Perang

“Siapa yang kau salahkan? Jika mereka bersikeras untuk membunuh, demikian juga dengan kami. Di medan pertempuran, baik dan buruk hanyalah omong kosong. Kedua kubu sama-sama beringas. Hal yang membedakan adalah keberpihakan. Berperang atas nama hasrat kuasa atau perjuangan mempertahankan martabat yang terlecehkan. Dari situlah, kelak, seseorang akan disebut sebagai bajingan atau pahlawan. Pengecut atau satria. Penjilat atau perwira”

Dia berhenti sejenak. Menghela napas, sembari memejam.

“Mereka memang berupaya saling menaklukkan. Tapi tahukah kalian siapa pemenang sesungguhnya?”

Hening. Tak ada yang berani mengajukan jawaban. Kakek itu lantas membuka katup mata. Pelan. Tubuhnya membungkuk. Diikuti oleh juluran kepala, hingga nyaris menempel pada cuping hidung orang-orang yang mengerumuni.

“Para pembuat cerita! Siapapun yang sanggup meyakinkan khalayak dengan tuturan memukau, bahwa hanya satu pihak yang mulia. Layak dipuja. Sedang selebihnya, merupakan musuh bebuyutan yang mesti dihujat sepanjang hayat”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s