Benci

Setiap orang sadar, bahwa selalu ada seseorang di luar sana yang menyimpan ketidaksukaan padanya. Dengan berbagai musabab dan alasan. Karena kebencian itu alamiah. Semua manusia memiliki itu. Tentu saja dengan kadar yang berbeda-beda. Sepanjang tidak digunakan untuk melukai diri sendiri dan liyan, kebencian merupakan rasa yang lumayan jinak.

Namun, kemakluman ini bakal berubah seketika, begitu orang tersebut diberitahu mengenai siapa saja yang membencinya. Pertama kali, barangkali canggung. Tak nyaman. Mungkin ditambah geram dan geregetan. Selanjutnya, pilihan sikap diambil. Entah itu dengan mengabaikan begitu saja, tetap memaklumi seraya memaafkan si pembenci atau balas mendengki. Apabila dia memungut yang terakhir, maka kebencian bakal berlipat ganda. Peluang ini akan selalu terbuka. Satu kebencian bersambut dengan kebencian lain. Kemudian muncullah bola salju kebencian yang menggelinding liar. Memangsa apapun yang dilalui, tumbuh meraksasa, lantas menjelma dendam.

Jika begini, siapa yang sebenarnya paling jahat? Pembenci yang diam atau seseorang yang dengan heroik mengabarkan, “Hei, berhati-hatilah dengan orang itu. Aku ingatkan! Dia pernah bilang padaku, kalau sangat membencimu!”?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s