Sidang

Riuh rendah hadirin yang mencemooh pernyataan terdakwa berangsur-angsur reda setelah hakim memberi peringatan dengan mengetukkan palunya berkali-kali, “Tenang! Mohon tenang!”. Tapi himbauan itu tidak digubris dua lelaki berpakaian perlente di baris tengah pengunjung sidang. Mereka menolak duduk, tetap berdiri dengan rona penuh kesumat. Gumam kegeraman sayup-sayup keluar dari mulut mereka. “Kucing kurap! Seharusnya mulutnya disumpal serbet supaya tak banyak omong”, maki salah satunya. “Ndak ada maling yang mengaku maling! Kopet!”, sambung yang lain.

Di depan, hakim nampak risau. Persidangan yang sudah berjalan hampir dua jam itu, telah memeras tenaga dan pikirannya. Di usia senja, ia merasa tak betah lagi berlama-lama duduk di kursi yang telah ditempatinya hampir seperempatabad itu. Ia berkali-kali bergerak menggeser letak — mirip orang yang ditimpa keresahan parah — sekadar berusaha menghilangkan penat dan jenuh. Selintas, terbayang pesan isterinya agar ia menjaga kebugaran, supaya encok menjauh dan penyakit jantungnya tidak terulang kumat.

“Saudara terdakwa! Saya minta saudara tidak berbelit-belit” Ujar hakim setelah membenahi letak kacamata bacanya yang melorot.
“Yang mulia…” Terdakwa menanggapi dengan sikap yang terkesan cemas. “Sejak awal, saya tak menolak bila dihukum. Tapi bagaimana dengan mereka? Orang-orang itu merampok saya lebih dulu! Mereka memberi patok pada lahan yang jelas-jelas milik saya, merebutnya dengan semena-mena dan mengancam saya bila melawan. Saya marah, kemudian mendobrak rumah mereka untuk mengancam balik, tanpa mengambil apa-apa. Tidakkah keterangan saya ini terang-benderang?” Seketika terdakwa bangkit, membalik badan, lantas mengarahkan telunjuknya pada dua orang perlente yang berdiri di tengah pengunjung sidang. “Kapan mereka diseret ke tempat saya berdiri saat ini?”

Gemuruh cibiran kembali terdengar. Dengungannya persis bunyi rombongan lebah yang kesal akibat sarangnya diusik. Palu sidang dipukulkan lagi. Kali ini lebih keras, hingga membuat beberapa pengunjung tersentak.
“Duduk!” Hardik hakim kepada terdakwa yang kontan menurut. “Saat ini kasus saudara yang sedang disidangkan, bukan perkara orang lain. Saudara hanya ingin memancing kegaduhan!”
“Saya cuma mengemukakan jawaban atas pertanyaan Yang Mulia tadi”
“Tak ada saksi yang mendukung pengakuan saudara”
“Harap Yang Mulia renungkan, siapa yang berani menjadi saksi jika nasib mereka terancam seperti halnya saya? Kalau para perampas itu bisa leluasa menyulap surat-surat tanah demi merampok hak milik kami, bukan hal sulit bagi mereka untuk menekan kami sedemikian rupa”
“Jangan menyebarkan teori-teori konspirasi hanya karena saudara sedang terdesak”
“Saya sudah mengira ini sebelumnya. Narasi-narasi yang bertentangan dengan maksud penguasa bakal dianggap teori konspirasi”

Hakim menghela napas dalam-dalam, “Karena cerita saudara tadi, tidak ada di berkas yang saya dapat”.
“Entahlah Yang Mulia. Saya tidak tahu kenapa bisa begitu. Padahal semua sudah saya ungkapkan. Barangkali, sepanjang keadilan hanya didasarkan pada catatan-catatan kertas yang tidak mustahil untuk direkaulang, selama itu pula orang-orang seperti saya akan terpojok dan dianggap pembual”.

Agaknya, keletihan sudah tak mampu ditahan Hakim. Pandangannya mulai kabur, tubuh terasa lemas, pikirannya bimbang. Ia terjebak dalam gemuruh batin yang silang sengkarut. Keputusan apa yang sebaiknya diambil? Sekilas, diliriknya dua lelaki perlente yang ternyata tengah menatap dirinya. Sungguh melelahkan! Ingin rasanya ia kembali menggenggam palu, lalu memukulkannya ke meja, seraya meneriakkan,”Persidangan ditunda!”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s