Ketololan

Bila diibaratkan, ketololan itu layaknya kentut. Sesuatu yang harus benar-benar dijaga supaya terhindar dari tuduhan penebar kebusukan. Mesti waspada pula, sebab keduanya kerap datang mendesak juga tiba-tiba. Terjadi serta merta dalam waktu tak terduga. Walau bayangan tentang kenikmatan setelah mengeluarkannya begitu menggoda, tapi segeralah ingat bahwa kentut serta ketololan tetaplah menjadi dua hal yang sungguh memalukan bila diumbar sembarangan. Meskipun ini tak berlaku bagi mereka yang sudah memutuskan untuk hidup tanpa mempertimbangan rasa malu.

Andai di zaman ini ketololan sudah diwajarkan sekalipun, atau bahkan sengaja difestivalkan sebagai prasyarat gaya hidup, tapi cepat atau lambat, rasa sesal bakal menyerbu seiring dengan pertambahan usia. Sebagian besar orang tentu tak ingin dicecar oleh anak-cucu mereka kelak, pada suatu sore yang seharusnya indah, dengan pertanyaan “Kakek atau nenek dulu sering mempertontonkan ketololan ya?”

Empaskan ketololan pada tempatnya. Sekurang-kurangnya, keluarkan ketololan itu secara diam-diam. Jika suatu saat dunia ini sudah tak lagi menyediakan wadah untuk membuang ketololan, maka tak ada jurus cadangan, selain berusaha sekuat tenaga untuk tidak menjadi tolol.

Kalau masih tetap gagal, apalah daya, silahkan menjadi tolol tapi tak perlu mengajak orang lain untuk turut serta. Paling tidak, kian berhati-hatilah untuk berkomentar atas sesuatu yang tak benar-benar dipahami.

Kecuali sampeyan memang merasa bangga, apabila sudah mengentuti sekian banyak orang dengan ketololan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s