Disruptif

Mula-mula, sebagian besar orang jengah bila dirinya diintai. Risih jika dikuntit. Tapi teknologi telah berhasil mengubah tabiat itu. Membaliknya secara radikal. Kini, mereka justru membuka diri agar dipantau. Dengan Sukarela. Tidak cemas lagi untuk menyebarkan informasi ke khalayak acak tentang tempat keberadaannya, kegiatan pribadi yang sedang dilakukan, perkara-perkara yang disukai maupun dibenci, kecenderungan pandangan politik, arah sikap keagamaan, jenis makanan yang diminati serta ditolak, hingga mengenai merk dan motif pakaian dalam yang diidamkan. Juga perihal cara berpikirnya saat menghadapi masalah, yang tersirat melalui ekspresi tekstual maupun tersurat lewat medium audio visual. Informasi personal yang sebelumnya sukar terjangkau umum, sekarang terkuak dan hilir-mudik di media sosial. Secara swadaya pula.

Di luar soal apakah ini berdampak baik atau buruk, kenyataannya, internet telah memfasilitasi perubahan perilaku manusia dalam menyaring datanya saat berkomunikasi. Batasan tentang “apa yang perlu disampaikan dan mana yang rahasia” kian rancu. Perbedaan topik pembicaraan privat dan publik jadi makin kabur. Istilah aib mengalami redefinisi. Suka atau tidak, begitulah adanya: disruptif.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s