Ambisi

Sebelum naik tahta, sang penguasa berseru, “Saya akan selesaikan semua masalah dalam waktu sesingkat mungkin. Ini bukan sekadar janji. Percayalah!” Setengah jam lewat duapuluh menit usai dilantik, ia bilang, ” Mari bekerja. Kita berkejaran dengan waktu!” Empat tahun berlalu, pernyataannya berkembang, “Ini semua tidak cukup. Saya butuh perpanjangan waktu!” Lantas, dikabulkanlah apa maunya. Menjelang akhir paruh kedua masa pemerintahan, ia berkata, “Ah, seandainya aturan memperbolehkan saya menjadi presiden lagi, pasti segala perkara dapat dituntaskan!” Sehari setelah tak menjabat, ia menikmati cerutu di tepi pantai Tahiti ditemani genangan margarita setengah tandas, sambil mendengarkan lagu nostalgia dan berusaha keras menghafalkan liriknya.

Beberapa minggu pasca pergantian kekuasaan, seorang dosen renta mengeluh sendirian di pojok kelas, “Akhirnya definisi ini harus diganti” Kemudian ia menulis di tepi halaman lusuh buku perkuliahan, “Politik adalah seni mengulur waktu, mengemas ambisi kuasa layaknya misi suci sembari memperdaya ingatan publik dengan janji-janji”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s