Pilih

Pemilik kafe lebih cenderung memakai nama “Simpel” atau, mencomot mentah-mentah dari Bahasa Inggris, “Simple”, ketimbang “Sederhana” untuk juluk kedai boganya. Bagaimanapun dia tak ingin dituduh menyamai jenama warteg atau rumah makan Minang yang sajiannya berharga tidak sederhana. Meskipun kata-kata itu bersinonim, yang tentu saja bermakna sama. Pemungutan lema tersebut ibarat peringatan, “Ini kafe, bro! Bukan lapak kampungan!”

Serupa dengan dengan beberapa anak muda yang menerakan frasa “Insha Allah” dalam sejumlah pesan singkat kepada saya sore tadi. Kenapa mereka tidak menggunakan “Insya Allah” saja? Sebabnya jelas. Keminggris! Penulisan aksara Arab “Syin” atawa “Sy” yang membentuk kata “Insya”, dalam Bahasa Inggris memang ditransliterasi menjadi “Shin” atau “Sh”. Pada Bahasa Indonesia sendiri, pengejaan “Sh”, merupakan alihan untuk aksara arab “Shod”.

Sadar atau tidak, mereka sedang manyatakan suatu sikap dengan memilih kata tadi. Semacam pengukuhan identitas. Seakan-akan mereka bilang “Kami muslim. Tapi nggak udik lho. Perhatikan kata yang kami pakai! Modern, kan? Global, kan? Tapi nggak liberal lho. Serius!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s