Surat

Penggal pamungkas surat dari kekasihnya yang meninggal beberapa hari lalu di negeri seberang, membuat mata si gadis kian sembab.

“Sungguh nikmat menanggapi penderitaan orang lain dari jarak yang jauh. Mengulas topik kesengsaraan liyan di meja makan, sambil mengerkah daging empuk dan meneguk minuman menyegarkan. Betapa enak memberi nasehat-nasehat luhur mengenai bencana yang terjadi di luar sana, sembari berlindung dibalik selimut hangat beralaskan kasur kering yang wangi. Tidakkah ini miris, kekasihku? Orang hanya akan bijak bersuara, selama masalah-masalah yang dikomentari itu tidak menimpanya”

Napas gadis itu mendadak sesak. Padahal, masih tersisa beberapa larik kalimat yang belum dibaca. Ia ambruk ke lantai sembari meraung-raungkan nama kekasihnya. Pilu dan sesal campur baur. Batinnya perih, digempur rasa bersalah bertubi-tubi. Genggaman tangannya menguat, meremas surat. Percik-percik keringat dan air mata membasahi kertas, melumerkan tinta hitam pada huruf-huruf tulisan tangan kekasihnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s