Cupet

Mark David Chapman mengambil buku “The Catcher of The Rye” dari saku belakang celana, usai meluncurkan sejumlah peluru dari pistol Charter Arms kalibar 38 di genggamannya. Ia kembali membaca novel karya  J.D. Salinger yang selalu dibawanya itu, sembari sesekali melirik tubuh John Lennon yang ambruk bersimbah darah di latar apartemen Dakota. Gelagatnya tetap kalem. Masih bersikukuh bahwa pembunuhan itu benar adanya. Bahkan saat polisi New York mencokoknya, ia belum bergeser jauh dari tempat semula.

Hari-hari berikutnya, di antara kesedihan dan kemarahan yang meruyak seiring terbunuhnya sang legenda dari The Beatles, orang-orang ramai bergunjing tentang gerak-gerik Chapman tersebut. Mereka menjulukinya psikopat yang terpengaruh bacaan. “The Catcher of The Rye” dituduh sebagai pemantik tindak pembunuhan. Novel itu melejit, namun pemberangusan juga kontan diberlakukan. Bredel! Para guru di sekolah-sekolah Amerika dan beberapa negara sepaham, melarang pelajarnya membaca buku itu.

Bukan sekali itu saja teks dituduh memantik kebrutalan. Seonggok buku dianggap mampu menyuntikkan ilham-ilham pembenaran atas kejahatan yang dilancarkan manusia. Namun, apakah bukan sebaliknya, manusialah yang rentan terkecoh? Keputusasaan dan kompleksitas masalah pribadi maupun sosial, kerapkali mendasari seseorang untuk terburu-buru menafsir teks. Hingga cepat menarik kesimpulan seraya meyakinkan diri bahwa pembacaannya itu sahih. Kepicikan tersebut kemudian menjadi salah satu landasan dari rimbunan faktor lain untuk melakukan aksi kekejaman. Padahal benda dan gagasan tidak bersalah. Keduanya tidak akan melukai, sampai seseorang mempergunakannya sebagai piranti penyerangan.

Barangkali, secara alamiah manusia adalah produsen kambing hitam. Selalu menolak disalahkan begitu saja. Terdorong untuk senantiasa melindungi diri dengan pembelaan-pembelaan supaya lepas dari keterdesakan. Terus mencari sasaran pengalihan untuk berkelit dari sangkaan yang tak dikehendaki. Itu diperbuat demi menghindar dari kehancuran. Egois. Sudah terjadi, bagaimana sebuah barang atau seperangkat gagasan dicerca habis-habisan karena dikira mengancam. Keris dimaki sebab dikhawatirkan memancing syirik. Dupa diumpat dengan alasan menggiring ke kesesatan, ideologi komunisme dipancung akibat dugaan melandasi pembantaian dan agama diserang seraya didakwa sebagai pemicu perseteruan. Bahkan sampai ada yang sempat bikin kutipan sinis “Bila agamamu mengajarkan kebencian, maka kau perlu agama baru”.

Mungkin si penulis memiliki trauma terhadap agama tertentu, setelah membaca kitab suci terjemahan. Tapi, tunggu dulu! Jangan-jangan, dia cupet menafsir. Mengunyah teks mentah-mentah tapi melupakan konteks. Bahkan tanpa merasa perlu untuk mengulik argumentasi sastrawi dari bahasa aslinya. Belum lagi kalau dibentur dengan pertanyaan, “Apakah dia memiliki kapasitas keilmuan memadai untuk menjadi seorang penafsir kitab suci?” Sadar atau tidak, dia sudah tergesa-gesa menarik konklusi oksimoron, “Berantaslah sumber kebencian dengan diam-diam merintis kedengkian baru!”

Konon, belajarlah jadi manusia dulu, baru kemudian beragama dan berideologi. Supaya akal tidak mubazir diciptakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s