Haru

Betapa kini, kita gampang terharu. Mungkin saja, internet membuat perasaan kian peka. Dunia tampak sebagai tempat buruk yang penuh bencana menyedihkan. Sarat ancaman dan mesti diselamatkan secepatnya. “Berbuatlah sesuatu, walau dengan satu tanda pagar” tutur seseorang.

Membaca berita tentang kesulitan orang lain, kita iba. Melihat tayangan mengenai kesengsaraan liyan, kita kasihan. Melalui gawai mutakhir, diungkapkanlah keprihatinan itu, “Syukurlah, kita tidak bernasib seperti itu”. ¬†Jepret! Foto diambil, lalu disebarkan, “Sedih, lihat gambar ini!”

Sampai-sampai menyaksikan kelakuan picik pun, kita trenyuh. “Mereka bodoh, sedang kita tidak! Mari sadarkan orang-orang itu”. Sungguh mulia. Kehidupan harus lekas dientaskan dari perseteruan. “Solusinya khilafah!” Kutip sebelah sana. “Kita harus menghargai keanekaragaman!” Tulis lainnya. Gaduh dengan kepedulian online.

Begitulah. Betapa kini, kita mudah terharu dengan malapetaka di luar sana. Nun jauh di sana. Pada kemalangan yang disodorkan layar-layar virtual. Ya, di alam maya yang dikendalikan oleh alogaritma cerdik.

Sementara itu, di alam waralaba, “Uang duaratusnya mau didonasikan, pak?” Duh, saya terharu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s