Fotokopi

Bila diselenggarakan pencatatan rekor untuk kategori frasa yang paling banyak ditulis keliru, kandidat terunggulnya kemungkinan besar adalah “fotokopi”. Beraneka versi peneraan kerap terpampang pada papan-papan nama di kios penyedia layanan penggandaan dokumen itu. Ada “fotocopy”, “fotokopy”, “fhotokopi”, “fotocopi”, “potocopy”, “potokopy”, “photokopi”, “potokopi”, hingga yang menyadur utuh dari ejaan asalnya, “Photocopy”. Setidaknya bentuk-bentuk tersebutlah yang sering terlihat.

Tidak perlu digugat. Lagipula, kesalahan itu tidak terkait dengan nasib bangsa dan negara. Sebagai masyarakat yang kondang berjiwa lapang, tak elok mempermasalahkan perkara seremeh itu. Maklumi saja. Seperti memaklumi para pendukung garis keras calon gubernur DKI Jakarta, yang tiap hari meluapkan pujian di media sosial internet. Seakan-akan hanya itulah hal terpenting di muka bumi. Biarkan mereka bahagia. Nanti kalau baterenya habis juga mandeg sendiri. Mungkin karena sepanjang hidupnya dilanda krisis sosok teladan, sehingga pemujaannya jadi sedemikian rupa. Kalaupun terpaksa menanggapi, barangkali perlu untuk menghindari penggunaan kata-kata seperti: reklamasi, penggusuran, rumah susun atau Cina. Rentan!

Kalau pakai kata “fotokopi”, dengan segala ragam penulisannya, tentu tak mengapa. Sebab, sekali lagi, apapun bentuk penulisan frasa tersebut, tidak akan mempengaruhi masa depan bangsa dan negara.

Advertisements

One thought on “Fotokopi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s