Santun

Atas nama kesantunan modern, maka kakus sudah tidak lumrah lagi digunakan dalam kosakata sehari-hari, diganti “WC”, “toilet” hingga “restroom”. Fungsi sama, nama jamban yang berbeda. Demikian pula dengan “Pembantu rumah tangga” yang kini perlahan berubah sebutan menjadi “Asisten rumah tangga”. Lengkap dengan pemakaian seragam khusus, sebagai perangkat pembeda kelas, ketika diajak jalan-jalan majikan ke pusat perbelanjaan. Julukan dikemas apik, tapi nasib, perlakuan dan upah belum tentu selaras. Sungguh luar biasa!

Yang lebih mencengangkan lagi, pada sejumlah lingkungan, anak-anak dilarang mengumpat “asu”, “bajingan” dan semacamnya, sebab saru serta kasar. Tapi orangtua mereka justru mewajarkan serapah “fuck” atau “shit”, yang ditimbang lebih halus. Haluskah? Yoh, sakkarepmu!

Sekali lagi,  semua demi kesantunan modern, eufimisme nifak pun diterapkan. Upaya penghalusan nuansa kata yang lebih berfungsi untuk mengelabui pikiran dari kenyataan itu lantas dilazimkan.

Dulu, di zaman orde baru, banyak istilah yang dipermak habis-habisan. “Kelaparan” disebut “Kurang Pangan”, “Miskin” disulihnama menjadi “Pra Sejahtera”, “Dicokok” diganti dengan “Diamankan”, “Menggusur” dibilang “Menertibkan”. Tidak menutup kemungkinan tabiat tersebut mewabah kembali. Eufimisme salah kaprah di ranah politik merupakan metode ampuh sebagai pengalih perhatian dari ketimpangan sekitar. Selain demi kesantunan modern, juga untuk kosmetik. Agar nampak memesona, meski sebenarnya porak-poranda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s