Polos

Menghadapi kepolosan kerapkali membingungkan. Ini sering berlaku pada orang-orang tua — termasuk saya — saat bersinggungan dengan tingkah anak kecil, apalagi yang berusia kurang dari tujuh tahun. Tempo hari, saya menyaksikan adegan lumrah yang kemudian saya sadari keunikannya.

Empat bocah tengah asyik kejar-kejaran di teras surau, ketika seorang lelaki tua tergopoh-gopoh menghampiri seraya menyerukan hardikan, “Jangan ribut!”. Sajadah yang sebelumnya melingkar di leher, lantas disabetkannya ke lantai hingga menghasilkan bunyi lecutan yang kencang. “Kalian mengganggu orang ibadah!”, Sentaknya sambil berkacak pinggang. Keceriaan anak-anak itu kontan surut. Wajah-wajah lugu mereka seketika berubah suram. Lebih-lebih setelah diterjang tatapan nyalang si lelaki. Perlahan-lahan, mereka beringsut pergi meninggalkan surau, mungkin sambil membatin “Kami cuma ingin bermain, kenapa dimarahi?”. Namun, sesampai di halaman, mereka kembali saling kejar diiringi tawa yang bahkan lebih kencang dibanding sebelumnya. Melihat itu, lelaki penghardik menghela napas seraya geleng-geleng kepala. Mungkin ia geram karena dipecundangi. Atau merasa tolol sendiri sebab peringatannya dianggap angin lalu.

Pikiran anak-anak acap misterius. Seakan-akan, mereka punya dunia sendiri yang tidak gampang dipahami orang dewasa. Betapa salah tingkahnya orang tua, ketika melihat anak menangis lantaran menginginkan sesuatu. Lebih merepotkan lagi apabila rengekan itu tidak berhenti sampai tuntutannya dikabulkan. “Aku meminta sesuatu, maka harus mendapatkan, karena aku menginginkannya. Titik!”, kira-kira semacam itulah katahati mereka. Tak memerlukan alasan yang rumit. Lalu orang tua berusaha memberi pertimbangan panjang-lebar melalui bahasa yang dibuat seramping mungkin. Tapi bisakah anak-anak lekas mengerti? Tidak semudah itu. Pada tahap inilah orang tua kelimpungan memilih sikap untuk menghadapi kepolosan anak. Ditanggapi dengan kemarahan akan terkesan konyol, dibiarkan begitu saja malah menambah dongkol, dituruti sekalipun bukan pilihan yang mudah dilakukan. “Oh, tunggu dulu! Nanti dia jadi manja, tambah ini, cenderung itu, bakal anu…”, kilahnya. Kompleks.

Maka saya kagum kepada orang tua yang telaten mengasuh anaknya tanpa pernah mengeluarkan seruan seram atau entakan fisik. Sebab menangani kepolosan memang bukan perkara remeh. Kata ungkapan Jawa, harus “dowo ususe”. Mesti kuat menahan diri dalam mengiringi perkembangan si anak. Dan itu berat. Saya pun belum tentu sanggup untuk setia melakukannya.

Kelak, anak-anak itu beranjak dewasa dan mengalami persoalan yang sama sewaktu menghadapi kepolosan keturunan mereka. Hingga pada suatu malam yang melelahkan, sembari menatap wajah-wajah lugu putra-putrinya yang tidur, mereka bergumam, “Kepolosan membuat hidup anak-anak ini menjadi indah. Kitalah yang gagal memahami, sehingga sering memaksakan cara berpikir kita yang ruwet kepada mereka. Lalu, saat kesabaran habis, kita melabeli mereka dengan sebutan nakal”.

Di alam mimpi, anak-anak itu bertanya, “Tuhan, kenapa orang-orang dewasa itu terlihat menderita saat menghadapi kami yang hanya ingin bahagia dengan bermain? Seperti yang terjadi pada seseorang di surau sore tadi. Apakah dia mengira keceriaan kami sangat menganggu usahanya meraih surgaMu? Tuhan, sedemikian egoiskah menjadi orang dewasa itu?”

Advertisements

One thought on “Polos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s