Aksara

Kemudian dia meneruskan kalimatnya, masih dengan suara berat yang menggetarkan telinga, “Kau lihat, bukankah aksara-aksara yang meloncat dari pikiranmu itu tidak diam? Setelah disemburkan lisan atau dituliskan, mereka bertebaran di udara, melekat dengan nasib, menyiapkan balasan yang serba tiba-tiba. Setiap kata adalah sebab sekaligus anasir akibat. Kau cuma perlu mengelolanya supaya tak liar lantas jadi bumerang. Sepanjang masih berbentuk gagasan di benak, kata-kata bakal baik-baik saja. Mereka hanya akan mengusikmu seorang. Tapi setelah terutarakan? Tinggal pilih, apakah kata-kata itu akan menjelma mimpi buruk tak berkesudahan atau menjadi selimut pelindungmu dari cengkeraman dingin pada musim penghujan yang ganas”

Tidak ada yang menimpali. Lidah orang-orang yang berkumpul di sana serasa kelu, layaknya tergulung menyumbat mulut, melumpuhkan setiap keinginan untuk bicara. Sementara malam kian beranjak mencekam. Bahkan kawanan serangga pun gentar untuk menderikkan bebunyian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s