Menyelamatkan

Gadis kecil itu terus berlari ke arah luar kawasan kebun binatang. Sedu sedannya bersatu dengan dengus napas yang menderu tak teratur. Di belakang, bapaknya kewalahan menyusul sambil sesekali memanggil. Puluhan mata pengunjung lain memperhatikan peristiwa kejar-mengejar itu dengan terheran-heran. Beberapa diantara mereka saling bergumam, mungkin menggunjingkan musabab kejadian. Selepas gerbang terdepan Gadis kecil berhenti. Ia berbalik dan menyongsong bapaknya yang gontai kepayahan. Mereka lantas berpelukan.

“Aku tidak sampai hati melihat mereka, Pak” Keluh Gadis kecil itu lirih.
“Bapak tahu, Nak. Bapak tahu…” Bisik sang bapak sembari melepas rengkuhan agar bersehadap, seraya mengusap lelehan air mata di pipi anaknya itu, setelah isakannya berhenti. “Maafkan bapak, ya. Besok lagi kita tidak perlu piknik ke sini”. Si Gadis mengangguk. Lalu keduanya bergandengan menuju kendaraan di lapangan parkir.

“Kenapa hewan-hewan itu dikumpulkan di sana, Pak? Bukankah rumah mereka di hutan?” Pertanyaan si Gadis disambut oleh senyum bapaknya.
“Kita harus melindungi mereka dari kepunahan. Merawat alam. Seperti tulisan itu…” Ayahnya menunjuk ke sebuah spanduk “Selamatkan Bumi”, yang membentang pada salah satu penjuru. Bibir Gadis kecil bergerak-gerak membaca tulisan yang dimaksud. “Lagipula hutan-hutan tempat mereka bersarang telah ditebangi, berganti hunian serta ladang-ladang”.

Namun rasa keingintahuan anak itu belum tuntas. “Jadi, kalau hutannya tak ditebangi manusia, hewan-hewan itu akan baik-baik saja?”
“Tentu, Nak. Mereka pun tidak akan menghuni kebun binatang sebab masih memiliki rumah”.
“Dan setelah tidak punya rumah lagi, kini mereka dikurung di kebun binatang. Supaya bisa menjadi tempat piknik manusia? Tega sekali, Pak!”. Tiba-tiba Gadis kecil menghentikan langkah. “Berarti, kita harus menyelematkan bumi dari siapa? Manusia? Dari kerusakan yang kita buat sendiri?”.

Ayahnya terpana. Ia jongkok dan menatap sorot bening putrinya. Deretan kata-kata yang berkelebatan di benaknya, tak sanggup diutarakan. Ia bingung, harus menggunakan susunan kalimat yang bagaimana untuk menjawab pertanyaan bocah berusia 10 tahun itu. Akhirnya ia memilih cara terpintas, sekadar meredam gejolak penasaran anak gadisnya. “Nak, kita harus segera ke mobil”, ajaknya lembut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s