkung memperingatkan kawannya, Gempal, agar memperhatikan langkah. Sebab bila terpeleset, jurang menganga yang terbentang dibawah sana bakal melumat tubuh mereka. Setelah mengendap-endap sekian depa, akhirnya tempat persembunyian yang layak pun ditemukan. Keduanya meringkuk pasrah pada alas landai berbenteng bebatuan besar.

Baru beberapa saat merasa lega, mereka kembali tergeragap. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar teriakan-teriakan manusia yang kian mendekat. Kepanikan menggerayangi. Jantung berdegup kencang, keringat dingin merembes. Lewat sebuah celah sempit, Jangkung berhasil mengintip ke arah seberang. Meski lamat, tapi matanya masih bisa mengenali pergerakan serombongan bayangan berkuda yang menggenggam obor, tengah melaju ke arahnya.

“Kita sudah terdesak!”, bisik Jangkung dengan suara bergetar. Tubuhnya lunglai, merosot terduduk. “Apes! Mereka sedemikian banyak. Jumlahnya sangat cukup untuk bisa menyeret kita kembali ke tahanan mengerikan itu. Kau ada ide?”

Gempal tak langsung menanggapi. Kerisauan yang parah telah membuatnya menggigil dan buntu akal.

“Apakah tidak sebaiknya kita berdoa saja? Kukira, saat-saat begini, hanya Tuhan yang bisa menyelematkan kita!”, ujar Gempal terbata-bata.
“Entahlah! Kau pikir para pemburu itu juga tidak memohon kepada Tuhan agar bisa menangkap kita? Bagaimana jika Tuhan lebih suka mengabulkan doa mereka?”

Keputusasaan ternyata lebih berkuasa ketimbang harapan. Aneka siasat yang berkelebatan di benak masing-masing pelarian itu, serasa tak berguna. Dengus napas kepasrahan mereka bersatu dengan derik jangkrik serta desis binatang malam yang berpesta di relung-relung gelap. Airmata Gempal meleleh, saat pendengarannya menangkap kegaduhan pekik ancaman para pemburu berkuda yang semakin nyaring.

Jangkung melirik sahabatnya itu. Perasaannya goncang. Serta-merta ia bergumam sembari menengadah, “Duh Gusti, kami rela menerima apapun yang akan terjadi, asalkan Engkau tidak marah kepada kami!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s