Toleransi

Kemelut definisi dan penerapan toleransi, justru muncul setelah orang-orang mengenal istilah “toleransi” dalam kosakata keseharian. Sebelumnya, mereka hanya tahu bahwa menyakiti liyan adalah perbuatan tak terpuji. Suasana multikultur yang sudah berabad-abad berlaku, senantiasa mengajari, bagaimana menjaga kenyamanan hidup bersama dengan tetap memberi sanksi kepada pelanggar permufakatan sosial. Kelompok mayoritas melindungi kelompok minoritas dengan rendah hati. Kelompok minoritas menghargai kelompok mayoritas tanpa kepongahan. Sesederhana itu, sebab memang demikian initisarinya. Frasa-frasa seperti tenggang rasa, tepo seliro dan semacamnya lantas lahir, sebagai pertanda betapa masyarakat ini sudah akrab dengan keberagaman serta penanganan konflik-konfliknya.

Kini, pengartian toleransi kian berbelit-belit dengan teori-teori yang njlimet. Bahkan cenderung meremehkan. Seakan-akan masyarakat ini baru kemarin sore belajar tentang ilmu pergaulan antar manusia. Peristiwa ini, barangkali senapas dengan kejadian lain, saat seorang petani yang telah puluhan tahun mengurus ladang, diajari bagaimana cara macul yang baik dan benar oleh sarjana pertanian baru lulus yang bahkan belum pernah sekalipun bergelut dengan lumpur dan terik matahari paceklik. Miris sekaligus menggelikan.

Sesekali, berkunjunglah ke pelosok nusantara, mampir di kampung-kampung pedalaman, tempat toleransi disebut dengan istilah khas setempat dan tak perlu diurai dalam ceramah-ceramah megah menggunakan teori yang rumit, sebab telah menyatu dengan cara hidup para penghuninya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s