Komedi

Seorang teman melontarkan lelucon dari seberang telepon. Saya urung tertawa. Padahal seharusnya kocak. Cara mengemasnya yang amburadul, membuat kegelian batal meletup. Pada kesempatan lain, saya mendengar guyonan serupa dari kawan berbeda. Di luar dugaan, banyolan tersebut berhasil membuat saya terpingkal.

Konon katanya, humor itu tergantung irama bertutur dan waktu penyampaian. Lawakan bukan sekadar susunan kata dalam seperangkat gaya, namun juga menuntut pemahaman akan ruang serta suasana. Setiap orang bisa bercerita, tapi tidak semuanya sanggup menuturkan dengan asyik. Komedi bakal jadi ranah yang rawan, apabila tidak benar-benar menguasai. Jaraknya dengan tragedi sedemikian tipis. Seseorang bisa jatuh konyol akibat gagal melucu.

Menjadi jenaka butuh kejelian terhadap konteks. Sedang kekonyolan hanya memerlukan kecerobohan serta ambisi untuk selalu ingin dianggap lebih. Kalau cuma itu yang dikejar, langkahnya gampang. Tinggal kirim ocehan gegabah, kontroversi dungu, komentar sok pintar, hoax atau analisis butut ke media sosial internet, lalu tunggu beberapa saat. Dan, Jedueer!!! Selamat datang di panggung yang ganas!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s