Marah

Kegeraman yang mencuat di wajah Jangkung tak bisa disembunyikan, persis paku berkarat yang bengkok menyebalkan setelah gagal dibenamkan ke tembok. Sudah bermenit-menit ia memuntahkan kemuakan. Gempal hanya mendengar sambil rebah di lincak bambu. Cuaca sejuk dengan sepoi angin, membuat matanya tergoda untuk dikatupkan. Tapi apa daya, Jangkung telah merusak suasana leyeh-leyehnya. Padahal, lebih baik tidur ketimbang meladeni orang sewot. Apes!

“Kemarahan mereka sama sekali tak beralasan! Harusnya dipikir dulu, dong! Jangan asal naik pitam!” Semprot Jangkung mirip knalpot bobrok.
“Ah, kamu saja yang berlebihan menanggapi” Suara gempal melirih terdengar malas. Batinnya merutuk, ayolah kantuk! Bikin aku tertidur dan meninggalkan obrolan bedebah ini.
“Kau lihat mereka? Buat apa protes untuk hal seremeh itu? Picik!”
“Remeh bagimu. Untuk mereka? Penerimaan orang ndak sama. Lagipula, siapapun bakal tersinggung jika hal yang dicintainya diusik. Kalau pacarmu dilecehkan, apa kamu diam saja?”
“Tapi ini bukan soal pacar! Gemblung kau!”
“Duh! Menangkap perumpamaan saja, kamu gagal”
“Ini perkara kebebasan berpendapat!”
Weh, justru itu. Kalau kamu bebas mengeluarkan pendapat, bahkan mengenai hal yang paling sensitif sekalipun, maka mesti siap menerima konsekuensinya!”
“Klise!” Tukas Jangkung dengan sinis.
Nada suara Gempal menanjak, “Mosok, cuma kamu saja yang boleh berpendapat, sementara orang lain dilarang. Kenapa mesti resah dengan protes mereka? Katanya demokratis?”

Sejenak Gempal menghela napas, lalu melanjutkan, “Bebas itu beresiko, Bung! Uaaabot! Jangan cengeng kalau memang menginginkan itu! Kalau aku sih ndak siap. Wong sekarang ini saja aku kerepotan mempergunakan kebebasan berpendapatku untuk mengusirmu supaya bisa tidur, kok!”

Hening. Gempal yang hendak membalik tubuh untuk memunggungi Jangkung membatalkan niatnya saat melihat kawannya itu jatuh murung. Gempal bangkit.
“Harus dibedakan antara marah dan amarah. Mereka sedang melancarkan yang mana? Selisih satu huruf bisa mengubah makna, lho!”
“Sama saja. Keduanya bibit bencana”
Gempal menyeringai,”Yang bikin rusak itu amarah. Marah adalah ekspresi alamiah untuk mengingatkan ketimpangan. Jika marah saja ndak boleh, lalu bagaimana sesuatu bisa dikoreksi?!
“Logika ngawur! Tak perlu sok bijak, lah”

Sembari kembali terlentang, Gempal menimpali, “Setidaknya kamu sendiri sedang melakukan apa yang kukatakan tadi. Marah untuk mengoreksi orang-orang yang marah!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s