Nikmat

Diam-diam, tetangga saya menjadi pecandu penderitaan. Ini sebutan saya saja, sebab kalau ditanya langsung, dia bakal tidak terima dijuluki demikian. Pada malam-malam tertentu ketika saya di rumah, dia datang dan langsung menodongkan pertanyaan, “Ada kabar politik terbaru apa, Mas?” Mau tak mau, saya lantas bercerita, sejauh yang saya mudeng. Setiap kali mendengar sesuatu yang menurutnya keliru dan timpang, dia langsung misuh, “Byajingaaaan! Ngawur itu!”, sambil diikuti opini berbual-bual, meledak-ledak, seringkali terasa lugu dan lucu.

Walau begitu, dia tidak mau menghentikan hasratnya untuk menenggak berita politik. Meski suatu waktu, dia pernah mengeluh, “Wis, Mas. Aku ndak nggagas lagi soal pulitik-pulitikan. Sakit kepala! Menyakitkan! Ndobos kabeh!”, tapi ternyata itu hanya tobat sambal belaka. Sebab di malam-malam setelahnya, dia tetap datang hanya untuk memungkasi berita yang saya tuturkan dengan pekikan, “Miyunyuk! Jyancuk! Wuassyu!”. Tak terasa, kegiatan tidak jelas itu sudah berlangsung kurang lebih lima tahun.

Peristiwa tersebut barangkali bermuatan sama dengan orang-orang yang membenci berita-berita penyulut amarah yang kerap beredar di media sosial internet, namun tetap rutin mengudapnya sembari senam pitam. Begitulah penderitaan yang diam-diam dicandu, tapi pelakunya menolak jika dikatakan menderita. Nikmat-nikmat keparat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s