Algojo

Telunjuknya telah bersiap menarik pelatuk. Dengan sekali hentak saja, peluru dalam senapan itu pasti meluncur buas, mengoyak tubuh narapidana yang terikat pasrah didepannya. Tanpa ampun. Hanya keajaiban yang mampu menunda. Tapi di detik-detik terakhir itu, si Algojo justru bimbang. Mimpi-mimpi buruk yang ia alami dalam beberapa malam terakhir, telah benar-benar merisaukan. Mengerdilkan nyali yang pernah menjulang megah di batinnya.

“Kau boleh lega karena telah menghukumku. Tapi giliranmu, cepat atau lambat bakal tiba” Suara mistis yang selalu mendatanginya lewat mimpi itu kembali menggaung di benak. Getaran iramanya bikin ngeri. Menggerogoti segala keteguhan.

“Aku akan mati dan masuk ke alam entah berantah yang selama ini hanya kukenal lewat iman. Sedang kau? Ya, kau! Kau akan menghabiskan sisa umurmu dengan perasaan berdosa  tak berkesudahan!” Selanjutnya yang terdengar adalah ringkik seringai yang sayup-sayup menyatu dengan kegelapan.

Untuk pertama kali, ia didera takut. Sangat takut. Keringat dingin mengalir di kening. Kepanikan tak mampu diusir. Bibir gemetar, mata pedih dan badan limbung. Ketegaannya telah luluh lantak. Kini ia berhadapan dengan momok meraksasa dan mengancam, yang bernama rasa bersalah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s