Politisasi

Kata-kata bisa berangsur gamang makna dan fungsi, setelah kerap diujarkan dalam politik praktis. Seakan-akan, pada konteks tertentu, ranah kekuasaan adalah kolam mampat penuh lumut nan bacin, hingga sekian istilah yang nyemplung ke genangannya langsung berganti wajah juga rasa. Kata yang awalnya ramah di telinga, lambat laun menjelma sebagai sesuatu yang bikin risih. Bahkan menakutkan, lantas dianggap layak dipakai sebagai senjata penyerang liyan. Di sejumlah tempat, kata hitam, putih serta coklat, bisa sangat sensitif karena berkaitan dengan warna kulit warga negara. Apalagi kata muslim ataupun Islam.

Namun, di sisi lain, kata-kata yang telah terpolitisasi itu juga dapat dipergunakan sebagai tameng dari hal yang sekiranya mengancam. Misal, jika suatu saat seseorang merasa terintimidasi, dia bisa bilang “Hei, tunggu dulu! Tahan! Saya ini “minoritas”. Jangan disakiti, dong! Sampeyan ndak ingin disebut intoleran atau rasis, kan?”

Terkesan cengeng dan pengecut. Tapi tak ada salahnya jika mau mencoba memakainya, untuk jalan pintas kabur dari masalah. Itulah salah satu keajaiban politik. Penyulap kata, “Wolak-walik glabruk!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s