Carlin

George Carlin, komedian nyentrik dan kontroversial yang meninggal tahun 2008 itu, paham cara mengubah kesinisan menjadi tawa menyegarkan. Sebagian besar panggung lawak tunggal yang ia gelar sejak 1960-an, selalu riuh dengan duyunan hadirin. Ungkapan-ungkapan pedas namun jenaka, kerap ia sasarkan pada ranah politik, agama, bahasa dan gaya hidup. Sindirannya tajam dengan kosakata berlimpah. Bahkan, seringkali ia berlaku bak penyanyi rap yang ngoceh sambung-menyambung sewaktu melabrak hal-hal yang dinilainya konyol, tetapi justru dianggap lumrah oleh publik. Ia tak segan untuk menguliti habis-habisan aneka kebodohan yang diwajarkan modernitas. Tentu saja penonton tertawa, karena Carlin menuturkannya dengan tekanan suara dan mimik yang menggelitik. Tapi siapa yang tahu, ketika mereka sampai di rumah masing-masing, sembari merebah di kasur terlintas pikiran, “Ah iya, betapa konyolnya saya dan alangkah berbahaya jika ketololan-ketololan ini terus dipelihara”.

Tinggal tunggu esok, apakah pikiran itu tetap nongkrong dibenak lantas menghasilkan evaluasi cara berpikir serta bersikap, atau kenikmatan tidur telah mengenyahkannya ke ruang-ruang yang susah dijangkau ingatan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s