Gatal

Tidak lama setelah palang pintu kereta api terangkat, kendaraan dari dua arah berlawanan, kontan berhamburan. Persis kawanan tawon yang bubar saat sarangnya diusik bocah-bocah iseng. Tak karuan. Masing-masing mencari jalan. Saling rangsek dan salip. Bermuslihat sedemikian rupa, berlomba keluar dari kesemrawutan. Ajaibnya, tak ada kecelakaan berarti. Kalaupun terjadi, itu hanya gesekan ataupun senggolan yang bisa diselesaikan dengan teriakan, “Maaf! Ndak sengaja”, tanpa perlu si pengemudi turun dari kendaraannya. Luar biasa!

Peristiwa seperti ini sudah terjadi puluhan tahun. Orang-orang seakan telah terbiasa dengan kesilangsengkarutan, bahkan cenderung memakluminya. Tak ada protes besar, apalagi sampai bergulir menjadi gerakan massa yang geram menuntut keteraturan, yang menandakan mereka sangat terganggu atau menderita dengan keadaan itu.

Andai terdapat rutukan, itu pun hanya sekilas. Sebab esoknya, dia akan mengulangi keluhan, sambil sesekali menggumamkan doa yang berbobot tak serius-serius amat, berharap muncul keajaiban yang mampu mengubah kebrengsekan tersebut dalam sekejap. Barangkali, jika harapan itu terkabul sekalipun, dia hanya akan kaget sejenak, “Lho, kok berubah sih?”, dengan ekspresi yang datar sembari melintas, kemudian melupakannya seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa.

Bisa jadi, penderitaan yang berulang-ulang teralami, bakal menerbitkan sensasi menyenangkan. Seperti rasa gatal pada tubuh. Kian digaruk semakin nikmat. Kulit lecet dan rasa perih yang mendera? Abaikan saja!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s