Jalanan

Di jalanan, begitu banyak orang yang tak rela waktunya terbuang. Bahkan untuk menanti sejenak saja enggan. Tak perlu menunggu lampu merah berkedip ke hijau, karena perjalanan penting mustahil ditunda barang satu detikpun. Para penyeberang mesti diacuhkan lantaran bakal memperlambat pencapaian tujuan. Salip dan terjang. Klakson disalakkan beruntun – mumpung gratis – untuk mengingatkan pejalan lain supaya lekas bergegas. Padahal tahu, kemacetan tengah mengular. Tapi bagaimana lagi. Bukankah hanya mereka yang diburu kesibukan luar biasa?

Jangan sampai ada peluang terbuang. Sekali melihat celah, segera sambar. Jika kendaraan lain terserempet, tinggal bilang, “Maaf, nggak sengaja!”, disertai sedikit senyum, habis perkara. Kesalahan itu tidak perlu dipikirkan. “Pemiliknya maklum. Kan, sama-sama terburu-buru!” Di jalanan, kesabaran dituntut seluas samudera. Menakjubkan!

Segala cara ditempuh supaya bisa melaju lancar. Jika perlu, layangkan makian pada pengganggu. “Woi, kalau nyetir pakai mata!” hardik mereka sambil mengarahkan kepalan. Mereka tidak jahat, justru sebaliknya. Senantiasa mengingatkan betapa berbahaya memejam saat berkendara, apalagi sembari lepas tangan.  Kan, hanya mereka yang tahu tentang itu. Ya tho?

Sebab urusan tidak boleh terhalang, maka terhenti sebentar adalah kemubaziran. Persetan dengan kecelakaan yang berpotensi menimpa liyan. Soal akhlak? “Ah, itu kan hanya topik obrolan di grup-grup WhatsApp!”

Sungguh para pekerja keras yang menghargai waktu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s