Penjara

Tiba-tiba, tubuhnya tergeragap dibarengi erangan panik dan suara gemeretak akibat goyangan ranjang. Napasnya tersengal, jantung berdegub tak karuan. Keringat dingin yang merembes dari kulit wajah, telah benar-benar membasahi separuh kepalanya. Takut dan resah berkelebatan di benak. Jangkung berusaha menenangkan diri dengan duduk di tepi pembaringan. Sinar bulan yang menerebos dari celah bagian atas dinding, masih belum cukup terang untuk membantunya melihat sekeliling. Gelap dan senyap meraja. Entah sudah pukul berapa. Tentu saja tak ada jam dinding di kamar berjeruji yang pengap dan berlumut itu. Jangkung terus menepis sisa-sisa mimpi buruk yang baru saja dialaminya. Ini kali ketiga ia terjaga mendadak di tengah malam, setelah tiga hari mendekam dalam bui.

“Ndak perlu risau. Yang kamu alami itu hal biasa” Sejurus bisikan datang dari arah berlawanan. Jangkung terkejut. Rupanya, Gempal, kawan satu selnya juga terbangun. “Anggap saja sebagai ujian pertama sebelum akrab dengan dinginnya lantai penjara” Lanjutnya.
“Begitukah?” Balas Jangkung dengan suara tak kalah lirih. Sorot matanya menajam, mencoba menangkap raut wajah Gempal yang masih berbaring. Tapi upaya itu gagal. Kepekatan ruangan tak bisa ditembus penglihatannya.
“Aku dulu mengalaminya selama hampir dua minggu berturut-turut”
“Gila! Bisa tahan?”
Gempal menyeringai, “Mau ndak mau, kan? Memangnya kita punya pilihan untuk bisa tidur nyenyak seperti di rumah?”

Jangkung menghela napas seraya kembali merebah. Lalu, rasa linu menjalari punggungnya. Kasur tipis berbau apak yang menjadi alas tidurnya, seakan-akan tak mampu lagi bertahan sebagai pembatas antara tubuhnya dengan palang-palang besi penyangga ranjang. Mengesalkan! Jangkung ingin memaki dan menjeritkan kenahasan nasibnya, tapi jika itu ia lakukan, keadaan pasti akan lebih buruk.

“Di sini, hal yang paling mengancam adalah rasa kesepian” Suara Gempal kembali terdengar. “Itu rasa yang sangat berbahaya. Mimpi buruk hanyalah salah satu imbasnya saja. Selebihnya masih banyak. Ketakutan, putus asa, keberingasan tanpa alasan dan semacamnya. Orang bahkan bisa nekad bunuh diri karena gagal menaklukkannya. Barangkali, itulah kenapa orang-orang di zaman dulu mencetuskan penjara sebagai alat penghukum. Tubuh kita memang tidak disiksa secara langsung. Hanya dikurung! Tapi jiwa kita dibunuh pelan-pelan oleh kesepian kita sendiri”

Diam-diam, Jangkung setuju dengan pernyataan Gempal. Hanya saja ia heran, siapa sebenarnya orang itu? Kalimat-kalimat tadi tidak mungkin keluar dari mulut bromocorah kelas jalanan. Gempal pasti bukan orang sembarangan. Meski penasaran, Jangkung menahan diri untuk tidak bertanya. Sebab yang ia perlukan saat ini adalah tidur nyenyak tanpa dihantui mimpi buruk lagi. Ah, dia rindu rumah dan kamar hangatnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s